Tag

, , , ,

Menguji Keimanan

Kembali saya dihadapkan dengan ujian keimanan. Kali ini soal kejujuran. Suatu saat, ketika saya menikmati liburan bersama keluarga, saya melihat sebuah pemandangan yang berbeda. Di pojok halaman sebuah masjid, saya dapati sebuah lemari es yang memajang beraneka ragam minuman ringan. Seusai shalat, anak saya yang paling kecil sepertinya sudah mengamati lemari sejak tadi. Padahal tempatnya sudah di pojok tanpa lampu, namun karena warna-warni kemasan minuman yang disorot dari dalam lampu lemari es yang memikat, membuat anak kecil kepincut untuk mendekatinya. Kemudian, tangan saya ditarik dan digelandang ke depan lemari tersebut.

Ketika sampai di depan lemari, sejenak saya menunggu penjualnya. Sementara anak saya sudah tidak sabar lagi ingin segera mengambil minuman kesukaannya. Beberapa saat kemudian, saya tetap tidak mendapati seorang pun yang menjaganya. Tengok kanan, tengok kiri, tetap saja nihil. Tapi di samping kedua lemari es tersebut, terdapat kotak –mirip kotak amal– diletakkan di atas meja.

Sepertinya kedua lemari es ini ‘sengaja’ tidak ditunggu oleh orang, melainkan hanya ‘ditunggui’ oleh kotak pembayaran bagi siapapun yang ingin ‘mengambil’ atau tepatnya membeli minuman yang tersedia di lemari es. Pembeli tidak usah bertanya berapa harganya, karena di setiap rak lemari es, dengan berbagai label dan merk, sudah tertera harganya dengan jelas, termasuk harga pecahan lima ratusan.

Karena anak saya sudah tidak sabar ingin segera minum, bismillah saya masukkan uang sesuai harga dan jumlah air minum yang tadi saya ambil. Selang beberapa saat kemudian, beberapa orang mendekati saya ikut ‘mengambil’ minuman yang ada di lemari. Dia tanya kepada saya, di mana penjualnya, lalu saya bilang dari tadi tidak ada orang yang menjaga di sini. “Kalau ibu mau beli, silakan uangnya dimasukkan ke dalam kotak ini,” ujar saya sambil menunjukkan kotak di samping lemari es.

Apa yang dipraktekkan di masjid ini, mirip seperti yang ada di airport. Hanya saja bedanya, kalau di airport, uang yang dimasukkan ke dalam lubang uang, harus sesuai dengan label yang tertera. Misalnya harganya lima ribu, uang yang kita masukkan harus sama, yaitu lima ribu. Jika tidak sesuai (misalnya lebih kecil nominalnya), maka minuman kemasan yang kita inginkan tidak bisa kita dapati. Tapi di halaman masjid ini, modalnya hanya satu, yaitu kejujuran. Pembeli diuji kejujurannya ; yakni membayar sesuai harga tertera. Kalaupun pembeli mau curang, tetap saja bisa, misalnya harganya lima ribu, sementara uang yang dimasukkan ke dalam ‘kotak pembayaran’ hanya seribu rupiah. Karena lemari es tersebut tidak memberlakukan screening nominal uang. Lemari dalam kondisi terbuka, siapapun bisa mengambilnya, termasuk orang yang ingin berbuat nakal, seperti mencuri.

Di sinilah keimanan seseorang diuji. Mau jujur atau mau curang tidak ada yang tahu, kecuali dirinya sendiri dan Allah, tentunya. Siapa saja yang bermaksud ke masjid, entah niat shalat, sekedar istirahat, neduh, atau bahkan sekedar buang hajat, bisa saja ‘nyambi’ dengan berbuat curang di lemari es itu. Mungkin di sinilah perbedaan antara airport dan masjid. Kalau di airport, secara bisnis, orang tidak mau rugi dengan display dagangannya, sementara di masjid, antara untung dan rugi bukan terletak semata pada jumlah uang yang didapat, melainkan sebuah ‘keberkahan’, yang diperoleh dari kejujuran pembelinya.

Masih banyak ujian kejujuran yang kita hadapi sehari-hari. Misalnya soal absen bagi karyawan kantor atau guru yang masih menggunakan absen manual. Bisa saja dia menuliskan kehadiran sebelum jam masuk kantor, padahal kenyataannya dia telat. Begitu juga dengan jam kantor atau jam kerja yang seharusnya dia gunakan bekerja untuk kepentingan kantornya, tapi nyatanya, digunakan untuk kepentingan side jobs lainnya. Bisa saja dengan alasan keluar kantor untuk menemui klien lah, atau dengan menggunakan fasilitas kantor untuk digunakan kepentingan side jobs atau kepentingan pribadinya.

Semua itu yang tahu hanyalah dirinya sendiri dan Allah. Namun ingatlah bahwa Allah mengetahui sampai pada hal-hal terkecil yang kita kerjakan, di manapun dan apapun bentuknya.

Masih banyak ujian kejujuran yang kita hadapi sehari-hari. Misalnya soal absen bagi karyawan kantor atau guru yang masih menggunakan absen manual. Bisa saja dia menuliskan kehadiran sebelum jam masuk kantor, padahal kenyataannya dia telat. Begitu juga dengan jam kantor atau jam kerja yang seharusnya dia gunakan bekerja untuk kepentingan kantornya, tapi nyatanya, digunakan untuk kepentingan side jobs lainnya. Bisa saja dengan alasan keluar kantor untuk menemui klien lah, atau dengan menggunakan fasilitas kantor untuk digunakan kepentingan side jobs atau kepentingan pribadinya.

Semua itu yang tahu hanyalah dirinya sendiri dan Allah. Namun ingatlah bahwa Allah mengetahui sampai pada hal-hal terkecil yang kita kerjakan, di manapun dan apapun bentuknya.

Iklan