Tag

, , , , ,

Bendera Kuning

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Jakarta tahun 1995-an, banyak hal-hal baru yang saya temui di sana. Salah satunya adalah bendera kuning kecil yang dipasang di pinggir jalan dan dimaksudkan sebagai tanda bahwa di sekitar itu ada orang meninggal.

Mulanya saya tak begitu menghiraukan, apalah arti sebuah symbol bendera, ukurannya kecil pula. Oh, barangkali fungsinya sebagai penunjuk jalan supaya orang yang mau ta’ziyah tidak kesasar. Mirip seperti fungsi janur kuning di pinggir jalan sebagai penunjuk arah lokasi keluarga yang sedang mantu. Namun tahun demi tahun timbullah rasa penasaran saya untuk mencari tahu apa arti bendera kuning itu. Saya coba tanyakan kepada penduduk asli Jakarta tapi mereka tidak tahu. Kalaupun ada yang menjawab bagiku kurang memuaskan.

Akhirnya, dua puluh tahun kemudian, tanpa sengaja ada orang yang menyampaikan arti bendera kuning itu. Nah, ini dia yang saya tunggu-tunggu. Ia menceritakan ketika pagi akan berangkat ke kantor, di jalan yang ia lalui terdapat bendera kuning kecil menempel di ujung gang. Hatinya langsung tersentak, ia sadar bahwa ia sedang diingatkan. Ibarat traffic light di perempatan, bahwa lampu kuning adalah sebuah pertanda agar kita hati-hati karena sebentar lagi akan berhenti. Mati.

Bendera kuning itu pun fungsinya sama, yaitu peringatan bagi kita yang masih hidup, bahwa semua kita pasti akan mati. Sama seperti yang saat itu ada di sekitar bendera kuning. Hati-hati agar yang masih hidup mempersiapkan diri menghadapi mati, mengakhiri kehidupan di dunia yang menipu ini.

Lebih jauh dari sekedar mempersiapkan diri memperbanyak bekal amal ibadah untuk menghadapi kematian, coba kita pahami lebih mendalam pilihan kata hati-hati untuk sebuah peringatan. Kenapa pilihan kata hati-hati yang digunakan itu ‘hati’, tidak kata lain, misalnya jantung atau paru-paru. Sebenarnya kata ‘hati’ yang dimaksudkan di sini tidak hanya sekedar wujud fisiknya, tapi lebih pada fungsi hati itu sendiri, sebagai representasi keberadaan wujud seorang manusia. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ‘di dalam diri setiap kita ada segumpal daging, apabila fungsi daging itu baik maka baik pula orang itu, sebaliknya apabila fungsi daging itu buruk maka buruk pula orang tersebut. Tahukah kamu apa segumpal daging itu. Dialah hati’.

Ibarat sebuah computer, hati adalah prosesornya. Pengendali, pengontrol, pengawas terhadap laju seluruh aktifitas kita. Ketika fungsi-fungsi itu tidak berjalan karena kalah dengan nafsu yang menjerumuskan kepada dosa dan maksiat maka fungsi hati pun terhalang, tertutup dosa-dosa dan maksiat. Akibatnya tak bisa mengontrol dan mengendalikan aktifitas dan gerak fisik anggota tubuh. Perbuatan dosa pun seakan dijustifikasi sebagai sebuah tindakan pembenaran dan pembolehan. Jika seseorang dalam kondisi yang demikian, sebagaimana bunyi arti hadits di atas, maka buruklah orang tersebut disebabkan karena hatinya yang buruk.

Memang di daerah lain, seperti di Medan bendera orang meninggal itu warnanya putih (muslim) dan merah (non muslim), bahkan di daerah-daerah lain sama sekali tidak menggunakan bendera apapun, namun pilihan symbol yang mengandung pesan positif itu merupakan peringatan dengan menggunakan bahasa yang sangat halus. Bagi mereka yang hatinya lembut tentu sangat mudah menerima pitutur, nasihat, pelajaran dan peringatan akan sebuah kematian. Tapi bagi mereka yang hatinya keruh, kotor tertutup akibat dosa dan maksiat yang dijalani, maka jangankan mengambil pelajaran, ingat mati pun bisa jadi tidak pernah. Padahal dengan mengingat mati, hati seseorang akan menjadi lunak dan mudah menerima nasihat yang baik, dari siapapun.

Iklan