Tag

, , , , ,

Ingin Sehat, Jauhi Bohong !

“Enggaaak… Aku nggak bohooong, mba’ Bila”. Teriakan protes Aisy dengan logat agak cadel di depan rumahku itu terdengar nyaring di telinga. Tidak terima dituduh menyembunyikan mainan milik Bila, anak umur lima tahun itu protes keras. Suara melengking terdengar lantang sambil berontak tanda ia ingin menunjukkan kejujurannya.

Kita tahu bahwa dalam diri anak-anak, berbohong adalah pantang. Ia tidak mau memanipulasi keadaan. Yang ia katakan, itulah yang sebenarnya terjadi. Ketika ia dituduh bohong, pasti protes. Membela diri. Karena tidak sesuai keadaan. Itulah kondisi anak-anak. Ia pasti jujur. Menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Empat orang anak yang pagi itu bermain pasar-pasaran di depan rumahku itu menjadi contoh berharga. Yaitu jujur dan tidak berbohong. Bagaimana dengan orang-orang dewasa? Tentu jauh berbeda. Bohong seperti menjadi kebiasaan. Seadakan sudah akrab di lisan orang dewasa. Padahal bohong itu berdosa. Tapi tetap saja banyak orang melakukannya. Bahkan ada juga ilmu yang mendeteksi gerak tubuh seseorang saat ia bicara apakah ia bohong atau tidak. Itu semua dimaksudkan untuk mengetahui sifat buruk manusia yang namanya bohong.

Banyak orang dengan atau tanpa sengaja, ia berbohong. Bohong untuk menutupi kelemahan. Bohong untuk menunjukkan agar ia kelihatan tahu, ngerti dan hebat. Padalah sebenarnya tidak seperti itu. Sebenarnya ia tidak tahu, tapi ngawur agar kelihatan tahu. Sejatinya ia tidak mengerti, tapi sok mengerti. Ia tidak pernah ke tempat yang ditanyakan temannya, tapi ia menjawab pernah ke sana, padahal belum pernah. Ia pernah melakukan sesuatu, tapi ingin menutupinya, ia katakan tidak pernah. Apalagi yang pernah ia lakukan itu terkesan aib, pasti ia tutupi.

Ada juga orang bohong untuk menutupi status. Sudah punya pacar bilang belum. Sudah punya anak, mengaku belum menikah. Malah ada yang bohong secara formal. Seperti memberi persaksian palsu di persidangan dan pengakuan yang tidak sesuai kenyataan. Semua itu dimaksudkan agar orang lain percaya. Lebih parahnya lagi, pengakuan itu disampaikan di hadapan banyak orang. Tentu dosanya berlipat.

Garis antara kebohongan dan kejujuran sangat tipis. Pangkalnya ada di hati. Diterjemahkan lisan. Dikontrol oleh otak. Begitu juga jujur. Hanya bedanya orang yang jujur hatinya tenang. Tidak ada beban saat menyampaikan perkataan. Karena sesuai dengan kenyataan. Sedangkan bohong, hati orang yang mengatakan tidak bakal tenang. Selalu ada kontradiksi dalam hatinya. Hatinya ingin berontak, namun karena dikipas-kipasi oleh syetan, hatinya kalah. Nafsunya yang menang. Pantaslah jika seseorang melakukan kebohongan, maka akan diikuti kebohongan berikutnya. Begitu seterusnya hingga terus berlipat-lipat kebohongannya.

Kita tahu orang bahwa jujur disayang Tuhan. Orang bohong temannya syetan. Bisa jadi itulah mengapa orang jujur lebih sehat dibanding orang yang bohong. Sebuah penelitian menemukan bahwa orang yang sering berbohong lebih sering mengalami sakit kepala, stres dan merasa cemas.

Hasil penelitian terhadap orang yang bohong dan jujur menyimpulkan bahwa kesehatan orang yang jujur lebih baik dibanding kesehatan orang yang bohong. Orang yang jujur dapat menciptakan cara-cara cerdas dibanding orang-orang yang bohong. Berbohong dapat menimbulkan banyak stres, menyebabkan kecemasan dan bahkan depresi. Mengurangi kebohongan tidak hanya baik untuk hubungan, tapi juga baik untuk diri sendiri. Kebanyakan orang tahu dampak buruk dari berbohong terhadap hubungan, tapi tidak mengenali sejauh mana kebohongannya itu dapat menyebabkan stres, sakit kepala, cemas dan kehidupan yang tidak tenang.

Dalam hadits disebutkan larangan berbohong. “Takutlah kalian dengan bohong, sebab bohong adalah sesuatu yang tidak terpuji dan membawamu ke neraka”. Kita ambil pelajaran dari Aisy yang jujur. Ia lantang menolak saat dituduh bohong. Sebab ia ingin menyampaikan yang sebenarnya. Polos tidak merekayasa. Dengan jujur dan tidak bohong, jiwa kita akan sehat. Pun terhindar dari dosa. Yuk, kita latih lisan kita agar tidak berbohong.

Iklan