Tag

, , , , , , ,

Selalu Telat dan Tidak Pernah Datang Duluan

Wow..

Betapa tidak enaknya seseorang yang diberi predikat seperti itu. ’Selalu Telat dan Tidak Pernah Datang Duluan’. Dua ungkapan yang memiliki makna yang cukup mendalam. Ungkapan pertama, ’Selalu Telat’. Ini menunjukkan sebuah ungkapan bahwa tidak mungkin orang menggunakan kata-kata selalu jika belum menjadi kebiasaan. Kata selalu akan dipakai ketika perbuatan itu dilakukan lebih dari dua atau tiga kali. Atau malah setiap kali, bahkan sudah pasti, bahwa dalam kesempatan yang sama dan dihadiri oleh orang yang sama, lalu orang yang diberi predikat selalu tadi memang sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan. Telat. Sehingga saking seringnya itu, dipakailah kata selalu untuk ditujukan kepada orang yang terbiasa dengan tindakannya.

Banyak alasan seseorang untuk datang terlambat. Tapi sebaliknya, banyak kesempatan pula seseorang untuk tidak datang terlambat atau bahkan datang duluan dibandingkan dengan lainnya. Misalnya dalam sebuah pertemuan. Waktu dan jam pertemuan sudah diinformasikan jauh-jauh sebelumnya. Jika memang menjadwalkan untuk datang, perkiraan waktu perjalanan dan kesibukan lain sudah dapat diantisipasi sebelum berangkat. Jika perjalanan jauh atau kemungkinan macet diperjalanan, mestinya bisa dikalkulasi. Karena biasanya, setiap orang, sudah memiliki perkiraan waktu perjalanan dari tempat dia berada menuju tempat yang dituju. Dengan begitu maka, kalaupun dia masih juga telat dan itu hanya sesekali, sudah barang tentu dapat dimaklumi dan tidak sampai diberi predikat selalu.

Ungkapan kedua, ’Tidak Pernah Datang Duluan’. Ungkapan ini juga menunjukkan seseorang yang diberi predikat itu tidak memiliki dedikasi yang tinggi. Datang lebih dulu dibandingkan dengan yang lain, itu menunjukkan perhatian yang lebih dari seseorang terhadap acara/undangan yang diadakan. Jika hanya datang tepat waktu, atau lima menit sebelum atau sesudah dari waktu diundangannya, maka itu menunjukkan seseorang yang disiplin. Ini masih taraf wajar. Karena jika diundang jam 10.00 lalu dia datang jam 9.55 atau jam 10.05, atau tepat jam 10.00 berarti dia disiplin. Wajar dan memang seharusnya begitu. Namun jika dia datang 15 sampai 30 menit sebelumnya, berarti menunjukkan keseriusan dan perhatian yang lebih terhadap acara atau pemilik acara.

Disiplin tepat waktu memang masih sangat rendah dalam kehidupan keseharian masyarakat kita. Kalaupun mereka bisa menjalankan, biasanya dengan cara ‘dipaksa’. Misalnya dengan diberi sanksi, teguran bahkan punishment, berupa, misalnya pemotongan uang makan/uang transport. Dengan cara seperti itu, maka disiplin dan datang tepat waktu baru bisa ditegakkan. Sementara disiplin di forum-forum terbuka, misalnya rapat, diskusi, seminar, disiplin tepat waktu masih sangat rendah bahkan sulit untuk diterapkan. Hal ini disebabkan karena ketidaksiplinan itu sudah menjadi kebiasaan. Semisal ada ungkapan ; ‘Kalau undangan jam 9.00 berarti mulainya jam 10.00’. Klaim bahwa ‘jam karet’ masih berlaku, itu seharusnya dibuang jauh-jauh. Karena selama menganggap ‘jam karet’ masih berlaku, tentu penegakan displin tepat waktu tidak mungkin bisa berjalan.

Memang perlu membiasakan diri sendiri untuk bisa memiliki disiplin dan kebiasaan datang tepat waktu. Orang yang sudah terbiasa datang tepat waktu atau bahkan datang lebih dahulu, biasanya punya rasa malu jika datang terlambat. Apalagi dalam forum tersebut ada orang-orang penting yang lebih dahulu datang. Biasanya, mereka yang datang terlambat akan minta maaf kepada yang datang duluan, ketika dirinya mendapatkan kesempatan bicara di hadapan audiens. Meskipun terasa ada ‘pemakluman’ tapi hal itu sangat klise, sekedar pembelaan terhadap sikapnya. Orang lain tentu akan memiliki penilaian yang berbeda. Ada yang maklum, ada yang datar, ada juga yang –mungkin– sampai pada tataran sinis. Apalagi di forum tersebut ada mereka yang dianggap sebagai pimpinan/tokoh dan datang tepat waktu. Harusnya malu.

Disiplin datang tepat waktu, atau bahkan datang lebih dahulu, memang sebuah kebiasaan yang perlu dilatih. Kebiasaan ini tidak muncul tiba-tiba dalam diri kita. Ia perlu dilatih dan dibiasakan secara terus menerus setiap hari. Dimulai dari hal-hal kecil dan terasa sepele dalam kehidupan keseharian kita di manapun ; di rumah, di tempat kerja, di jalan dan sebagainya.

Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dari kebiasaan datang tepat waktu. Paling tidak, bagi diri kita sendiri, yakni berupa adanya perhatian serius terhadap yang mengundang, menyenangkan tuan rumah. Keuntungan lain, apabila semua yang diundang bisa datang minimal tepat waktu, maka lebih efisien waktu. Hal-hal penting yang akan dibicarakan, dapat dimusyawarahkan sampai tuntas tanpa ‘mengambil’ waktu berikutnya.

Ajaran disiplin tepat waktu sudah disebutkan dalam syariat Islam. Misalnya shalat pada waktunya. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa salah satu ibadah yang dicintai Allah adalah shalat tepat pada waktunya. Ajaran ini disampaikan kepada umat Islam agar kita disiplin tepat waktu. Allah akan memberi ‘bonus’ pahala bagi mereka yang datang duluan sebelum waktunya tiba dengan menjalankan shalat qabliyah, misalnya, atau dengan shalat tahiyatul masjid atau dengan membaca Alquran. Semua rangkaian ibadah yang mengiringi datangnya waktu shalat dimaksudkan untuk ‘menguji’ siapa yang lebih rajin di antara hamba-Nya. Tentu Allah akan memberi balasan ‘lebih’ dan bonus pahala bagi mereka yang mau menjalankannya.

Semua tergantung kita. Mau menjadi orang yang disiplin tepat waktu atau senang dengan kebiasaan jam karet dan menunda-nunda, mengulur-ulur kegiatan yang sudah pasti? Jawabannya bukan hanya melalui lisan, tapi harus dibuktikan dengan tindakan.

Iklan