Tag

, , , ,

Hp Setiap Waktu Kau Ingat. Allah, Kau Lupakan!

“Hp Kau Lihat Setiap Waktu. Alquran Kau Baca Seingatmu”. Sindiran lewat gambar yang dipasang di profile picture itu jelas menyentil. Di era ketergantungan dengan gadget hampir setiap orang tak bisa lepas dari benda mati seukuran genggaman tangan itu. Setiap waktu, setiap saat, yang dipegang, yang dilihat, yang diperhatikan selalu Hp.

Tua-muda, anak-anak hingga dewasa, hampir semuanya punya Hp. Bahkan tak jarang yang punya lebih dari satu buah. Banyak orang yang sudah terbelenggu dengan Hp. Menyebrang jalan raya, sambil main Hp, di dalam kereta, saat berdesakan dengan penumpang lainnya, tangannya tak mau lepas dengan Hp, tidur ditemani Hp, menyopir sambil main Hp, bahkan selesai shalat pun yang dipegang adalah Hp.

Dulu, ketika saya aktif di bangku kuliah, tersentak dengan peringatan flyer dan standing banner di toko buku dan kampus yang berbunyi, “Teman Terbaik Saat Duduk Adalah Buku”, namun kata-kata itu, 5 tahun terakhir sudah digeser menjadi “Teman Terbaik Saat Duduk Adalah Buku HP”, bahkan saat ini tidak pernah lagi melihat standing banner itu. Hilang. Entah dibuang kemana.

Bunyi ring tone dan getar yang distel sebagai penanda, membuat pemiliknya tak bisa melepaskan diri dari benda itu. Setiap bunyi penanda itu menyala, seakan memberi tahu pemiliknya untuk segera merespon. Tiap detik, tiap menit terus berbunyi. Tang ting tung. Tak berhenti. Jika ring tone-nya kencang, tetangga sebelah pun sampai terdengar. Sebel? Mau bagaimana lagi. Itulah produk teknologi. Seiring dengan kemajuan zaman. Gara-gara Hp, yang dekat jadi jauh. Berkat Hp yang jauh jadi dekat. Satu meja pun, komunikasinya pakai Hp. Duduk bersebelahan bisa sama-sama autis gara-gara Hp. Senyum sendiri, nyengir sendiri, asyik sendiri, acuh dengan sekelilingnya. Fungsi manusia sebagai makhluk sosial hilang karena Hp. Itulah faktanya. Hingga muncul sindiran lewat profile picture sebagaimana di atas.

Pertanyaannya kemudian adalah di mana kau letakkan Alquran. Di mana kau posisikan Allah. Karena kau begitu dekatkan dirimu dengan Hp. Alquran sebagai penuntun kehidupan kita, jarang disentuh. Apalagi dibaca. Mana mungkin dikaji, jika menyentuh dan membacanya saja jarang. Urusan duniawi yang berbau hiburan dan kesenangan sesaat begitu dekatnya dengan keseharianmu. Sementara hidupmu hampa. Hatimu kering dari nasihat. Jiwamu gersang dari sentuhan rohani. Kesenangan duniawi kau terus mengejarnya. Sementara kesenangan abadi di akhirat, kau lupakan.

Meski uang pas-pasan, pulsa rela kau beli demi untuk memperpanjang paket internet, supaya tidak mati gaya. Beberapa jam paket internet habis dan belum diperpanjang, serasa dunia lepas dari genggamannya. Seakan putus hubungannya dengan mereka yang selama ini terus terhubung, di dunia sosial atau berita terkini. Padahal jika ke masjid melihat kotak amal, pura-pura menutup mata. Abai dengan tabungan akhirat. Uang di kantong disimpan rapat agar tidak keluar untuk beramal. Mending beli pulsa daripada dimasukkan kotak amal.

Andai fungsi Hp berubah menjadi reminder mengingat Allah, betapa hebatnya kehidupan kita. Detik ke detik. Jam ke jam. Waktu ke waktu diingatkan untuk mengingat Alquran dan Allah. Leher sakit, karena terlalu sering menunduk melihat Hp tak masalah, karena yang didapat adalah pahala. Mata sakit – bahkan sekarang banyak anak-anak yang matanya minus sebab Hp – menjadi tak merugi karena yang didapatkan adalah ilmu. Sama seperti dulu film Sang Aji, yang karena seringnya baca buku hingga matanya minus dan berkacamata tebal. Itu semua masih beruntung karena yang didapatkan adalah kebaikan. Tapi jika sebaliknya, belenggu Hp justru melalaikan Allah dan meninggalkan Alquran, betapa meruginya kita.

Memang ada sebagian (kecil) masyarakat yang kemudian berinisiatif untuk mengimbangi belenggu Hp itu. Content Hp berupa Alquran, hadits, kitab-kitab tarfsir, fikih, dimanfaatkan untuk kabaikan. Muncul kelompok One Day One Juz, One Day One Ayat dan sebagainya. Namun jika dihitung jumlahnya masih belum berimbang. Masih banyak Hp yang digunakan untuk hiburan.

Beruntung Allah dzat maha bijak dan maha pemaaf. Masih mau memberi kesempatan luas bagi hambanya yang terlena – karena belenggu Hp. Kalau pun hambanya tidak mengingat-Nya, karena sibuk melihat Hp, Allah tetap ingat kita. Allah tetap memandangnya dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Allah masih memberi kesempatan kita, siapa tahu nanti ingat Allah. Siapa tahu nanti rajin membaca Alquran.

Akan seperti apa hidup kita jika sedetik saja rahmat dan kasih sayang Allah dihilangkan dari kita. Mari kembali mengingat Allah. Mari tingkatkan membaca dan mempelajari Alquran. Sama seperti saat kita malihat Hp, seperti itulah kita mengingat Allah dan membaca Alquran. Agar kesenangan dunia, berupa Hp itu tidak melalaikan kita kepada Allah. Tidak melupakan kita dari membaca ayat-ayatnya. Sanggup..?!

Iklan