Tag

, , , , , , ,

Memilih Presiden di Bulan Ramadhan

Ini mungkin kali pertama Pemilu Presiden (langsung) dilaksanakan di Bulan Ramadhan. Saya tidak ingat Pilpres pertama tahun 2004 dilaksanakan di Bulan Ramadhan atau tidak, tapi sepertinya Pilpres kedua tahun 2009 tidak bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Sangat terasa ketika musim Pilpres dilaksanakan di Bulan Ramadhan. Para pendukung capres cawapres yang sebelum Ramadhan saling beradu mencari pengaruh massa dengan menghalalkan segala macam cara, masing-masing tim sukses saling mencari kelemahan lawan, saling menghujat, menebar fitnah menjadi hal biasa, kini semua dapat menahan diri dan mengendalikan emosi.

Coba lihat berita-berita di media massa dan media sosial yang terasa panas hingga membuat telinga memerah. Saya sendiri terkadang terpancing emosional dalam mengomentarinya. Tapi alhamdulillah, memasuki bulan Ramadhan, tepatnya sehari sebelum Ramadhan dan hari pertama Ramadhan, nuansanya menjadi sejuk penuh kedamaian. Entah nanti hari-hari ke depan, di saat waktu mendekati hari H Pilpres, Rabu 9 Juli 2014, mudah-mudahan semua bisa menahan diri dan tetap dapat mengisi Ramadhan dengan lisan dan hati yang serba ilahi.

Kita yakini bahwa kedua capres cawapres, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, yang maju di Pilpres 2014 adalah orang-orang baik dari sekian banyak orang baik yang ada di negeri ini. Memang orang yang lebih baik dari kedua pasang itu masih banyak sekali, namun mereka tidak mau maju (tepatnya tidak ada partai yang mendukung untuk maju), akhirnya orang-orang yang lebih baik dari kedua pasang itu tidak bisa maju menjadai capres cawapres. Inilah buah dari system pemerintahan semi presidensial setengah parlementer.

Kalau kita lihat track record kedua capres cawapres, terlepas dari kelebihan masing-masing, keduanya sama-sama mempunyai kelemahan. Pun, masyarakat sudah kenal lama kedua pasangan ini. Mereka bukan orang baru yang muncul di publik. Siapa yang tak kenal Prabowo Subianto, Capres nomor urut 1? Putra Begawan Soemitro, mantan Danjen Kopasus, mantan Ketua HKTI dan pernah mencalonkan diri sebagai Presiden tahun 2009, dan hampir setiap hari selama 5 tahun wajahnya menghiasi layar kaca dan segudang pemberitaan yang diulang terus menerus membuat semua orang tidak asing dengannya.

Begitu juga dengan Hatta Rajasa. Sosok yang khas dengan rambutnya yang sudah memutih semua, pernah jadi Menko Perekonomian, besan Presiden SBY, Ketua Umum sebuah partai besar dan masih banyak lagi, membuat dirinya tidak asing bagi masyarakat kita.

Apalagi dengan capres nomor 2 ini, Joko Widodo, mantan Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan segudang prestasi sebagai Walikota terbaik dunia dan Gubernur yang mendapatkan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, hampir seluruh warga Indonesia tak ada yang tak mengenal dirinya. Dia maju di Pilpres 2014 ini karena banyaknya harapan yang disematkan di pundaknya demi perbaikan negeri ini.

Nama yang satu ini juga tak kalah tenar. Jusuf Kalla. Mantan Wakil Presiden era 2004 – 2009 ini pengaruhnya cukup besar di pemerintahan saat itu. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa the real President saat itu adalah Jusuf Kalla. Gayanya yang blak-blakan, tegas, ulet, mudah diingat orang. Hingga dirinya mencalonkan lagi era berikutnya tapi kalah. Karenanya ia diamanahi sebagai Ketua Umum PMI (Palang Merah Indonesia) dan Ketua Umum DMI (Dewan Masjid Indonesia).

Bagi saya, sudah sangat cukup bekal informasi dan data bagi saya untuk menentukan pilihan di antara keduanya. Sudah cukup lama saya mengenal mereka di kancah public dan perpolitikan tanah air. Saya yakin masyarakat Indonesia juga sama. Tapi entah masyarakat mau melek itu atau tidak saya tidak tahu dan itu hak masing-masing.

Bicara kelemahan masing-masing pasangan, tentu sangat banyak. Tapi bagi saya itu tidak penting. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini kecuai KangJeng Nabi.

Bagi saya, siapa pun dan berapa pun jumlah partai pendukung capres cawapres itu juga tidak terlalu penting, dan tidak mempengaruhi pilihan saya. Semenjak keduanya mendeklarasikan menjadi capres, pilihan saya sudah bulat dan sudah saya jatuhkan, dengan bekal informasi yang saya miliki selama ini. Sedikit banyaknya partai yang mendukung, bagiku bergeming. Karena hal itu merupakan tuntutan perpolitikan di negeri ini.

Kampanye, tak lebih sekedar sebuah justifikasi eksistensi capres-cawapres. Begitu juga debat, tak lebih dari sebuah khotbah yang mudah dilupakan. Meminjam istilah orang Jawa, bungen tuwo (mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo), masuk dari telinga kanan, keluar lagi lewat telinga kiri. Nyaris tak ada yang menempel diingatan.

Oleh karena itu, bagi saya sebagai warga Negara Indonesia yang baik dan patuh dengan regulasi, saya akan menggunakan hak pilih saya. Yakin dengan pilihan saya. Terutama kepada pasangan yang lebih banyak memberi harapan. Karena bagaimana pun, ke depan, siapa pun yang akan terpilih menjadi Presiden 2014, (syukur-syukur pilihan saya yang terpilih), problematika bangsa ini sudah terlalu banyak.

Siapa pun presidennya nanti,
utang luar negeri kita terus bertambah dan bunganya menggila
Siapa pun presidennya nanti
mau tidak mau, suka tidak suka, tahun 2015 adalah pasar bebas AFTA
sudah harus dihadapi oleh masyarakat kita
bagi yang survive tentu akan jaya
bagi yang lemah tentu akan dilindasnya
Siapa pun presiden terpilih nanti
mau berbuat apa dengan itu semua?
Tinggal bagaimana kita sendiri sebagai masyarakat mempersiapkannya
maka agar harapan perbaikannya itu ada, pilihlah nomor…
Terserah pembaca untuk menentukannya
Semoga di Bulan Ramadhan ini Allah mengabulkannya
terpilih seorang Presiden yang mencintai Allah, Rasul dan rakyatnya
agar tercipta pemeritahan yang diridhai-Nya
Amin ya Mujibas Sa’ilina…

Iklan