Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

Jari ‘Sakti’ Vs Salam Metal

Tiba-tiba saya terusik dengan ramainya pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Selama puluhan tahun tinggal di ibu kota ini, baru sekali ini saya pergunakan hak pilih saya sebagai warga negara, yaitu ikut mencoblos pada putaran pertama pilgub DKI Jakarta. Hal ini karena terdorong rasa untuk memiliki Jakarta yang lebih baik. Siapa tahu dari keenam pasang calon yang maju di putaran pertama ada yang bisa membawa Jakarta lebih baik di banding sekarang. Lebih tertib, makin aman, tidak macet dan tidak banjir.

Tapi ternyata, putaran pertama tak mampu menjawab keinginan saya. Empat pasang calon rontok di babak pertama. Termasuk salah satu yang saya pilih. Inilah yang kemudian membuat saya harus selektif. Jangan sampai pilihan saya keliru. Meskipun satu suara, tapi ikut menentukan. Makanya saya benar-benar menghitung sejauhmana satu suara ini bisa bermanfaat bagi ibu kota. Kepada pasangan dengan nomor urut 1 (Foke-Nara) atau kepada pasangan nomor urut 3 (Jokowi-Ahok)?. Sampai saat ini masih 50:50. Yang pasti, saya ingin memanfaatkan aspirasi ini dengan sebaik-baiknya demi Jakarta tercinta. Bukan golput, apalagi apatis.

Terlepas dari semua kapasitas yang melekat pada kedua pasang calon, seperti kualitas debat kandidat, kampanye, janji-janji, pengalaman kinerja, kehebatan retorika, kelihaian mengambil hati calon pemilih, dan sebagainya, saya lebih tertarik dengan simbol-simbol yang digunakan kedua pasang calon dalam menarik simpati massa.

Symbol pertama adalah milik nomor urut 1, pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara). Pasangan yang selalu menggunakan jari telunjuk dalam setiap kampanye-nya ini menurut saya punya kans untuk menang. Kenapa, karena jari telunjuk merupakan symbol sakti dalam setiap titah dan petuah yang disampaikan. Seorang orator ulung, semisal Presiden Soekarno dan Bung Tomo dalam setiap pidatonya, ia selalu menggunakan jari telunjuk dalam menggebrak massa. Mereka membakar semangat para pejuang dengan jari telunjuk yang selalu teracungkan di atas kepala. Jari telunjuk juga seringkali dipakai seorang pimpinan dalam memberikan dorongan agar anak buah patuh dan agar mereka mau berbuat lebih baik lagi. Lebih jauh daripada itu, jari telunjuk juga diperlihatkan umat muslim ketika sampai bacaan syahadat ketika sedang shalat.

Symbol kedua dimiliki nomor urut 3, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok). Pasangan yang selalu menggunakan salam metal dalam setiap kampanyenya ini, dianggap sangat merakyat dan pro wong cilik. Salam metal dirasa paling bisa mewakili aspirasi rakyat Jakarta yang isinya sangat heterogen. Karenanya dia juga punya peluang untuk menang. Apalagi pada putaran pertama, pasangan inilah yang keluar sebagai pemenangnya. Angka perolehan suaranya jauh mengungguli calon incumbent. Karena itu dia yakin pada putaran kedua nanti nasibnya sama seperti pada putaran pertama, dialah pemenangnya.

Di sisi lainnya, kedua symbol ini sama-sama memiliki kelemahan. Pada symbol jari telunjuk, di situ terdapat kesan otoriter dan seorang yang bertangan besi. Karena seorang pimpinan yang terlalu sering menggunakan symbol jari telunjuknya dalam memerintahkan sebuah pekerjaan, maka di sini bawahan harus taat. Tak boleh membantah apalagi melawan, jika tidak ingin terkena sanksi atau peringatan. Sehingga jika pasangan ini menang, maka tidak menutup kemungkinan dialah pimpinan yang ‘bertangan besi’ dan otoriter, alias kebal dikritik, tak mau menerima masukan, (bahkan mungkin) aspirasi rakyat tak dihiraukan.

Tak ubahnya dengan salam metal. Ia juga memiliki kelemahan. Symbol yang dipopulerkan oleh fanatisme pengikut grup music metal ini memiliki sifat beringas, urakan dan tak taat pada aturan. Semua pakem-pakem norma dalam kehidupan seakan bisa ditembus dengan kebebasan ekspresi yang dimiliki oleh pengikut aliran music cadas ini. Sehingga, jika pasangan ini menang, maka kemungkinan kebebasan berpendapat dan berdemokrasi semakin liar. Perjuangan reformasi yang dimulai tahun 1998 kemungkinan semakin tak terarah dan tanpa tujuan yang jelas.

Lalu, siapa yang pantas dipilih. Nomor 1 atau 3? Keduanya sama-sama punya kelemahan dan juga punya kelebihan. Banyak survey yang memperikaran suara keduanya hampir sama. Kalaupun beda, sangat tipis. Prosentase perbedaannya nol koma. Keduanya punya peluang untuk menang dan sama-sama berpeluang untuk kalah.

Sudahlah, kita akur saja, daripada susah-susah menghabiskan energy, pikiran dan dana. Bagaimana kalau kita tinjau dari segi permainan anak-anak saja. Yaitu dengan menggunakan suit? Kalau bahasa kampungku, sut. Jari telunjuk melawan salam metal.

Jari telunjuk (satu jari) melawan tiga jari (jempol, telunjuk dan kelingking). Kita urai satu persatu. Jari Telunjuk (Foke-Nara), Salam Metal (Jokowi-Ahok)

Telunjuk vs Jempol         = Jempol Menang  (Jokowi Menang)

Telunjuk vs Telunjuk      = Drow (tidak ada pemenang)

Telunjuk vs Kelingking   = Telunjuk Menang (Foke Menang)

Nah, lho..ujung-ujungnya drow. Sama-sama punya peluang untuk menang dan sama-sama peluang untuk kalah. Namun hampir mustahil kalo suara keduanya sama persis. Pasti ada yang lebih unggul, meskipun satu suara. Dan kemungkinan satu suara yang menentukan itu adalah suara saya. Oleh karenanya, saya harus berhitung betul. Karena bisa jadi satu suara saya itulah yang menentukan nasib siapa yang menjadi pemimpin di DKI Jakarta ini. Mungkin..

Iklan