Tag

, , , , , , , ,

Pelajaran dari ‘Tetangga Yang Berisik’   

Puluhan bahkan ratusan juta pasang manusia di seluruh dunia tadi malam menyaksikan drama perebutan tahta juara Liga Inggris musim 2011/2012 di televisi antara Manchester City dan Manchester United. Sungguh luar biasa menegangkan. Terutama di menit-menit terakhir. Saya sendiri hampir-hampir tidak percaya jika akhirnya City bisa memenangkan pertandingan tersebut. Karena sampai perpanjangan waktu dari 90+5 gelar juara yang hampir sudah di tangan MU, ternyata berubah total di dua menit terakhir saat pertandingan akan selesai.

Saya tidak ingin mengkilasbalik bagaimana jalannya pertandingan duo Manchester yang sering dibilang rival satu kota itu, karena sudah banyak analis dan komentator berseliweran yang juga cukup menarik diikuti baik melalui media sosial seperti facebook dan twitter. Di sini saya ingin mengambil pelajaran penting dari pertandingan yang dramatis dan bikin spot jantung itu.

Pertama, pentingnya peran seorang pemimpin, dalam hal ini Roberto Mancini dalam membuat strategi ‘menjatuhkan lawan’. -Ini sah-sah saja dalam sebuah pertandingan-. Sejak pertengahan musim, Mancini sudah mengunggulkan MU sebagai kandidat juaranya. Statement Mancini tersebut diulang-ulang dan di blow up media masa. Cara seperti ini, dari segi mental, jelas ini tidak menguntungkan bagi MU karena biasanya, pihak yang disanjung-sanjung, terutama oleh rivalnya, membuatnya terlena, besar kepala dan akhirnya jatuh. Sebab sebuah sanjungan terkadang bisa menjadi bumerang yang mengancam dirinya jika tidak ada self control. Apalagi dalam catatan sejarah, MU sudah 20 kali mengangkat tropi Liga Inggris. Sebuah prestasi yang tidak perlu diragukan lagi. Namun catatan perjalanan City juga layak disimak sepanjang musim ini sebagai bahan pertimbangan MU.

Strategi ciamik Mancini ternyata berbuah manis. Di paruh kedua sisa musim berlangsung, MU semakin merosot penampilannya. Mereka melewati pertandingan selalu menelan pil pahit kekalahan. Sebaliknya, City terus menunjukkan tajinya dan grafiknya terus meningkat. Kemenangan demi kemenangan mereka raih. Point demi point mereka kumpulkan. Hingga akhirnya nilai keduanya sama dan ditentukan pada pertandingan terakhir tadi malam itu.

Jadwal pertandingan kedua Manchester, sengaja dibarengkan. Hanya saja dari segi tempat bermain, City lebih diuntungkan. Karena bermain di kandang sendiri, Etihad Studium. Selama pertandingan musim ini, City belum pernah kalah ketika bermain di kandangnya. Ditambah dengan performa apik yang selalu ditampilkan ketika berhadapan dengan QPR (Queens Park Ranger), yakni belum pernah kalah. Berbeda dengan MU yang bermain tandang, di tempat Sunderland. Jam perminan kedua Manchester juga sama. Sehingga secara psikologis tidak ada yang diuntungkan.

Saya sendiri labih banyak nonton pertandingan MCity kontra QPR, dan selang 3 sampai 5 menit pindah channel ganti nonton MU vs Sunderland. Dari awal permainan City jelas tidak berimbang karena posisi bola jauh didominasi City dibanding QPR. Meskipun akhirnya dua kali kebobolan karena blunder pemain sendiri dan lemahnya pertahanan belakang City.

Pelajaran kedua, jangan menyerah dan jangan patah semangat. Terus berjuang sampai batas akhir perjuangan itu benar-benar selesai. Kondisi mental City yang sampai memasuki menit ke 90, dalam kondisi tertinggal 2 goal, jelas goyah. Di sini perlu keseimbangan jiwa, ketenangan dan ketahanan mental para pemain dan fokus mengejar kemenangan di sisa waktu yang ada. Ibarat kata ‘Ini rumah gue, mosok kalah sama tamu. Apalagi selama satu musim ini, belum pernah kalah main di rumah sendiri’. Jika tidak dipacu semangat seperti ini, ditambah peran pelatih yang memberikan intruksi dari luar lapangan, tentu tidak semangat lagi dalam menjalani pertandingan di sisa-sisa waktu yang ada.

Sementara di tribun penonton tak sedikit terlihat wajahnya pucat pasi, raut kesedihan, ekspresi kekecewaann bahkan tidak sedikit pendukung yang telah menangis di saat injury time.

Akhirnya dengan perjuangan yang sangat gigih. Serangan dari awal yang terus membombardir pertahanan QPR, di saat-saat kritis dan sangat menegangkan, akhirnya tanda-tanda keberhasilan perjuangan itu mulai tampak. Menit ke 92 City mampu menyamakan kedudukan. Yang artinya, skore antara MU dan City semakin mendekat.

Perjuangan terus berjalan. Yel yel semangat dari para pendukung di tribun penonton, terus digelorakan. Pertandingan pun belum selesai. Tiga menit waktu tersisa tidak disia-siakan City. Kegigihan yang ditampakkan sejak awal terus diasah. Hingga akhirnya hasil dari semua perjuangan itu, berbuah manis. Satu goal penentu dilesakkan oleh Sergio ‘Kun’ Aguero. Inilah buah dari semangat dan semua perjuangan yang ditampilkan dalam permainan City. Selama 44 tahun tahta juara dinanti-nantikan. Dan akhirnya berhasil. Sungguh, sebuah perjuangan yang tidak sebentar. Namun dengan segala daya dan upaya untuk meraih keberhasilan itu akhirnya berbuah manis. Tuduhan ‘sebagai tetangga yang berisik’ yang dilontarkan dari rival sekotanya, kini dibalas dengan prestasi. Inilah hasil perjuangan orang-orang yang gigih yang layak untuk ditiru.

Iklan