Tag

, ,

Hari Kelima : Pahalanya Setara Shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjidil Aqsha

Oleh : Noor Aflah, MA.

#5Ramadhan1437H

Dalam sebuah berita disampaikan, berdasarkan info resmi yang dipublikasikan Kementerian Agama RI pada Maret 2016, tahun keberangkatan haji di sejumlah kota di Indonesia sudah menyentuh di atas tahun 2050, bahkan ada yang di tahun 2054.

Asumsinya, jika seseorang mendaftar pada hari ini, maka baru akan berangkat haji 38 tahun lagi. Coba kita hitung, jika umur pendaftar 45 tahun, berarti akan berangkat haji pada usia 83 tahun.
Kondisi ini bisa dibayangkan, bisa jadi pesawat akan dipenuhi kursi roda bagi jamaah haji lansia. Begitu juga saat pelaksanaan wuquf, thawaf dan sai. Kursi roda akan menghiasi ibadah mereka. Jika ini terjadi, sungguh keberangkatan jamaah haji Indonesia kelak akan menjadi parade manula di pentas haji dunia.

Memang, daftar tunggu atau waiting list ibadah haji di Indonesia menjadi ‘teror’ menahun yang makin lama makin mengerikan bagi umat Islam di tanah air. Bagi umat Islam yang ingin menjalankan haji akhirnya tidak sekadar harus bersabar tapi sudah sampai tingkatan “pasrah”. Jika saatnya mendapatkan panggilan Allah, apapun kondisinya, Allah akan memudahkan segala jalan untuk ke sana, sekalipun ia miskin. Tapi jika sampai akhir hayat belum mampu menunaikan kewajiban itu, mereka berdoa semoga Allah memberikan kemuliaan pengganti dalam bentuk amal ibadah lainnya.

Ada banyak keterangan hadits yang menyebutkan tentang amalan-amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah. Salah satunya disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW, “Setiap selesai shalat bacalah tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar), masing-masing sebanyak 33 kali” (HR. Bukhari). Bacaan ini pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah.

Masih banyak keterangan hadits lainn yang menyebutkan amalan-amalan yang pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah.

Namun bukan hanya itu, ada juga hadits yang menerangkan keutamaan shalat di Masjidil Haram (Makkah), Masjid Nabi (Madinah) dan Masjidil Aqsha (Palestina). Orang yang berhaji atau umrah, sudah pasti menjalankan ibadah shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabi. Bagi mereka yang shalat di sana akan mendapatkan keutamaan dan pahala yang berlipat.

Dalam hadits Nabi disebutkan, “Shalat di masjidku (Nabi) lebih utama 1000 kali shalat dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100 ribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain” (HR. Ibnu Majah).

Setiap orang muslim ingin bisa menjalankan haji atau umrah, di mana secara otomatis ia akan menjalankan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabi, yang keutamaan dan pahalanya berlipat ganda. Namun nyatanya keinginan itu tidak semudah yang dibayangkan. Banyak kendala yang harus dihadapi.

Bagaimana jika haji pun harus menunggu lama,sedangkan umrah hukumnya sunnah, apakah tidak ada ibadah lain yang setara dengan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabi? Allah masih memberikan kesempatan pada ibadah lainnya yang pahalanya setara dengan shalat di dua masjid itu.

Bukan hanya di kedua masjid itu, tapi ditambah satu lagi, pahalanya sama seperti shalat di masjidil Aqsha, Palestina. Orang yang shalat di Masjidil Aqsha, pahalanya dilipatgandakan sebanyak 250 kali lipat.

Di malam kelima Ramadhan, Allah memberikan pahala yang berlimpah. Bagi mereka yang mau beribadah, shalat tarawih dan shalat malam lainnya, pahalanya sama seperti shalat di Masjid Haram, Masjid Nabi, dan Masjidil Aqsha. Jika dihitung dengan angka, maka pahalanya sebanyak 1000, 100 ribu dan 250.

Jika berhaji harus menunggu lama, melaksanakan umroh harus memiliki rizki, maka dengan menghidupkan malam kelima Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, pahalanya dilipatgandakan oleh Allah. Setara dengan shalat di tiga masjid bersejarah itu. Semoga kita termasuk di dalamnya.

Iklan