Tag

, , , , , ,

Ayo Ikut Pemilu. Ojo Golput.

Dalam hitungan hari, kita akan melaksanakan pesta demokrasi lima tahunan, yaitu Pemilu Legislatif (Pileg), Rabu 09 April 2014. Ini kali ke empat saya ikut Pemilu di negeri ini. Pertama kali saya ikut tahun 1999, kedua, tahun 2004, dan terakhir 2009 dan – insya Allah – tahun 2014 ini. Meskipun seharusnya saya tahun 1992 dan 1997 sudah memiliki hak pilih, namun kita tahu bahwa saat itu rezim orde baru masih berkuasa, di mana kelompok masyarakat yang tidak mendukung penguasa tidak diberi ruang gerak yang cukup dan tak perlu ditampung aspirasinya, maka orang-orang seperti saya yang tinggal di kampung, tak dapat kesempatan untuk menyuarakan aspirasi dan tak perlu dikasih kesempatan ikut Pemilu. Belum lagi hasil pemilu pada saat itu dan pemilu sebelumnya hanya sekedar legitimasi formal bagi sebuah proses demokrasi di negeri ini dan sudah diatur partai pemenangnya. Jadi tak perlu lagi menampung aspirasi di luar kelompok yang mendukung mereka, seperti saya.

Pemilu 2014 saya ingin menyampaikan aspirasi di Pileg, tapi terkadang masih ragu. Apalagi melihat kinerja tidak memuaskan dan track record anggota dewan saat ini yang jauh di bawah harapan masyarakat, sikap koruptif anggota dewan, ditambah lagi hampir 90% ikut lagi mencalonkan diri membuat saya semakin kuat untuk mengurungkan niat berpartisipasi di Pileg. Namun ketika saya bandingkan dengan harapan munculnya sosok pemimpin baru di Pilpres nanti, merasa sayang kalau tidak dimulai di Pileg-nya. Bisa jadi pemimpin baru itu muncul dari partai yang nantinya saya pilih, dan presiden yang terpilih itu dipilih oleh suara terbanyak dan memberi harapan ke depan yang lebih baik. Sepertinya ada kepuasan yang terputus dan inkonsistensi dalam sebuah pilihan, sehingga rasanya sayang juga satu suara ini tidak disalurkan di Pileg. Atau kalaupun tidak dari Capres yang diusung dari partai yang saya pilih, minimal presiden yang terpilih nanti masih orang terbaik dari pilihan yang kurang baik. Lalu bagaimana ini? Haruskah untuk menentukan ikut atau tidaknya Pileg saya lakukan dengan cara menghitung kancing di baju. Ataukah dengan cara menghitung bunyi suara tokek di rumah tetangga. Ah, itu tidak cerdas dan tidak menggunakan kalkulasi yang mendidik.

Ada beberapa teman yang saya coba mintai pendapatnya tentang Pileg 2014. Pertama, ada yang sudah punya pilihan mantab, pokoknya partai “Itu” yang dia pilih. Masa bodoh dengan para calegnya. Bahkan tak satupun yang dia kenal, dan dia tidak ingin mengenal siapa calegnya dan bagaimana track record-nya. Fanatisme pemilih terhadap pilihan partai tanpa menyeleksi orang-orang yang ada di dalamnya seperti ini masih banyak di sekitar kita. Keuntungan pribadi, keluarga dan kelompoknya yang pernah mereka dapatkan dari partai tersebut menjadi pertimbangan paling mendasar untuk menutup mata dengan pertimbangan-pertimbangan yang up to date. Apa kepentingan umum dan kepentingan Negara yang didapatkan dari partai itu, nyaris tidak menjadi pertimbangan. Ibarat orang jawa bilang, mati urip pilih partai itu.

Kedua, ada juga yang masih ragu. Mau pilih partai apa dan siapa Calegnya di Pileg ini. Mereka tidak ada yang kenal secara lebih dekat. Mereka tidak sempat nonton tivi yang menayangkan profil caleg. Mereka juga tidak sempat atau tidak mencari tahu dari internet tentang profil para celeg itu. Mereka hanya tahu dan kenal partai politik karena tokoh yang ada di balik partai itu. Sementara Calegnya tak pernah ada yang menyapa langsung, bahkan mengambil hati mereka selama ini. Bagaimana pemikirannya, kinerjanya, harapan-harapan yang disampaikan, visi-misi tak ada yang menyampaikan. Dapil yang luas, ketatnya persaingan antar Caleg, membuat para pemilih tak dapat diakses para caleg. Akibatnya, para Caleg hanya memanfaatkan ruang public untuk memperkenalkan dirinya secara pasif. Pasang spanduk, baliho, papan nama di mana-mana. Pohon-pohon, tiang listrik, mobil, tembok-tembok rumah, bahkan kalau perlu di pagar-pagar pinggir jalan semuanya dijejali gambar-gambar Caleg. Saya sendiri terkadang sampai pusing melihatnya. Ingin sekali jalanan steril dari gambar-gambar Caleg yang tidak jelas itu. Karenanya, bagi saya, cara seperti justru sebagai hukuman bagi para Caleg karena mereka sudah berbuat “dzalim”; menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya; memperkenalkan diri di tempat yang salah. Saya berjanji dalam hati saya, , jika nanti saya jadi memilih, tidak akan memilih mereka yang sudah berbuat “dzalim” seperti itu.

