Tag

, ,

Pengajian Fajar Ramadhan
Di Masjid Menara Kudus
Bersama Romo KH. M. Sy’roni Ahmadi
Senin, 13 Juni 2016

Ujian Nabi Ibrahim

Surat Al-Baqarah : 124

Ibrahim adalah Nabi yang banyak diuji oleh Allah selama kepemimpinannya sebagai seorang Nabi dan Rasul. Salah satunya adalah dibakar oleh Namrud. Prosesi pembakaran ini melibatkan masyarakat banyak. Masyarakat diminta untuk mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Setelah prosesi pembakaran siap dilaksanakan, kemudian Namrud mencari tempat yang tinggi untuk menyaksikan keadaan Nabi Ibrahim dari ketinggian.

Apa yang dilihat di tengah api yang berkobar itu. Namrud menyaksikan Nabi Ibrahim di tengah kobaran api tidak sendirian. Nabi Ibrahim bersama seorang temannya. Keduanya tidak terbakar meskipun berada di tengah kobaran api.

Temannya tadi bertanya kepada Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim kok kamu tidak terbakar. Kalau begitu kamu teman saya,” kata orang tadi mengejutkan Nabi Ibrahim. “Lho, kamu siapa,” tanya Ibrahim penasaran. Kemudian orang tadi menjawab, “Saya Jibril”

Nabi Ibrahim tidak terbakar meskipun dibakar di tengah kobaran api yang sangat besar. Ketika Raja Namrud memerintahkan rakyat untuk menyaksikan Nabi Ibrahim dibakar, kemudian Allah berfirman, “Hai api, kamu sebagai api, tapi api yang dingin, yang bisa menyelamatkan Nabi Ibrahim. Bukan api yang membakar.

Jadi, Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrud di tengah-tengah kobaran api yang sangat besar. Nabi Ibrahim terbakar. Badannya juga terkena api, namun api tersebut tidak membakar seperti halnya kebiasaan sifat api yang membakar sesuatu. Melalui perintah Allah kemudian api tesebut jinak dan berubah menjadi dingin.

Dalam kondisi seperti itu, Nabi Ibrahim kemudian berkata kepada Namrud sembari menyindirnya. “Saya belum pernah merasakan enaknya di tengah apinya Namrud, seenak saat ini”

Dengan demikian bisa diambil kesimpulan bahwa, api bisa membakar jika dikehendaki Allah. Ketika Allah tidak menghendaki membakar, maka api tidak bisa membakar. Sifat api yang membakar itu kemudian lenyapp dan berubah menjadi dingin. Itu karena Allah memerintahkan api agar sifatnya menjadi dingin. Buktinya, api yang dinyalakan Raja Namrud tidak mampu membakar badannya Nabi Ibrahim.

Ujian Nabi Ibrahim tidak hanya itu. Ia juga diuji agar menyembelih putranya, Ismail.  Ujian ini diberikan kepada Nabi Ibrahim, karena sudah telanjur janji. Ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri, jika Allah memerintahkan saya untuk menyembelih anak saya, maka saya akan sembelih.

Janji Nabi Ibrahim diawali dari ketika ia menyembelih kurban. Kurban yang disembelih jumlahnya tidak sedikit. Yaitu 1000 ekor kambing, 300 sapi dan 100 ekor onta. Semuanya ditanggung sendiri tanpa bantuan dan partisipasi orang lain. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim membuat semua orang kagum. Bangga sekaligus memuji Nabi Ibrahim. Begitu banyak ia menyembelih kurban. Belum pernah ada orang melakukan seperti apa yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Mendengar pujian seperti itu, kemudian Nabi Ibrahim berujar, “jangankan kambing, sapi, onta pemberian Allah berupa hewan, andai saya diberi anak dan diperintahkan menyembelih, maka akan saya sembelih,” ujar Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim adalah seorang pemimpin besar. Memiliki pangkat yang tinggi. Ia seorang Nabi yang memiliki banyak pengikut. Ujian yang diberikan kepadanya sebanding dengan kapasitasnya. Berbeda jika orang biasa yang tidak menjadi pimpinan. Maka ujian yang diberikan Allah tidak sebesar yang diberikan Nabi Ibrahim.

Karena sudah janji, maka Nabi Ibrahim wajib melaksanakannya. Ujian Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya adalah untuk menunjukkan belas kasihannya kepada Nabi Ibrahim. Apakah benar-benar ia berani menyembelih anaknya Ismail atau tidak.

Ini perlu dibuktikan. Jika benar-benar berani menyembelih anaknya, maka hal itu menunjukkan cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada anak. Begitu juga sebaliknya, jika tidak jadi menyembelih Nabi Ismail berarti membuktikan cintanya kepada anak mengalahkan cintanya kepada Allah.

Faktanya, Nabi Ibrahim akhirnya menyembelih Nabi Ismail. Hal inilah yang menyebabkan belas kasihan Allah dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim. Cintanya kepada Allah melebihi cintanya kepada anak.

Selain ujian untuk menyembelih anaknya, Nabi Ibrahim juga diuji untuk dikhitan. Usia Nabi Ibrahim saat itu sudah mencapai 80 tahun. Sudah beristri. Namun diperintahkan Allah untuk dikhitan.

Tanpa pikir panjang, perintah ini seketika hendak dilaksanakan. Dengan menggunakan alat berupa “kapak”, bahasa orang jawa “wadung”, yaitu alat pemotong pohon yang besar. Nabi Ibrahim akan memotong sendiri menggunakan alat seadanya itu. Namun istrinya mencoba menasehati agar tidak buru-buru dan dipersiapkan alat yang terbaik.

Apa jawabnya Nabi Ibrahim, “Tidak. Saya tidak akan menunda-nundanya. Jika saya tunda-tunda maka saya termasuk orang yang tidak berbakti dan tidak taat terhadap perintah Allah,” jawab Nabi Ibrahim menandaskan. Disebutkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah Nabi yang taat dan patuh”. Ujian agar khitan diusia 80 tahun adalah ujian yang sangat besar dan tidak semua orang mampu menjalankannya.

Allah menyampaikan kepada Nabi Ibrahim, setelah ujian itu berhasil dilalui, kamu saya angkat menjadi imam, pemimpin masyarakat. Ketika nabi diangkat sebagai pemimpin di usia 200 tahun, kemudian ia berfikir, siapa yang kelak menggantikan ketika saya sudah meninggal.

Kemudian Nabi Ibrahim meminta kepada Allah, “apakah termasuk keturunan saya nanti yang diangkat jadi pemimpin. Jangan hanya saya saja yang diangkat jadi pemimpin, tapi juga keturuanan saya supaya dapat dilanjutkan perjuangannya,” pinta Nabi Ibrahim kepada Allah.

Keturunan Nabi Ibrahim tidak semuanya baik. Ada juga yang tidak baik. Permintaan yang strategis kemudian Allah jawab dengan jawaban yang strategis. Kemudian Allah menjawab dengan jawaban, “Kalau demikian, Aku (Allah) akan memenuhi janji mengangkat pemimpin dari keturunanmu yang baik bukan dari mereka yang berlaku dzalim”.

Oleh karena itu jika berdoa kepada Allah sebaiknya tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain, seperti untuk anak cucu keturunannya, untuk bapak dan ibunya juga untuk kaum muslimin dan muslimat semuanya. Wallahu a’lam.

Ditranskrip oleh Noor Aflah (13/6/2016)
Tidak Utuh dari Awal Karena Telat (

Iklan