Tag

, , ,

Hari Pertama Ramadhan : Allah Bangunkan Kita 50 Ribu Kota di Surga

#1Ramadhan1437H

Masjid, mushalla, surau dan langgar penuh sesak. Tua muda, laki-laki perempuan tumpah ruah. Tak sedikit anak-anak kecil yang belum umur turut serta meramaikannya. Itulah gambaran tarawih malam pertama di Bulan Ramadhan. Bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya itu telah datang. Rasa gembira dan suka cita untuk menyambut kehadirannya dipersiapkan hari-hari sebelumnya.

Khusus malam pertama, ada yang spesial dalam menyambutnya. Mukena baru dan  sajadah baru. Kalau pun tidak baru dibeli, minimal baru dikeluarkan dari lemari. Hmm, begitu spesialnya tarawih malam pertama di bulan Ramadhan.

Wajah-wajah sumringah, jiwa-jiwa optimis terlihat mewarnai derap langkah mereka menuju masjid dan mushalla. Saling berjabat tangan saat bertemu di jalan sambil melempar senyuman, menambah jalinan silaturrahmi terasa makin kuat. Meskipun bertetangga namun karena kesibukan masing-masing, jarang sekali mereka bersua dengan berjabat tangan. Tapi malam pertama tarawih itu mendobrak semua sekat ego mereka. Mencairkan suasana sekaligus memperkuat bangunan persaudaraan antar sesama umat muslim.

Sungguh mengharukan dan sangat berkesan. Itulah suasana malam pertama tarawih. Mereka semua berharap mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepada kita. Minimal dari satu pesan hadits yang sering menjadi motivasi setiap datangnya bulan Ramadhan. “Barangsiapa yang bergembira, bersuka cita dalam menyambut hadirnya bulan Ramadhan, maka Allah haramkan jasadnya dari api neraka”.

Bukan hanya itu. Mereka siap meninggalkan kesenangan duniawi yang selama ini tidak sadar telah membelenggunya. Nonton televisi, asyik main gadget, nongkrong di mall, konkow di café semua itu mereka tinggalkan demi tarawih malam pertama.

Hal itu ia lakukan tiada lain kecuali untuk mendapatkan kemulian-kemuliaan yang diberikan Allah khusus di bulan Ramadhan, serta untuk menggapai derajat taqwa, sebagaimana tujuan utama dari ibadah (puasa) di bulan Ramadhan itu sendiri yakni menggapai predikat taqwa.

Ada tiga fase kemuliaan dan keistimewaan yang diberikan Allah kepada kita khusus di bulan Ramadhan. Sepuluh hari pertama adalah fase rahmah, yakni dicurahkannya kasih sayang dari Allah. Sepuluh hari kedua, adalah fase maghfirah, yakni dibukanya pintu-pintu ampunan dari Allah. Sepuluh hari ketiga, adalah fase itqun minannar, yakni dibebabaskannya dari api neraka. 

Ada beberapa keterangan hadits tentang keutamaan setiap malam di bulan Ramadhan. Di malam pertama fase rahmah, disebutkan dalam hadits, barangsiapa yang mau mengisi malam pertama di bulan Ramadhan dengan beribadah, maka Allah mengampuni semua dosa yang tersembunyi dan dosa yang terang-terangan, Allah meninggikan beribu-ribu derajat, membangunkan untuk kita 50 ribu kota di surga. Hadits lainnya menyebutkan, bahwa orang mukmin yang keluar untuk beribadah di malam pertama bulan Ramadhan, maka dosa-dosa orang tersebut diampuni Allah seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.

Keterangan hadits inilah yang menjadi magnet motivasi tarawih malam pertama. Tak hanya motivasi pahala, namun setidaknya kehadiran bulan Ramadhan menjadi moment bangkitnya semangat kita beribadah.

Setelah selama 11 bulan kita disibukkan dengan rutinitas duniawi yang menipu, dengan datangnya bulan suci Ramadhan, setidaknya menjadi awal semangat untuk memperbaharui lagi ibadah kita yang sudah kendor.

Memotivasi diri untuk terus memperbaiki kualitas ibadah kita kepada Allah. Sembari mengingat kembali asal mula fitrah diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah.

Semangat malam pertama tarawih di bulan Ramadhan semoga dapat terus dipupuk. Menyambut 29 keutamaan lainnya yang diberikan Allah kepada kita. Amiin.

Iklan