Tag

, , , , , , , , , ,

Kalau Memang Kebaikan Kenapa Harus Ditunda?

“Bapak, pokoknya saya minta cepet-cepet nikah. Saya tidak mau di lama-lamain lagi,” pinta seorang pemuda kepada bapaknya. Sang bapak yang baru saja pulang kerja kaget bukan kepalang. Apalagi sang ibu, yang sudah duduk santai bersamanya 30 menit sebelumnya, tapi tidak bicara tentang itu. Ia keheranan mendengar permintaan anaknya. Keduanya saling menatap sambil melempar wajah keheranan. “Hei, ini gimana ini, kok tiba-tiba minta segera nikah,” sahut sang ibu dengan suara agak meninggi. Tapi sang anak tidak ragu dengan ucapannya itu. Ia malah mengulangi permintaan itu dengan sangat mantab. “Iya, bu. Pokoknya saya pengen cepet-cepet nikah. Nggak usah dilama-lamain lagi. Saya sudah mantap. Saya sudah yakin mau berumah tangga,” makin panjang permintaan sang anak, makin habis kata-kata orang tua untuk menjawabnya.

Sekitar 4 bulan sebelumnya, pemuda ini memang sudah bertunangan dengan cewek yang dimaksudkan dalam pembicaraannya itu, bahkan sudah niat melakukan ijab kabul setahun berikutnya. Calon istri yang akan dipersunting bukanlah orang yang dia kenal sebelumnya. Ia dikenalkan orang tuanya. Kebetulan cewek ini adalah anak temannya. Ia baru pertama kali ketemu. Tapi ketika dikenalkan, sang cowok langsung jatuh hati dan mau jika menikah dengannya. Saat itu juga inginnya langsung menikah. Tidak usah pakai tunangan segala. Kalau perlu, tidak usah pakai resepsi, gak usah pakai rame-rame. Yang penting sudah sah menjadi suami-istri. Secepat itu keinginan dia untuk menjalankan sunah rasul. Karena ia sangat takut godaan syetan yang menjerumuskan ke jalan maksiat jika ia berlama-lama menunggu. Apalagi sudah bertunangan, kemungkinan untuk bertemu keduanya lebih sering. Belum lagi godaan zaman sekarang, kalau tidak benar-benar imannya kuat mudah sekali larut dalam dosa. Itulah alasan utamanya agar dia tidak menunda-nunda lagi keinginanya menikah.

Setelah diberi pengertian sedikit demi sedikit oleh orang tua dan saudara-saudaranya, akhirnya keinginannya dapat ditahan. Bukan karena ingin mengulur-ulur niat baik, tapi setidaknya ada jeda waktu untuk saling mengenal satu dengan lainnya. Perlu penyesuaian antar keduanya. Apalagi secara umur keduanya sama-sama belum matang dan masih punya tanggungjawab belajar. Yang cewek belum lulus kuliah, sedangkan yang cowok juga belum bekerja dan sedang menyelesaikan tugas akhir. Belum punya pegangan hidup untuk berumah tangga. Meskipun keduanya dari kalangan orang berpunya. Namun setidaknya bekal kedewasaan dan kematangan dalam berumah tangga keduanya masih sangat minim. Itulah alasan pokok keduanya tidak langsung dinikahkan dan menunda setahun berikutnya.

Keinginan segera menikah yang diajukan secara tiba-tiba sungguh membuyarkan rencana yang telah disusun keluarga kedua belah pihak. Persiapan ini dan itu yang dirancang usai tunangan, semuanya berubah total. Gara-gara permintaan mendadak  itu. “Pokoknya segera menikah. Tak usah pakai resepsi segala tidak apa-apa. Yang penting sudah sah”. Alasan itu kembali dijadikan senjata menekan kedua orang tuanya.

Setelah bermusyawarah dengan keluarga akhirnya semua sepakat. Sebulan lagi menikah. Ketika keputusan ini disampaikan kepada keluarga wanita sempet protes. Bahkan ada juga yang marah-marah. Kenapa begitu mendadak. Waktu satu bulan sangat cepat. Belum lagi masalah image di masyarakat. Apa kata orang nanti kok tidak ada angin tidak ada hujan, bahkan rencana sebelumnya akan menikah setahun lagi, tiba-tiba sudah menentukan tanggal pernikahan. “Ada apa ini”

Perasaan orang tua wanita sempat goncang. Dikiranya ada ini dan itu. Dianggapnya sudah terjadi hal-hal di luar syariat. Sampai-sampai keduanya ditanya, apakah niat ini benar-benar tidak ada “sesuatu”.  Akhirnya, orang tua pihak wanita menepis semua itu. “Lha wong keduanya jarang ketemu , kok mau nyangka macem-macem”. Dia pun sadar dan bisa memahami niat baik calon menantunya. Bahkan ia bilang, “kalau niat baik, apalagi bernilai ibadah, kenapa harus ditunda-tunda”.

Apa yang mendasari pemuda tersebut kemudian berubah pikiran sedemikian cepat? Selidik punya selidik, sehari sebelum meminta pernikahannya dipercepat, ia sudah diterima kerja. Dulu ia berjanji, begitu dia dapat kerja, maka dia langsung menikah. Ia ingin menunjukkan tanggungjawabnya kepada calon istrinya bahwa dia punya penghasilan, meskipun sedikit. Di samping itu, ia juga tidak ingin semakin tambah berdosa ketika dia bertemu dengan tunangannya yang belum sah menjadi istrinya itu. Paling tidak, salaman, pegangan tangan, bersentungan badan ketika dibonceng motor, berpandangan dengan nafsu hampir pasti dan tidak bisa dihindari. Sementara dalam hatinya selalu bergejolak bahwa hal itu adalah dosa, meskipun dosa kecil. Ia merasa, dari dosa yang kecil itu, beberapa hafalan hadis dan ayat Alquran yang dengan susah payah ia hafal selama bertahun-tahun sangat mudah hilang. Usaha untuk menambah hafalan hadist dan ayat pun sangat sulit dan selalu terganggu. Ia tidak mau terus begitu hanya gara-gara menunda-nunda kebaikan yang juga bernilai ibadah. Subhanallah.. (Selamat Menempuh Hidup Baru, Special for TYO).

Iklan