Tag

, , , , , , , , ,

Pertanggungjawaban Seorang Pemimpin

Setiap kita adalah pemimpin. Pemimpin bagi dirinya sendiri dan orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya. Karena itu, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kita. Bagi seorang bapak, ia akan ditanya tentang apa yang telah dilakukan terhadap anak, istri dan keluarganya. Bagi seorang ibu, akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat terhadap suami, anak dan keluarganya. Bagi yang masih sendiri dan belum punya tanggungan keluarga pun, tetap akan dimintai pertanggungjawaban, terutama terhadap waktu, umur, kesehatan, rizki yang telah dianugerahkan kepadanya. Digunakan untuk apa saja semua anugerah yang diberikan itu, apakah di-tasharruf-kan, digunakan untuk hal-hal yang bernilai ibadah atau justru sebaliknya, yakni digunakan semaunya sendiri tanpa tujuan ibadah, atau malah digunakan untuk foya-foya yang tak bernilai selain mengikuti hawa nafsu.

Itu konteks pemimpin dalam lingkup kecil. Sedangkan konteks pemimpin dalam lingkup yang lebih luas, pertanggungjawabannya juga lebih luas lagi. Misalnya pemimpin di pemerintahan/organisasi/lembaga/kelompok tertentu. Ia tidak hanya ditanyai di akhirat nanti apa saja yang dilakukan terhadap organisasinya tapi untuk konteks kekinian, ia juga dinilai sejauhmana ia mampu membawa kemajuan organisasi tersebut. Nilai kemajuan diukur dari berbagai faktor. Di antaranya, kemajuan secara fisik organisasi tersebut, keilmuan personal yang ada di dalam organisasinya, kesehatan keuangan, kinerja organisasi secara umum, peningkatan kesejahteraan karyawan, rasa memiliki terhadap organisasi, dan elemen-elemen penilaian lainnya yang masih banyak lagi.

Proses perjalanan sebuah organisasi juga menjadi pelajaran yang sangat penting yang harus menjadi perhatian seorang pemimpin, karena selama proses itu berlangsung, banyak pelajaran yang bisa didapatkan. Bahkan ada sebagian pakar yang mengatakan bahwa sebuah proses lebih penting dibandingkan tujuan itu sendiri. Di sinilah peran penting seorang pemimpin. Sejauhmana ia dapat mewarnai proses perjalanan organisasi itu. Seberapa besar ia memberikan kontribusi ilmu dan pengalaman bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Selama ia dapat memberikan kontribusi ilmu, pengalaman, pemikiran yang cemerlang dan brilian maka keberhasilan kepemimpinan akan dapat dirasakan. Kebijakan-kebijakan yang mendukung terhadap keberhasilan dan pertimbangan-pertimbangan penting yang membawa kemajuan organisasi juga menjadi bagian yang harus dapat ditunjukan seorang pemimpin dalam organisasinya. Apalagi melihat perkembangan global yang mutlak harus dihadapi, maka terobosan-terobosan langkah dan pemikiran jitu akan menjadi ukuran keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin organisasinya.

Setiap orang pasti ingin maju dan berkembang. Keterlibatan seseorang di dalam organisasi tak semata hanya karena orientasi materi, mendapat gaji. Banyak niat disertakan dalam aktifitas di organisasi atau di lembanganya. Yang utama adalah ibadah dan menjalankan perintah agama. Orientasi tambahannya adalah setidaknya ingin menimba ilmu dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Karena pengalaman adalah guru kehidupan yang paling berharga. Karena pengalaman adalah pelajaran yang tidak bisa dipelajari langsung melalui bangku sekolah/kuliah. Proses mendapatkan ilmu dan pengalaman dilaksanakan secara bersama-sama oleh seluruh personil yang terlibat di dalamnya. Namun hal ini tidak akan berlangsung terencana tanpa peran seorang pimpinan.

Setiap personil dalam organisasi tentu ingin maju dan berkembang. Keinginan ini harus menjadi perhatian tersendiri oleh pimpinan. Jangan sampai keinginan dan potensi besar itu dibiarkan begitu saja sehingga tidak teraktualisasikan. Pemimpin harus cermat dalam menilai mana personil yang cepat beradaptasi dan punya potensi berkembang, mana personil yang punya keinginan berkembang kuat namun kemampuannya pas-pasan. Keduanya sama-sama berpotensi untuk berkembang. Ada personil yang hanya dengan sedikit sentuhan dan arahan akhirnya bisa langsung melejit berkembang pesat, tapi ada juga yang perlu dipandu didampingi sampai batas waktu tertentu. Keduanya sama-sama menjadi aset penting dalam memajukan organisasi. Karena keberhasilan seorang pimpinan dalam menjalankan roda organisasi tidak hanya one man show, sendirian, tapi keterlibatan personal lainnya dan kebersamaan di antara mereka juga menjadi faktor kunci keberhasilan organisasi secara keseluruhan.

Seorang pemimpin harus mendorong dan memberi kesempatan personal lainnya atau bawahannya untuk berkembang dan maju. Jangan sampai dibiarkan begitu saja hingga personil lainnya berinisiatif sendiri. Ibaratnya, bagi yang ingin maju silakan berinisiatif sendiri, bagi yang tidak ingin maju ya silakan menjalankan rutinitas reguler itu itu saja tanpa ada peningkatan dan kemajuan secara signifikan dari waktu ke waktu. Kondisi seperti ini, memang satu sisi memberi kesempatan luas bagi yang ingin maju sendiri, namun di sisi lain justru semakin ‘membunuh’ mereka yang cenderung pasif. Tipe pemimpin seperti ini jelas sangat egois, kurang mendidik dan ingin maju sendiri. Karena pada diri setiap orang yang terlibat dalam organisasi adalah ingin mendapat ‘pengayom’ dan arahan dari seorang pemimpin. Karena sudah menjadi kelaziman bahwa dipilihnya seseorang untuk menjadi pemimpin, pasti memiliki kelebihan-kelebihan dibanding orang yang dipimpinnya. Baik kelebihan dari segi ilmu, pengalaman, relasi, pemikiran dan sebagainya. Yang kesemuanya itu ingin juga dirasakan dan didapatkan oleh personil lainnya melalui arahan, peluang dan kesempatan yang diberikan demi kemajuan dan peningkatan personil lain atau bawahannya.

Keberhasilan seorang pemimpin juga diukur dengan sejauhmana ia mampu melahirkan generasi yang lebih baik dibanding kepemimpinan di eranya. Harus mampu manjadikan organisasinya lebih maju dan makin berkembang dibanding masanya.Untuk dapat mencapainya harus dibangun sebuah sistem dan tata nilai yang baik. Karena dengan sistem dan tata nilai yang baik, siapapun pemegang estafet kepemimpinan berikutnya sudah dibekali dengan sistem yang rapi.

Dengan begitu maka, pertanggungjawaban sebagai seorang pimpinan ketika ditanyai oleh Allah nanti, dapat dijawab sesuai kapasitas dan ikhtiar yang dijalaninya. Selama unsur-unsur kepemimpian sudah dilaksanakan dengan baik, benar, adil, memberi kesempatan dan peluang untuk maju, menjadikan personil lainnya merasa ‘diorangkan’, insya Allah akan lulus dan berpredikat baik di hadapan-Nya. Begitu juga apresiasi, pujian dan penghargaan atas keberhasilannya memimpin organisasi tersebut juga akan didapatkan. Yang pada gilirannya, unsur dunia dapat, nilai akhirat pun dapat. Insya Allah.

Iklan