Bisa jadi pemilih yang masih ragu karena belum mengenal lebih dekat ada yang berfikiran seperti saya, yaitu dengan menghukumnya untuk tidak memilihnya. Ada juga yang akan melihat dari sisi lahirnya saja. Siapa yang banyak spanduknya, mereka yang gambarnya terpampang besar-besar maka dialah yang dipilih.

Ketiga, masih ada sebagian masyarakat yang bingung, sama sekali tidak tahu siapa yang akan dipilih. Mereka adalah para orang tua yang sudah usia lanjut dan berpendidikan rendah, terutama mereka yang di kantong-kantong kemiskinan, baik di desa maupun di kota, mereka sepertinya apatis dengan Pemilu. Pemilu dari waktu ke waktu yang tidak bisa merubah nasibnya menjadikan mereka tak mau tahu tentang Pemilu. Pemilu tak lebih sekedar rutinitas pesta lima tahunan di negeri ini. Tak ada perubahan berarti bagi kehidupannya dari pemilu satu ke pemilu berikutnya. Kalaupun nanti ikut Pemilu tak lebih sekedar bujuk rayu dari orang-orang terdekatnya (anak, atau saudaranya) yang sudah diarahkan kemana dia harus memilih. Terutama diarahkan untuk memilih mereka yang memberi uang saku saat mau ke TPS. Itu pun tak bisa menjamin sesuai pilihan. Terkadang saat masuk bilik suara, pikiran menjadi bingung dan berubah lagi. Terbukti ketika keluar dari bilik, mereka bilang memilih asal yang mereka suka tanpa pertimbangan matang.

Para ibu rumah tangga yang berpendidikan rendah, tidak lulus SD juga hampir berfikiran sama. Mereka masih bingung dengan pilihannya. Mereka menunggu siapa yang akan memberinya uang, dialah yang akan dipilih. Jika yang memberi uang lebih dari satu Caleg, maka ia kembali bingung. Kepada siapa satu suara itu dijatuhkan.

Keempat, masyarakat yang masa bodoh dengan Pileg. Pemilu Legislatif yang menurut mereka tak ubahnya ajang mencari pekerjaan bagi para Caleg, membuat mereka apatis. Bahkan ada tetangga saya yang komentarnya sinis. “Kita dikasih uang gak seberapa disuruh pilih mereka tapi diperas selama 5 tahun”. Entah apa maksud di balik komentar itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Di sini pendidikan politik belum menyentuh seluruh masyarakat. Sikap apatis terhadap Pileg bisa jadi disebabkan karena kesibukan mereka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang tidak memungkinkan mereka mengikuti pendidikan politik. Ditambah lagi gencarnya pemberitaan tentang kinerja buruk anggota dewan dan sikap koruptif yang mewarnai berita sehari-hari menambah klaim negative mereka yang menyebabkan mereka apatis terhadap Pileg.

Itulah gambaran masyarakat menjelang Pileg 2014 ini. Semua kendali pilihan ada di tangan Anda. Satu suara sangat berarti, tapi jangan sampai salah pilih. Kita sadar bangsa ini perlu orang-orang hebat yang ada di semua partai, karena negeri ini bukan hanya milik satu partai saja. Memilih semua orang yang ada di partai adalah bagian dari partisipasi politik, namun itu tidaklah pilihan yang bijak. Karena di antara semua Caleg yang ada di partai yang Anda kenal, pasti ada di antara mereka yang terbaik. Taruhlah harapan itu kepada mereka, dan pilihlah mereka jika Anda benar-benar yakin. Kalau tidak yakin, karena tidak kenal mereka maka tinggalkanlah dan janganlah dipilih. Seperti nasihat bijak di sebuah hadits “Da’ ma yaribuka ila ma la yaribuk”.

Konsekwensi demokrasi yang setengah parlementer dan setengah presidential ini membuat kita tak bisa hanya ikut di Pilpres saja. Pemilu Legislatif adalah bagian yang wajib kita ikuti jika ingin partisipasi di Pilpres. Seperti kaidah ushul fikih “ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib”. Pilpres hanya bisa dilaksanakan jika Pileg berjalanan baik. Maka dari itu Ayo Ojo Golput.

Iklan