Tag

, , , ,

Bank Syariah, Yang Praktislah..

Entah kenapa setiap kali saya masuk ke bank syariah terasa ada yang kurang sreg pelayanannya. Sapaan “assalamu’alaikum” dari Satpam di pintu masuk memang menunjukkan identitas ke-Islaman bank. Tapi pertanyaan-pertanyaan berikutnya itu yang membuat saya terasa seperti orang baru pertama kali masuk bank. Pertanyaan, “ada yang bisa dibantu, pak?”. “Mau transaksi apa, pak?”. Sambil dituntun diarahkan ke tempat form transaksi, mirip mengajari anak kecil yang baru pertama kali masuk bank. Padahal di semua bank di situ sudah ada petunjuk-petunjuk yang memudahkan nasabah mencari apa yang dibutuhkan.

Ketika berhadapan dengan teller pun sama. Sapaan salam dan menanyakan apa yang bisa dibantu juga menambah komunikasi yang kurang praktis. Padahal sudah jelas, ketika nasabah ke bank, pasti urusannya tak jauh-jauh dari ambil dan setor uang. Apalagi sudah di depan teller, ya apalagi kalau bukan setor atau ambil uang. Lha kok masih ditanyain lagi.

Selesai transaksi dengan teller, masih juga ditanyai, ‘ada lagi yang bisa dibantu, pak?’ Kalau tidak ada, tidak berarti selesai sudah komunikasi dengan teller. Sebelum berbalik badan, ditambahi lagi dengan kata-kata ‘terima kasih telah berkunjung’ dan diakhiri ‘assalamu’alaikum’. Menurutku ini sangat tidak praktis. Seorang nasabah harus mematung dulu beberapa waktu untuk mendengarkan komunikasi yang bertele-tele dari teller.

Ternyata itu belum selesai. Di depan pintu keluar, dihadang lagi oleh Satpam. “Sudah selesai, pak. Terima kasih. Assalamu’alaikum”. Itulah kata-kata ‘perpisahan’ dengan institusi bernama bank syariah.

Ketika saya antri menunggu giliran dipanggil, saya coba mengamati sikap nasabah. Mulai dari masuk hingga urusan dengan teller. Di situ saya melihat hampir semua nasabah tak terlalu memperhatikan komunikasi dengan Satpam/teller. Begitu dia masuk, hanya menjawab salam lalu menuju tempat form berada secara mandiri. Sapaan salam, pertanyaan dari Satpam, tak begitu diperhatikan. Jawab salam pun hanya terdengar praktis ‘kumsalam’. Ada juga yang malah terdiam.

Begitu juga saat berhadapan dengan teller. Belum selesai ucapan terakhir dari teller, si nasabah langsung balik badan, pergi meninggalkan konter teller. Entah menjawab salam dari teller atau tidak, itu urusan masing-masing. Yang pasti ada gelagat ingin segera meninggalkan konter. Di sini jelas nasabah ingin komunikasi cepat dan praktis. Jika ada kata-kata terakhir dari teller cukup dengan terima kasih. Saya kira itu sangat praktis dan cukup representative dalam mengakhiri sebuah transaksi. Tak perlu lagi ditambah ini dan itu.

Memang perbankan syariah terus berupaya mencari terobosan dengan membuat deferensiasi layanan dan produk. Masih kecilnya pertumbuhan dan peran perbankan syariah dalam system perekomonian bangsa menjadi salah satu alasan untuk membuat diferensiasi layanan itu. Sekaligus mendongkrak kinerja bank agar bisa mengejar laju pertumbuhan perbankan konvensional. Tapi ketika produk bank syariah dirasa sama seperti perbankan konvensional. Maka terobosan-terobosan apapun sepertinya agak berat untuk dijadikan sebagai senjata. Apalagi nasabah sudah sangat pandai. Bungkus ‘syariah’ yang harusnya bisa menjadi amunisi pendongkrak pertumbuhan bank syariah ternyata masih kurang mempan. Belum lagi soal stigma bahwa ‘esensi bank syariah, sama seperti bank konvensional. Yang beda hanya bungkusnya’. Ketika stigma ini menancap kuat dalam benak masyarakat, maka garda depan pelayanan di kantor bank yang bertele-tele, alih-alih menjadi pendongkrak citra bank syariah, justru akan menjadi bumerang bagi bank itu. Mungkin, sih.

Iklan