Tag

, , , , , , , , , , ,

Suami, Kunci Komunikasi Keluarga

Tanggungjawab sebagai seorang suami dalam rumah tangga lebih besar dibandingkan seorang istri. Ibarat sebuah kapal, seorang suami adalah nakhoda-nya. Mau dikemudikan kemana kapal tersebut berjalan, kendalinya ada pada seorang nakhoda. Mau cepat atau lambat, mau belok ataupun lurus semua tergantung suami. Termasuk bertanggungjawab terhadap resiko ketika terjadi ancaman badai ataupun ombak yang yang hampir pasti muncul di tengah perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga.

Seorang suami harus memiliki pertimbangan yang matang dalam setiap mengambil keputusan. Karena jika tidak maka yang terjadi adalah penyesalan di kemudian hari. Jangan sampai sesuatu yang telah diputuskan malah membebani atau bahkan merugikan keluarga. Akibatnya saling menyalahkan terhadap apa yang telah diputuskan itu. Lebih repotnya lagi, ketika seorang suami tidak mampu mengatasi persoalan sendiri, maka istri akan menjadi sasaran emosi. Di sinilah pentingnya komunikasi dalam keluarga. Sekecil apapun permasalahan yang dihadapi keluarga harus dikomunikasikan berdua dan dimusyawarahkan secara baik dan benar. Sehingga ketika terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan di kemudian hari maka akan ditanggung secara bersama antara suami dan istri.

Kedudukan suami dan istri dalam berkomunikasi dan bermusyawarah harus sejajar. Tidak boleh ada yang lebih dominan. Sekalipun suami adalah seorang nakhoda namun ketika pertimbangannya dirasa oleh istri tidak menguntungkan bagi keluarga maka pertimbangan itu wajib didengar. Tapi jika seorang suami memaksakan diri untuk tetap menjalankan apa yang menjadi keyakinannya, maka ia wajib menghadapi resiko yang akan terjadi kemudian hari.

Keberadaan teknologi yang serba canggih seperti sekarang ini, terkadang dapat menggeser fungsi komunikasi yang seharusnya lebih efektif dilakukan antara suami dan istri. Ini terbukti dengan masih adanya seorang suami atau istri yang berkomunikasi melalui teknologi, semisal SMS, untuk menyampaikan pendapatnya atau untuk saling mengingatkan antara satu dan lainnya dalam urusan keluarga. Padahal mereka berada dalam satu atap dan tiap hari bertemu. Inilah salah satu bentuk kegagalan keluarga dalam mengelola komunikasi dalam rumah tangga. Di sini pasti ada kesalahan cara berkomunikasi yang tidak bisa dipecahkan bersama. Dan, seorang suami, sebagai nakhoda harusnya dapat menyadari hal ini.

Terkadang ada alasan yang mendasari cara berkomunikasi pasif seperti itu. Terutama bagi salah satu pihak (terutama istri) yang takut jika menyampaikannya secara langsung. Pertimbangan lainnya, agar pihak yang diajak komunikasi tidak langsung dapat selalu inget dalam jangka waktu yang cukup lama, selama isi komunikasi tersebut tidak dihapus.

Perlu disadari bahwa model komunikasi pasif seperti itu seringkali terjadi salah persepsi, beda pengertian. Karena bahasa lisan dengan bahasan tulisan memiliki penekanan yang berbeda. Pengelolaan komunikasi pasif seperti itu seringkali merugikan keluarga. Ujungnya, terjadi mis komunikasi yang bermuara pada perselisihan bahkan pertengkaran.

Seorang suami, sebagai nakhoda rumah tangga harus dapat memahami bahasa komunikasi yang baik. Kegelisahan, ketidakberdayaan, rasa takut yang seringkali dirasakan istri, sebagai orang yang seringkali diposisikan lemah, harus dipahami seorang suami. Tidak boleh dibiarkan ketika suasana hati seorang istri mendadak berubah tidak seperti biasanya. Karena biasanya, di balik sikapnya itu bisa jadi ada sesuatu yang ingin dikomunikasikan dengan suami namun tidak berani. Adakalanya takut salah menyampaikan yang mengakibatkan suami marah atau takut timing menyampaikannya tidak tepat, seperti ketika suami pulang kerja dan sebagainya, sehingga hanya dipendam dalam hati sendiri. Suasana seperti ini harus dipahami suami. Jangan sampai kemudian istri melampiaskan isi hatinya secara tidak langsung, seperti melalui SMS.

Untuk itu, janganlah bergantung pada teknologi. Lepaskan belenggu teknologi yang sering menyita waktu kita. Biasakan komunikasi aktif face to face dalam rumah tangga agar keharmonisan keluarga terus terjaga. Luangkan waktu sejenak untuk membiasakannya.  Dan, semua itu kendalinya ada pada suami sebagai nakhoda-nya.

Iklan