Tag

, , ,

Hari Ketujuh : Derajatnya Seperti Nabi Musa Atas Kemenangan Fir’aun

#7Ramadhan1437H

Kisah tentang Nabi Musa sangat banyak disebutkan di dalam Al-Quran. Setidaknya ada 4 surat yang menyebutkan tentang kisah Nabi penerima Kitab Taurat itu.

Dulu ketika saya masih kecil kisah tentang Nabi Musa digambarkan dalam cerita komik yang menarik. Mudah diingat. Melekat dan singkat. Model pembelajaran kisah-kisah mengandung hikmah itu kini sudah hilang ditelan zaman.

Berbicara tentang kisah Nabi Musa, tentunya sangat panjang. Namun agar lebih mudah diingat di sini dikisahkan secara singkatnya saja. Nabi Musa dilahirkan di masa kerajaan Fir’aun yang dzalim dan kejam. Ia mengeluarkan peraturan apabila ada bayi lahir laki-laki harus dibunuh, dan apabila lahir bayi perempuan maka dibiarkan hidup.

Di saat Nabi Musa lahir, ibunya Yukabad takut sekali. Ia khawatir anak yang baru dilahirkan itu dibunuh juga oleh Fir’aun. Rasa gundah dan khawatir yang menyelimuti hati ibunya Nabi Musa, kemudian dijawab Allah diturunkannya ilham kepadanya. Ia diperintahkan untuk meletakkan bayi itu ke dalam peti kemudian dihanyutkan ke Sungai Nil.

Singkat cerita, peti yang berisi bayi itu kemudian ditemukan istri Fir’aun yang bernama Asiyah. Ia meminta kepada suaminya agar bayi itu tidak dibunuh, tetapi dijadikan anak angkatnya.

Setelah ia dewasa, ia tidak senang melihat kekuasaan Fir’aun yang sewenang-wenang. Bahkan kesewenang-wenang Fir’aun hingga melebihi batas. Ia menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kondisi inilah yang kemudian Allah mengangkat Nabi Musa sebagai Nabi dan Rasul. Ia diberi Kitab Taurat sebagai pegangan dalam berdakwahnya.

Bukan hanya itu, Nabi Musa sebagai seorang Rasul diberi mukjizat. Mukjizat itu berupa ; tongkatnya dapat berubah menjadi ulang yang besar, tongkatnya dapat mengeringkan lautan bila dipukulkan, tongkatnya dapat memancarkan air dari batu bila dipukulkan, tongkatnya dapat menghidupkan orang yang sudah mati.

Inilah yang membuat pengikut Nabi Musa, semakin banyak. Kondisi ini membuat Raja Fir’aun semakin khawatir. Kemudian Fir’aun memerintahkan bala tentaranya untuk mengusir Nabi Musa. Ia dikejar-kejar hingga ke tepi laut merah. Dalam kondisi terdesak seperti itu Nabi Musa kemudian memukulkan tongkatnya ke laut dan menjadi kering. Sementara pengikut Raja Fir’aun berada di belakangnya.

Nabi Musa lalu memukulkan kembali tongkatnya maka tanah tersebut menjadi lautan lagi. Semua pasukan Fir’aun dan Fir’aun sendiri tergulung laut dan mati semuanya.

Setelah meninggalnya Raja Fir’aun, Nabi Musa menetap di Palestina. Di sini ia terus berjuang menyebarkan agama Islam. Masih banyak perjuangan-perjuangan yang dilalui Nabi Musa dalam menyebarluaskan Islam pada masanya. Hingga ia harus belajar banyak ilmu dengan Nabi Khidir. Tujuannya agar ia tidak lupa diri, sombong dan mengaku dirinya paling pintar.

Perjuangan Nabi Musa demikian berat. Ia tidak hanya berhadapan dengan Raja Fir’aun yang dzalim, melainkan ia juga harus menghadapi keragu-raguan umatnya dalam mengemban misi dakwahnya.

Atas semua perjuangan yang dilakukan Nabi Musa itu, Allah memberikan pahala dan derajat kemulian yang sangat tinggi. Pahala kesabaran, pahala dakwah, dan pahala menegakkan agama Islam. Sungguh berlipat ganda pahala dan derajat yang diberikan Allah kepada Nabi Musa.

Jika kita mau menghidupkan malam ketujuh Ramadhan, maka Allah akan meninggikan derajat orang tersebut sama seperti derajatnya Nabi Musa. Kemenangan yang diraih Nabi Musa atas Fir’aun kedudukannya sama seperti keutamaan yang diraih orang yang menghidupkan malam ketujuh Ramadhan.

Akankah kita menyia-nyiakan kesempatan yang mulia itu. Semoga tidak.

Iklan