Tag

, , , , , , , , , ,

Malu, Ah..!

“Harusnya orang Islam malu kalau tidak menjadi pedagang atau pengusaha. Karena Nabi-nya orang Islam adalah pedagang. Ilmu perdagangan juga sudah diajarkan dengan komplit oleh Dia. Saya justru mendapat inspirasi untuk menjadi pedagang dari Nabi-nya orang Islam itu”. Kata-kata tersebut diungkapkan oleh teman saya. Ia menirukan kata-kata temannya yang non muslim dan kebetulan bareng saat mengikuti training menjadi pengusaha yang diadakan oleh Google beberapa waktu lalu.

Lalu ia renungkan  dan ia camkan kata-kata itu dengan seksama. Sesekali ia bertanya dalam dirinya sendiri, ah masak iya sih, sampai sebegitunya orang non muslim ‘memanas-manasi’ umat Islam agar menjadi pedagang. Tapi di sisi lain, ia sangat bersyukur, ketika ia memulai terjun  ke dunia dagang, seringkali bertemu dengan orang-orang yang unik. Ada salah seorang tetangganya yang ia temui. Sebelumnya ia pernah menjadi pegawai kantoran, tapi karena dilihatnya tidak ada kemajuan, lalu bapaknya memintanya untuk resign. Dia pun menuruti saran bapaknya. Kemudian ia berjualan roti bakar di depan rumahnya. Belum sampai setahun jualan roti bakar, ia sudah membukan cabang di tempat lain.

Kisah sukses orang-orang hebat dan liku-liku menjadi seorang pedagang ia jadikan sebagai semangat dan pelajaran penting bagaimana mengelola sebuah usaha. Ia yakin bahwa orang yang sukses menjadi pengusaha dimulai dari yang kecil. Tidak ada orang sukses yang langsung diraih tanpa perjuangan. Justru dengan jatuh dan bangun dalam mengelola sebuah usaha di situlah akan terdapat seni sekaligus sebagai sendi-sendi bangunan penguat. Ibarat sebuah gedung yang besar, pondasinya sudah terbangun dengan kokoh melalui ujian dan tantangan.

Dan kini ia buktikan, dalam kurun waktu kurang dari setahun, ia sudah mempunyai usaha sendiri. Ia tekuni usaha itu, ia jalani dengan sabar, ia kelola dengan serius, dan akhirnya berbuah manis. Jenis usaha yang ia jalani terbilang’langka’, yaitu berjualan Lampu Tidur Berkarakter. Selama enam bulan pertama ia berjualan barang ini, nyaris hanya disentuh dan dilihat-lihat calon pembeli. Seminggu belum tentu laku terjual satu buah, padahal ia harus menjualnya di pinggir jalan setiap malam dari setelah Maghrib hingga jam sebelas terkadang sampai jam dua belas malam.

Hampir putus asa ia menjalaninya. Namun kata-kata temannya yang non muslim itu terus terngiang di telinganya. Ia tidak mau kalah dengan orang yang tidak punya Nabi dan tidak punya teladan untuk menjadi pengusaha. Karena itu ia terus berjuang. Dan hasilnya, kini ia sudah menjadi supliyer di 5 outlet di berbagai tempat, termasuk di luar Jawa. Omsetnya minimal 10 juta perbulan padahal modal awalnya tak labih dari 500 ribu. Ia pun tidak menyesal dengan ketupusannya resign dari kerja kantoran. Kini ia sangat menikmati dunianya sebagai pengusaha. Sesekali ia tertawa kecil ketika ada temannya yang bercanda mengajak kembali bekerja kantoran. Rasa percaya diri ketika bertemu dengan temannya yang non muslim sudah semakin besar. Ia terus asah dan perkuat jiwanya sebagai pedagang agar semakin sukses dan semakin maju. Bagaimana dengan Anda?

Iklan