Tag

, , , , , ,

Oh Kedelai, Nasibmu Kini..

Sungguh tidak terbayang jika Indonesia akhirnya mengalami krisis kedelai. Ironisnya, kondisi ini terjadi bertepatan dengan musim Ramadhan tiba. Padahal, dulu ketika saya masih di kampung dan bergelut dengan tanaman di sawah, yang namanya kedelai, sangat melimpah, terutama di bulan Ramadhan. Mencari kedelai sama seperti mencari rumput di musim hujan. Mudah sekali ditemui. Karena hampir setiap lahan sawah ditanami kedelai. Terkadang ada yang mengombinasi di petakan sawah lainnya dengan tanaman kacang hijau. Pokoknya soal tanaman palawija, semuanya komplit.

Musim Ramadhan seperti saat ini, adalah bertepatan musim panen kedelai. Sebagian lainnya ada yang masih hijau tapi sudah siap dikonsumsi. Tak pelak jika pilihan untuk mengonsumsi kedelai bisa bermacam-macam. Direbus bareng dengan kulitnya, dibakar di sawah apa adanya kedelai dan pohonnya, direbus ketika sudah dirontokkan atau digoreng dijadikan rempeyek. Semua tergantung selera dan kesabaran orangnya.

Bagi yang malas memisahkan pohon dan kedelainya, maka langsung direbus bersamaan, seperti yang kadang dijual di pinggir-pinggir jalan. Ada juga yang dipisahkan dulu dengan pohonnya, sehingga tinggal kedelai yang masih berkulit. Ada juga yang menunggu kering dan dirontokkan dulu, setelah biji-biji kedelai terpisah dengan kulitnya barulah direbus. Ada juga yang tak sabar, yaitu langsung dibakar di sawah dengan jerami kering atau kulit tebu kering (istilah orang kampung dikropok), semua bisa dilakukan. Yang penting bisa menikmati kedelai dengan sesukanya, karena kedelai melimpah ruah.

Di musim Ramadhan seperti sekarang ini, dulu anak-anak sekolah diliburkan, termasuk saya. Maka untuk mengisi Ramadhan, banyak anak-anak yang mengisi harinya dengan bekerja mencabut kedelai di sawah. Atau istilah kerennya kerjo njabel dele. Tidak peduli panas, ataupun haus tapi karena temannya banyak, maka kerja di sawah pun terasa enjoy. Puasa pun terasa ringan.

Kebutuhan akan kedelai yang begitu besar, ternyata tak diperhatikan serius oleh pemerintah. Buktinya, sejak dulu ketika musim panen kedelai tiba, setelah para petani selesai memanen dan hasilnya siap dijual, malah tak disambut baik oleh pasar. Dapat dipastikan harga kedelai langsung anjlok. Padahal soal kualitas sangat bagus. Karena butirannya besar-besar dan manteblah kalau dilihat mata.

Pemerintah tak mengayomi petani untuk menanam kedelai dengan kebijakan yang memihak pada petani. Malah justru sebaliknya, pemerintah lebih memilih impor kedelai karena ada kepentingan bisnis para pemilik modal. Hasil panen kedelai petani tak diberi kesempatan bersaing di pasaran. Para produsen berbahan baku kedelai tak mau menerima kedelai lokal karena ada kongkalikong harga dan keuntungan dengan para pemasok kedelai. Akibatnya, sebanyak apapun kedelai lokal dihasilkan, tetap saja tidak bisa menjadi tumpuhan produsen. Hal ini disebabkan karena tidak ada kebijakan yang memihak kepada petani dan kedelai lokal yang dihasilkan oleh petani kita.

Inilah yang mengakibatkan petani enggan menanam kedelai. Karena secara ekonomi tidak begitu menguntungkan, padahal biaya proses tanam hingga panen kedelai sangat tinggi. Tak sebanding hasil panen dengan biaya tanam. Kalaupun masih ada petani menanam kedelai tak lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan sendiri. Atau daripada lahan sawahnya kosong tak bermanfaat, maka ditanamilah kedelai. Tidak ada orientasi ekonomi apapun, kecuali memanfaatkan anugerah berupa lahan sawah dan air hujan.

Kini, di kampung-kampung suasana meng-kropok kedelai sudah tidak ada lagi. Rame-rame bekerja njabel dele di bulan Ramadhan juga sudah tidak terlihat. Suara blukan orang bekerja gebug kedele juga tak terdengar lagi. Banyak lahan sawah yang dibiarkan menganggur.

Di saat negara pemasok kedelai mengalami krisis, pemerintah kita baru kelimpungan. Tempe dan tahu yang berbahan dasar kedelai, yang merupakan makanan semua kasta di negeri ini, menjadi hilang. Rasa panik pemerintah baru diperlihatkan di saat seperti sekarang ini. Padahal jika dulu-dulu mau menghargai kedelai hasil para petani lokal, mungkin tidak seperti ini. Kemana saja pemerintah kita? Apakah hanya sibuk mengurus partai politik yang dihuni para politisi busuk dan membiarkan perekonomian dikangkangi asing? Sungguh terlalu !

Iklan