Tag

, , , ,

Meyakini Kebenaran, Selama Tidak Melanggar Aturan

Saya punya teman ngaji yang kebetulan muallaf. Tapi muallaf kawakan, karena masuk Islamnya sudah 17 tahun yang lalu. Merasa ingin mendalami Islam secara serius, ia berguru ke banyak kyai dan ustadz. Ada yang didatangi ke rumah atau ke majlis pengajiannya tapi ada juga yang didatangkan ke rumahnya. Nah, kebetulan karena saya bukan ustadz apalagi kyai, maka ia meminta saya datang ke rumahnya.

Tak ada rasa jenuh apalagi malas setiap kali bertemu dengannya. Padahal sepekan tiga kali dan sudah berlangsung 4,5 tahun. Yang ada justru saya semakin semangat. Karena dia juga tambah serius dalam mendalami ilmu-ilmu agama dengan saya. Huruf arab yang tadinya tidak kenal sama sekali, kini sudah lancar membaca kitab suci Alquran, bahkan sudah khatam dan kini diulangi lagi bacaannya.

Sekarang sudah sampai pada pemahan isi Alquran. Satu atau dua maqra’ (tempat berhenti yang ditandai dengan ain), berhenti membacanya, dan ia minta dijelaskan isi dan kandungan ayatnya, meskipun hanya sekilas dengan dibacakan terjemah dan sedikit penjelasan dari saya.

Setiap kali membahas ayat orang-orang musyrik atau orang-orang kafir ia selalu memberikan tambahan penjelasan. Ini tidak lain karena ia sendiri pernah memeluk agama Kristen hingga umur 25 tahun.

Suatu saat, ketika membahas tentang bagaimana mendoakan orang musyrik, apakah boleh atau tidak, apakah doanya sampai atau tidak, ia sempat agak ngotot. Kenapa, karena setelah saya jelaskan panjang lebar bahwa mendoakan orang non muslim apalagi doa minta diampuni dosa-dosanya itu tidak mungkin diterima, karena Allah telah menyampaikan hal itu dalam firman-Nya.

Namun hal itu tidak mudah begitu saja ia terima. Sebagai seorang anak, ia ingin menjalankan kewajiban berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tua. Sementara kedua orang tuanya, masih Kristen, dan bapaknya sudah meninggal. Karena kedekatanya dengan sang Bapak ia masih rutin ziyarah ke kuburan bapaknya untuk mendoakan. Meskipun ia tahu doanya tertolak (secara lahir) namun ia ingin menjalankan perintah agama agar berbakti, berbuat baik dan mendoakan keduanya. “Kalau tidak seperti ini, berarti saya tidak dapat pahala berbuat baik kepada kedua orang tua, dong,” ujarnya sambil menyakini apa yang menjadi pemahamannya. Apalagi ketika masih hidup ia sering merayu bapak dan ibunya masuk Islam. Sampai diiming-imingi rumah, mobil dan sebagainya jika keduanya mau masuk Islam. Tapi keduanya tidak ada yang menjawab, sekaligus tidak ada yang menolaknya. Keduanya tak pernah komentar ketika diajak memeluk Islam.

Sikap diam inilah yang diyakininya sebagai kemauan dalam hati bapak-ibunya untuk masuk Islam. Makanya meskipun secara lahir belum pernah mengucapkan syahadat tapi ia meyakini bapaknya muslim. Oleh karena itu meskipun secara lahir bapaknya belum muslim, namun dalam hatinya, ia berdoa mudah-mudahan sudah muslim. Sehingga doanya diterima dan ia tetap menziyarahi kuburannya dan mendoakan bapaknya. Bahkan ia seringkali hidupnya merasa bersalah ketika dalam satu bulan tidak menziyarahi kuburan bapaknya. Sampai-sampai berkata kepada saya, “saya paling nggak bisa kalau tidak ke kuburan bapak, kenapa ya pak?,” ujar dia kepada saya, meskipun secara umur beliau lebih tua dua tahun dibanding saya.

Beberapa contoh serupa saya sampaikan kepadanya. Termasuk ketika Nabi Muhammad mendokan agar pamannya Abu Thalib masuk Islam, kemudian dijelaskan Allah dalam firman-Nya, ‘Kamu tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang kau cintai karena Allah memberikan hidayah kepada mereka yang Ia kehendaki,’. Dan beberapa penjelasan lainnya.

Namun karena ia meyakini bahwa apa yang dilakukan adalah bukan larangan, sekaligus ingin menjalani perintah sebagai seorang anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya, maka ia tetap mendoakan bapaknya, meskipun secara lahir belum memeluk Islam. Bagaimana menurut Anda ?

Iklan