Tag

, , , , , , , , , , ,

Mendamba Kebahagiaan Rumah Tangga Ala Rasulullah

Rumah adalah tempat kita menghirup ketenangan. Dan, kebahagiaan hidup tersimpan di balik hubungan harmonis sepasang suami istri. Siapa di antara kita yang tidak mendambakan rumah tangga tenang, istri yang sehaluan, dan anak-anak yang berbakti sebagai buah hati dan cahaya kebahagiaan ? Tentu semua orang mendambakannya.

Tetapi faktanya, tidak semua orang mampu mendirikan rumah semacam itu. Sebab, rumah demikian bukan terbuat dari bangunan batu, semen, dan kayu. Bukan pula terbangun dari emas, pakaian megah dan aksesoris indah. Kebahagiaan rumah tangga tidak terletak pada harta melimpah dan fasilitas hidup yang serba mewah, tetapi pada kesediaan setiap individu untuk mengalah dan berkorban. Lebih-lebih sang ayah selaku kepala rumah tangga yang memikul tanggung jawab untuk memimpin, membimbing, memberi teladan baik dan kebajikan sempurna kepada seluruh anggota keluarga.

Mungkin di antara kepala keluarga ada yang tidak siap menjalankan fungsi kepemimpinannya, tidak sanggup bertindak bijak, atau tidak tahu bagaimana menyikapi berbagai kesulitan dan persoalan pelik rumah tangga. Atau, mereka berinteraksi dengan seluruh komponen keluarga secara lugas ; tidak tahu bagaimana cara berbuat bijak, membuat keteladanan, dan menyuguhkan pendidikan yang layak. Rumah jadi oleng, segala urusan rumah tangga kacau balau.

Sebenarnya, bagi yang diberi kemudahan oleh Allah, membangun rumah tangga harmonis tidaklah sulit. Cukup mendasarkan segala urusan rumah tangga pada apa yang diteladankan Nabi Muhammad Saw., meniru dan mengikuti jejak beliau. Juga menapaki jalan kebahagiaan yang ditunjukkan dengan cemerlang oleh beliau bersama istri dengan segala kecenderungan, lingkungan, dan pola pendidikan mereka yang beragam. Semua hidup bersama beliau penuh kerelaan dan keharmonisan, meski sesekali diselingi riak perselisihan dan guncangan, atau suasana yang sedikit memanas, tetapi semua itu berklimaks happy ending.

Kita semua belajar bagaimana Rasulullah Saw., menangani setiap persoalan yang mencemari ‘cuaca jernih’ rumah tangga dengan sikap bijak, lembut, dan penuh toleransi. Sikap yang, tentu saja, tidak menyimpang dari garis keridhaan Allah dan tidak mengurangi rasa saling cinta di antara mereka. Sikap demikian selalu tercermin pada diri beliau, baik ada petunjuk langsung dari Alquran maupun tidak.

Bila dituntut keras, Nabi keras ; bila dituntut marah, beliau marah. Tetapi, kekerasannya tidak disertai tongkat. Kemarahannya tidak diikuti pecut. Tak ada tangan melepaskan pukulan. Tak ada umpatan bernada menghina dan melukai perasaan. Dan tak lama, segera setelah itu, beliau jadi lembut dan lunak.

Tidak pernah Nabi membebankan kesalahan dan kesulitan kepada orang-orang di sekitarnya. Keberadaan beliau tidak lantas menghapus keberadaan keluarga, bahkan pembantu beliau. Pendapat mereka diperhatikan. Siapapun yang berbicara disimak dengan penuh antusias, baik anak-anak maupun orang tua, rakyat jelata maupun raja. Beliau tanggung penderitaan mereka, dan bersikap lembut sejauh mereka berada di rel kebenaran. Jika diketahui menyimpang, tak segan mereka ditegur beliau dengan sopan, dimaafkan lalu diajak kembali pada kebaikan.

Rumah Nabi adalah rumah sakinah berlimpah rahmah. Semua merasakan ini ; budak, pembantu, tamu dan siapapun yang datang ke rumah beliau. “Dan tidaklah Kami utus Engkau, Wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam”

Nabi adalah manusia biasa layaknya manusia pada umumnya. Rumah beliau tak berbeda dengan rumah para sahabat. Tak ada keistimewaan apa-apa, baik bentuk maupun pola hidup sehari-hari. Para sahabatnya berusaha mencontoh beliau, ingin seperti beliau dalam segala hal. Sebagian kecil ada yang berhasil. Beliau sukses membangun tatanan masyarakat madani yang berpengaruh dan didambakan para pemikir dan ilmuwan sepanjang zaman. Semoga kita mampu mencontoh kebahagiaan rumah tangga yang ditunjukkan Nabi dalam kehidupannya. Amin.  [bilik2cintamuhammad]

Iklan