Tag

, ,

Hari Keenam : Pahalanya Sebanding dengan Thawaf

Oleh : Noor Aflah, MA.

#6Ramadhan1437H

Tulisan hari kelima kemarin membahas tentang keutamaan shalat di Masjidil Haram. Pada tulisan hari keenam ini juga masih terkait dengan ibadah di Masjidil Haram, yaitu thawaf.

Setiap orang yang berhaji atau umrah, diwajibkan untuk melaksanakan ibadah thawaf, karena ia merupakan rukun dari ibadah tersebut yang harus ia jalani.

Thawaf adalah berputar mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Apa makna, filosofi dan hikmah dari ibadah thawaf itu sendiri. Dalam hal ini, banyak para ulama dan analis mencoba mencari tahu apa rahasia di balik ibadah yang “terkesan” hanya berputar-putar saja itu.

Putaran yang dilakukan orang yang berthawaf, akan membentuk sudut 360 derajat. Hal ini ternyata sama seperti berputarnya seluruh alam dan seluruh planet-planet lain di angkasa raya. Mereka dalam porosnya masing-masing berputar dalam lingkaran galaksi. Berputarnya seluruh alam itu berlawanan dengan arah jarum jam. Jika jarum jam ke arah kanan, maka thawaf berputar ke arah kiri.

Berputarnya seluruh alam dan panet-planet telah diatur sedemikian rupa oleh Allah dengan putaran yang seimbang. Yang irama putarannya sesuai perannya masing-masing. Bisa kita bayangkan, akan seperti apa jika bumi, planet dan seluruh alam raya itu berputar dengan acak bahkan berhenti berputar. Bisa jadi akan terjadi goncangan dan ketidakstabilan dalam alam raya ini.

Begitu juga dengan thawaf. Thawaf merupakan kebutuhan diri kita, kebutuhan rohani kita dan kebutuhan alam raya. Karena dengan melaksanakan thawaf berarti kita sedang melakukan keseimbangan untuk jiwa, raga, kehidupan kita dan juga bagi alam raya.

Thawaf dilakukan dengan berputar, sementara ka’bah ada di sebelah kiri kita, bukan di sebelah kanan. Ini menunjukkan adanya kesamaan arah putaran bumi, galaksi dan tata surya. Irama yang sama ini memiliki energy tersendiri. Inilah yang menurut para analis, dapat menyebabkan tidak cepat lelahnya orang yang berthawaf, karena seirama dengan arah putaran bumi.

Oleh karena itu, bagi orang yang olah raga mengelilingi lapangan pastilah searah dengan putaran orang berthawaf, meskipun ia tidak meniru orang yang berthawaf. Hal ini juga sama seperti berputarnya baling-baling helicopter sehingga ia bisa mengangkat badan pesawat ke atas.

Ini sesuai dengan sebuah keterangan ulama, bahwa orang yang berthawaf pahalanya diangkat seperti malaikat yang berthawaf mengelilingi ‘Arsy dan kursin-Nya Allah di atas langit.

Sedangkan menurut keterangan ulama lainnya, putaran thawaf yang berlawanan dengan arah jarum jam mengandung hikmah menapaki dan merenungkan waktu yang telah dilaluinya. Apakah waktu yang telah kita lewati diisi dengan hal positif atau negative? Pertanyaan ini sekaligus sebagai penegasan dari Allah yang terdapat dalam Surat Al Hasyr : 18, “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”

Itulah gambaran hikmah dari ibadah thawaf. Bukan hanya itu, bagi orang yang thawaf akan dijanjikan pahala oleh Allah. Salah satunya adalah pahalanya sama seperti memerdekakan hamba sahaya (budak). “Siapa yang thawaf di Baitullah dan mengerjakan shalat dua rakaat, pahalanya seperti memerdekaan seorang budak” (HR. Ibu Majah).

Dalam hadits lainnya disebutkan, “Thawaf di ka’bah sama seperti ibadah shalat. Namun Allah masih membolehkan berbicara saat itu. Siapa yang berbicara ketika thawaf, maka janganlah ia berkata selain perkataan yang benar” (HR. Al-Hakim).

Bagi kita yang tidak sedang berhaji atau umrah, Allah memberikan kesempatan untuk mendapatkan pahala yang sama seperti orang yang thawaf. Pahala itu diberikan kepada orang yang menghidupkan malam keenam Ramadhan.

Dalam keterangan hadits disebutkan, barangsiapa yang menghidupkan malam keenam Ramadhan dengan beribadah (shalat tarawih, shalat tahajud, dzikir dan mambaca Al-Quran), maka Allah akan memberikan pahala baginya seperti pahalanya orang yang thawaf.

Ibadah thawaf yang ‘terlihat sekedar berputar-putar mengelilingi ka’bah’, memiliki makna filosofi dan hikmah yang mendalam.

Bagi yang thawaf tidak hanya pahala yang didapat melainkan juga hikmah introspeksi diri memperhatikan yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Jika yang dilakukan ada yang kurang baik, maka akan dikoreksi untuk perbaikan ke depannya.

Beruntunglah orang yang menghidupkan malam keenam Ramadhan, karena ia mendapatkan pahala sebanding dengan ibadah thawaf.

Bukan hanya itu, secara filosofis orang tersebut dapat introspeksi diri atas apa yang dilakukan hari sebelumnya untuk oerbaikan ke depannya. Semoga hari-hari ke depan kita lebih baik dibandingkan hari ini.

Iklan