Tag

, , , , ,

Doa untuk Muzaki, Value yang Tak Terhingga

Oleh : Noor Aflah

Dalam aktifitas dunia keamilan, ada momen istimewa saat seseorang mengeluarkan uangnya untuk berzakat. Ada suasana batin yang luar biasa ketika seseorang mengeluarkan uang dari dompetnya untuk berinfak atau bershadaqah. Ada perasaan yang ingin disampaikan kepada amil atau lembaga sebagai perantaranya. Kiranya boleh ia bertanya, ia akan bertanya, digunakan untuk apa uang itu. Saya akan mendapatkan apa dari uang yang saya keluarkan itu.

Namun karena secara etis bertanya tentang hal itu dianggap tabu dan tidak seharusnya dilakukan seorang muzaki, maka kontak batin pertanyaan itu harus ditangkap oleh amil. Sebagai penerima sesaat dan sekaligus sebagai perantara bagi penerima yang sesungguhnya, yaitu mustahik, amil memiliki tugas penting menjawab pertanyaan itu dengan gamblang. Bukan jawaban asal, melainkan jawaban yang berdasar atas apa yang dilakukan dan menjadi tanggungjawab sebagai amil di lembaga.

Lebih penting daripada itu, seorang muzaki dan donatur ketika ia mengeluarkan hartanya, ia berharap mendapatkan value lebih. Tidak berupa imbalan materi melainkan non materi. Bentuknya adalah ketenangan jiwa bukan limpahan harta. Meskipun berharap limpahan harta itu tidaklah mutlak salah, namun lebih daripada itu, yang diinginkan muzaki dan donatur adalah keberkahan atas harta yang dikeluarkan yang berdampak pada ketenangan batin dan jiwa.

Ketenangan batin dan jiwa ini tak ternilai harganya dibanding keberlimpahan harta yang tidak bisa menenangkan batin dan jiwanya. Ketenangan batin dan jiwa akan membawa kehidupan yang bahagia. Dalam bahasa rumah tangga, akan membawa mereka pada kehidupan yang sakinah, mawaddah wa rahmah ; tenteram, bahagia dan penuh cinta. Bukan kehidupan yang berlimpah harta namun tidak diwarnai dengan ketenangan jiwa dan kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis. Bukan itu yang diminta.

Di sinilah peran seorang amil pada moment istimewa itu. Mereka ditugaskan menjawab keinginan muzaki agar mendapatkan value atas harta yang diberikannya. Allah memberitahukan hal ini dalam sabda-Nya. Di dalam Surat At Taubah 103, amil diperintahkan mendoakan muzaki. “..dan berdoalah untuk mereka (muzaki), sesungguhnya doamu  itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa..”

Doa amil yang disampaikan dengan tulus, dibacakan dengan ihlas, dilantunkan dengan hati yang khusyu’ akan menggetarkan kalbu muzaki. Bait-bait doa akan mengalir bagaikan air yang kemudian masuk mengisi relung jiwa dan kalbu mereka. Tanpa terasa ketenangan jiwa muzaki dan donatur mereka dapatkan dari keihlasan doa kita. Tak perlu meminta banyak dari muzaki, namun yakinlah bahwa Allah akan membukakan hati banyak muzaki dengan banyak zakat yang disampaikan kepada kita, sehingga cita-cita untuk membantu banyak musahik dapat tercapai.

Mari, sebagai amil yang ditugaskan untuk mendoakan muzaki dan donatur, kita lakukan setiap hari. Tidak semata demi ketenangan jiwa muzaki, namun ini perintah Ilahi, Allah yang Maha Suci. Kita pun sebagai amil, yakinlah, pasti mendapatkan hal yang sama seperti yang kita doakan kepada muzaki. ketenangan batin dan jiwa. Khusyuk dalam beribadah dan amanah dalam menjalankan tugas. Amiin. Semoga.

Iklan