Tag

, ,

Hari Kedua : Ampunan untuk Kita dan Kedua Orang Tua Kita

#2Ramadhan1437H

Ramadhan telah memasuki hari kedua. Dalam banyak hadits shahih disebutkan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadhan akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Dosa-dosa yang berkaitan dengan hak Allah dihapuskan. Kesalahan dan kekhilafan yang dilakukan akan dilebur dihilangkan. Namun, sepertinya ampunan yang diberikan Allah itu tidak sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.

Ampunan Allah diberikan hanya kepada orang yang berharap dan berusaha untuk mendapatkannya. Caranya adalah dengan meningkatkan ibadah dan amal shaleh di bulan Ramadhan. Tarawih, tadarus Al-Quran, mengkaji ilmu agama, dzikir, adalah bagian dari itu semua yang menyebabkan seorang mukmin diampuni dosanya.

Dalam keterangan hadits lainnya, Allah akan memberikan ampunan bagi orang mukmin yang menghidupkan malam kedua di bulan Ramadhan. Tidak hanya untuk dirinya, tapi ampunan itu juga diberikan kepada kedua orang tuanya yang mukmin. Tentu syarat mukmin bagi orang tuanya adalah mutlak. Karena jika orang tuanya kafir, Allah tidak akan mengampuninya. Orang kafir terhalang dari ampunan Allah.

Tidak sampai menunggu fase sepuluh hari kedua Ramadhan, tapi sifat murah-Nya Allah telah diperlihatkan. Kita yang berbuat baik, tapi Allah membalasnya berlipat. Orang tua kita pun mendapatkan efek kebaikan itu dengan diampuni dosa-dosanya.

Nabi menyebutkan, “Barangsiapa mendapati bulan Ramadhan, tetapi ia tidak memperoleh pengampunan Allah, maka ia sungguh termasuk orang yang jauh dari rahmat Allah.” Pengampunan Allah akan diberikan kepada dirinya yang berpuasa. Bukan untuk orang yang tidak berpuasa dan tidak beribadah di hari kedua bulan Ramadhan.

Semudah itukah Allah memberikan ampunan bagi hambanya yang puasa di hari kedua. Bisa jadi iya. Semua itu terserah Allah. Namun tetap harus ada upaya untuk mendapatkannya. Harus ada effort untuk meraihnya. Caranya adalah dengan bertaubat.

Taubat artinya meninggalkan dosa-dosa, baik kecil maupun besar, disertai penyesalan yang mendalam. Bukan taubat sambal. Hari ini taubat, besok menjalankan maksiat lagi. Besoknya lagi bertobat, lalu hari berikutnya maksiat lagi.

Taubat juga berarti kembali ke jalan yang benar, atau kembali ke posisi awal. Posisi di mana manusia dekat dengan Allah dan suci di hadapan-Nya. Syarat lain taubatnya diterima adalah dengan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan maksiat itu.

Orang-orang yang bertaubat dan benar-benar menyesal atas dosa-dosanya, menurut Imam Al-Ghazali ditandai dengan tiga hal. Pertama, hatinya lentur dan sensitive, tidak membeku dan membatu seperti batu cadas. Kedua, air matanya mudah meleleh tanpa sadar. Ketiga, ia kapok dan benci pada dosa-dosa yang dahulu pernah dinikmatinya.

Orang yang bertaubat dengan tingkat penyesalan seperti di atas layak mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Bisakah di hari kedua bulan Ramadhan ini kita melakukan hal itu dan pantas mendapatkan ampunan dari Allah. Semoga.

Iklan