Tag

, , , , , , , ,

Para Eksekutif Yang Eksekutif Imannya

Suatu siang, di pojok tempat parkir basement yang lampunya tampak remang-remang dan serasa ‘terkucilkan’. Di sudut mushalla sebuah bank BUMN ternama, sekelompok karyawan bank duduk melingkar. Rapi serapi pakaian dinas lengkap dengan dasi yang necis yang saat itu mereka kenakan. Semuanya memegang pulpen dan beberapa lembar photo copy-an. Salah satu di antara mereka ada seorang yang membaca isi lembaran yang sama. Sementara yang duduk melingkar tadi menyimak, mendengar dan menulis apa yang disampaikan. Si pembaca tadi mungkin tepatnya dibilang ustadz, meskipun tidak mengenakan pakaian layaknya seorang ustadz ; berbaju koko dan berpeci. Ia berpakaian layaknya seorang profesional. Rapi, baju dimasukkan dan tidak berpeci. Usianya masih sangat muda. Jauh lebih muda dibanding mereka yang duduk melingkar.

Rupanya, siang itu, di mushalla tersebut tengah berlangsung sebuah pengajian. Pengajian ala pesantren, yakni dengan membaca kitab, diartikan, lalu dijelaskan oleh sang guru. Sesekali diselingi tanya jawab singkat dari pendengar kepada sang guru. Kalau di pesantren kitab yang dibaca adalah ‘kitab kuning’ tapi di perkantoran berubah menjadi ‘kitab putih’ karena kitabnya photo copy-an. :-

Bagi saya, pemandangan seperti ini baru pertama kali saya temukan di kota besar. Di tengah kesibukan ‘para eksekutif muda’, di saat godaan waktu makan siang yang sangat sempit, di sela-sela waktu yang amat berharga untuk sekedar melepas penat setelah setengah hari berkutat dengan pekerjaan, mereka masih menyempatkan diri untuk belajar agama. Rasa dahaga keimanan dalam kalbu, rasa lapar ketakwaaan dalam jiwa lebih mereka utamakan dibandingkan memenuhi nafsu hak badan untuk makan siang dan istirahat sejenak.

Mereka rela menghadirkan seorang guru –yang tentunya pakai honor– ke lingkungan di mana mereka bekerja untuk menuntun dan membimbing jiwanya agar di tengah hari kerja, mereka tetap mendapat siraman ruhani. Jam kerja yang terkadang melebihi waktu normal, membuat pekerja kantoran di kota-kota besar tidak terasa bahkan lupa waktu. Tahu-tahu sudah lewat jam kerja. Tahu-tahu sudah malam. Hingga ketika sampai di rumah, tidak ada waktu lagi untuk menghadiri pengajian-pengajian di lingkungannya. Sementara pengajian-pengajian yang sering ada di media elektronik tidak sempat mereka ikuti dan terkadang terasa hambar kurang menyentuh hati karena tidak dapat bertatap muka langsung dengan sang guru, tidak bisa interaktif dan tidak bisa bertanya secara lengkap ketika ada persoalan yang butuh jawaban langsung dari sumbernya.

Topik bahasan yang siang itu dibacakan adalah amal ibadah yang dicintai Allah. Kalimat perkalimat dibacakan dan diartikan sang guru. Yang lainnya mendengarkan sambil memberi arti ‘gandul’ dengan bahasa Indonesia di dalam kitab photo copy-annya. Sempat saya melirik ke dalam kitabnya, ada yang tepat antara kata dan arti yang dibacarakan, ada juga yang kelewat antara arti dan kalimatnya. Maklum, mungkin tingkat kemampuan baca arab antara satu dan lainnya berbeda.

Dalam kitab tersebut disebutkan amal-amal yang dicintai Allah. Pertama, berbuat baik kepada kedua orang tua. Kedua, shalat pada waktunya. Sang guru menerangkan secara singkat dan padat sesuai teks yang ada dalam kitab. Di antara mereka ada yang bertanya, ada juga yang sambil santai menyelingi apa yang disampaikan sang guru. Suasananya sangat bersahabat. Mereka tidak menjaga jarak dengan sang guru.

Meskipun saya telat, tapi saya masih dapat waktu sekitar 10 menit berbaur dengan mereka. Terasa sangat singkat dibanding ilmu dan pengetahuan yang masih sangat luas yang seharusnya disampaikan. Tapi setidaknya, dahaga iman dan rasa lapar ketakwaaan siang itu dapat menyirami jiwa-jiwa para eksetukif muda. Setidaknya mereka dapat mempraktekkan satu dari topik yang siang itu dibacakan, yaitu shalat pada waktunya.

Andai perkantoran-perkantoran di kota besar dihiasi dengan suasana seperti itu, tentunya akan lahir para pekerja profesional yang kuat imannya. Sehingga layak disematkan kepadanya sebagai ‘Para Eksekutif yang Eksekutif Imannya’.

Sebagai ‘tamu’ atau orang luar yang ingin menumpang shalat di situ, saya lebih memilih menghormati mereka dengan mengikuti pengajian yang sedang berlangsung. Meskipun ada satu dua orang yang dalam kondisi sedang ada pengajian, dia tetap shalat di sampingnya.

Iklan