Tag

, , , , , , , , , ,

Si Biru Favoritku

Entah dari mana asal usul saya ngefans berat dengan club bola yang satu ini, saya sendiri lupa. Dulu, jangankan sampai ngefans berat, nonton pertandingan sepak bola saja malasnya nggak ketulungan. Tak peduli sepak bola luar negeri, apalagi sepak bola dalam negeri yang sering rusuh. Tapi semenjak saya bertemu dengan para gibol-gibol (gila bola) di kampus saat saya kuliah tahun 97an, akhirnya mau tidak mau terpaksa saya harus mengikuti perkembangan sepak bola, terutama sepak bola luar negeri. Biar tidak dibilang ketinggalan zaman.

Nama-nama club hebat dan pemain-pemain terkenal yang setiap event dunia diulas komplit di media massa, membuat saya dipaksa untuk mengikuti perkembangannya. Lagi-lagi biar tidak mlongok doang setiap ada teman yang bicara soal bola dan pemain-pemain kesukaannya. Dari situlah kemudian muncul rasa keberpihakan saya terhadap club bola dan pemain-pemainnya yang hebat-hebat.

Tahun 2004, ketika digelar piala Eropa di Portugal, di mana Yunani memenangi duel dengan tuan rumah dengan skor 1-0 adalah titik awal saya mengikuti pertandingan-pertandingan hebat kelas dunia. Mulanya, dari pesona ketampanan kiper Petr Cech yang tampil gemilang di babak semifinal antara Chelsea vs Yunani. Meskipun akhirnya Chelsea kalah, tapi penampilan hebat semisal Lampard yang punya andalan tendangan gledek dan kiper Cech tadi membuat saya jatuh hati dengan club asal London yang diarsiteki Jose Mourinho ini.

Tak terasa, ketika musim Liga Inggris 2006 tiba, saya mulai membeli pernik-pernik club kesukaan saya itu. Mulai dari stiker sampai gantungan flash disk –yang saat itu masih merupakan teknologi baru. Apalagi Chelsea keluar sebagai pemenang Liga di tahun tersebut 2006/2007 membuat saya semakin suka dengan club yang di dalamnya ada pemain bengal tapi hebat, yaitu Drogba. Akhirnya jatuhlah pilihan club favorit bola dunia saya kepada Chelsea. Ya, “The Blues” Chelsea. Si biru yang kebetulan saya juga memaforitkan warna itu.

Tahun-tahun berikutnya Chelsea semakin menunjukkan tajinya di hadapan club-club bola dunia. Perkembangan demi perkembangan tak luput dari pengamatan saya hingga akhirnya saya menyukai permainan sepak bola secara umum. Tak hanya fanatic terhadap satu club tapi saya suka dengan apa yang terjadi pada industri sepak bola bola dunia. Yang akhirnya pada sebuah kesimpulan, bahwa di dunia sepakbola, semuanya ada ; ada ekonomi, politik, taktik, strategi, hiburan, asmara dan sebagainya. Pokoknya Komplit! Karena dalam banyak sisi, sepakbola adalah cermin dari kehidupan. Seringkali kita tak pernah paham mengapa seseorang bisa mencapai posisi terhormat, mencapai gelar tertinggi, meski rasa-rasanya tidak layak atau kurang pantas. Namun kehidupan juga seringkali mengajarkan, tidak semua hal bisa dinalar lurus, seringkali hadir misteri-misteri keadilan yang juga tak kita pahami. Di sinilah kemudian saya semakin suka dengan pertandingan sepakbola. Dan, club favorit saya, Chelsea, di tahun 2012 ini mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya menjadi pemangku tahkta Eropa dengan sepenggal catatan kehidupan sebagaimana disebutkan di atas.

Meskipun terseok-seok mengejar nilai di Liga Inggris dan tertatih-tatih saat di 16 besar liga Champions namun akhirnya semua bisa terlewati. Apalagi saat mencapai semifinal bersama club-club hebat Barcelona, Bayern Muenchen, dan Real Madrid setali tiga uang, hampir tak ada yang menyebut Chelsea tampil di final. “Road to Muenchen” paling sering menyebut galacticos yang lain untuk kemungkinan perjumpaan Real Madrid dan Barcelona atau Bayern versus Barcelona sebagai final liga champions ideal.

Tapi kenyataannya, semua ramalan itu rontok. Dengan strategi bertahan total, sang arsitek Di Matteo menyuruh “memarkir bus” di kotak pinalti saat di semifinal melawan Barcelona. Hasilnya, meskipun terpaksa tos-tosan adu pinalti, tapi Chelsea memenangi pertandingan itu. Hal serupa akhirnya terjadi saat di final menghadapi tuan rumah, Bayern Muenchen. Meskipun banyak dituduh menerapkan sepakbola negative tapi gaya bertahan Chelsea makin menunjukkan hasilnya.

Di saat hari-hari menunggu pertandingan final Liga Champions, saya ingin memiliki pernak-pernik yang lebih kelihatan dibanding sebelumnya. Setidaknya bisa saya tunjukkan kepada siapa saja, bahwa saya penggemar Chelsea. Akhirnya jatuhlah pilihan saya untuk membeli kaos club tersebut.

Belum sampai terwujud keinginan untuk membeli kaos, tiba-tiba salah seorang teman saya bertanya tentang club kesukaan saya. Tanpa pikir panjang, saya sebutkan Chelsea. Tanpa dinyana, beberapa hari kemudian, dia memberikan hadiah kaos club favorit saya itu. Hmm..tengkyuuuh.

Akhirnya, saat tiba pertandingan final Liga Champions kaos kesukaan saya itu saya pakai sembari nonton laga final. Meskipun diserang rasa kantuk yang teramat sangat karena berlangsung mulai pukul 02.00 sampai pukul 04.30an, terbayar sudah perjuangan nonton final pagi itu, karena Chelsea sukses mengalahkan tuan rumah dan keluar sebagai juara Liga Champions untuk pertama kalinya. Sukses buat Chelsea!

Iklan