Tag

, , , , , , , , ,

Ironi Sertifikasi Guru

Oleh Noor Aflah 

Empat puluh tahun mengabdi

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri Oemar Bakri

Penggalan lagu Iwan Fals di atas menggambarkan bagaimana pahitnya nasib menjadi seorang guru. Sudah puluhan tahun mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tapi ternyata kurang dihargai. Pengorbanan dan jasa para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu serasa tidak berbekas sama sekali. Padahal dari sentuhan tangan-tangannyalah seorang menteri diciptakan. Berkat bimbingan dan kesabarannyalah seorang presiden dilahirkan.

Itu dulu. Sekarang sudah sedikit berbeda. Sejak pemerintahan dipegang Presiden SBY nasib guru sudah mulai agak diperhatikan. Desakan masyarakat untuk memperhatikan nasib guru menjadi senjata kampanye SBY dalam memperjuangkan alokasi APBN untuk bidang pendidikan sebesar 20%. Sedikit demi sedikit janji SBY sudah dibuktikan. Nasib guru yang dulu tak pernah menjadi perhatian pemerintah, kini seakan menjadi ’anak emas’. Apa-apa guru. Sedikit-sedikit guru. Ya, mungkin inilah saatnya para guru menikmati hasil perjuangan para pendahulu mereka. Para pendahulu yang dengan keikhlasan hati, ketekunan dan kesungguhan dalam menyampaikan ilmunya kepada para murid-murid, kini saatnya memetik buah perjuangan itu, di antaranya melalui sertifikasi guru. Ada sebagian yang masih mendapatkan kesempatan untuk menikmati buah sertifikasi itu, tetapi ada yang sudah telanjur lebih dahulu meninggal dunia, sehingga nikmat perjuangan mereka, mudah-mudahan tetap mereka dapati meskipun bukan dalam bentuk materi, tapi berupa pahala yang terus mengalir sebagai amal jariyah yang dapat terus dipetik hingga akhir nanti, insya Allah.

Namun patut disayangkan, sertifikasi guru yang merupakan sebuah upaya mengangkat harkat martabat dan meningkatkan kesejahteraan guru, termasuk guru swasta, masih banyak ditemukan praktek-praktek yang kurang terpuji. Proses seleksi dan syarat adimistratif yang ditentukan untuk dapat lolos sertifikasi guru cenderung dilakukan oleh para guru dengan melalui proses manipulatif. ‘Jalan normal’ yang seharusnya ditempuh seorang guru dalam mengikuti proses seleksi sertifikasi, namun karena tergiur dengan ‘iming-iming’ besarnya nominal ‘gaji sertifikasi’ yang nanti didapatkan, membuat para guru cenderung maunya instant. Cepat lolos seleksi sertifikasi dan mengabaikan etika kepatutan bagi seorang guru. Sikut sana, tendang sini, terkadang masih menghiasi proses sertifikasi. Akibatnya, jalan normal yang seharusnya ia tempuh, proses seleksi yang harus diikuti seorang guru namun karena ingin cepat segera dapat gaji berlipat, pat gulipat yang penting segera dapat, jalan by pass potong kompas pun dilakukan yang penting lulus sertifikasi.

Ada seorang guru yang mendapatkan ‘rezeki nomplok’ dari program sertifikasi ini. Baru beberapa tahun menjadi guru karena syarat administratifnya terpenuhi, luluslah dia dalam program ini. Rezeki nomplok, berupa rapelan gaji setahun sebesar lebih dari dua puluh juta ia dapatkan. Honor bulanan yang tadinya hanya dia dapat berkisar antara 250-300 ribu perbulan, kini ia memperoleh puluhan kali lipat. Tentunya, rasa syukur tak henti-hentinya diucapkan oleh mereka yang bisa mendapatkan proses semudah ini.

Namun, sifat dasar manusia yaitu sifat ‘ingin’, terkadang lebih besar menguasai diri guru lain yang nasibnya tidak sebagus contoh guru di atas. Mereka yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi, bahkan guru yang lebih dulu mendapat sertifikasi itu kebetulan muridnya yang dulu pernah ia asuh, sifat iri pun tak bisa dipungkiri. Kok saya malah belakangan, kenapa dia yang dulunya murid saya malah dapat duluan. Setidaknya kata-kata itu agak tepat mewakili ungkapan hati seorang guru yang sudah lebih lama mengabdi tapi nasibnya kurang seberuntung guru yang lebih dulu mendapat sertifikasi.

Sifat ‘kepingin’ yang mendominasi perasaan guru, memang sulit untuk dibendung. Kalau mereka mendapat uang rapelan sebesar itu, guru mana sih yang tidak kepincut. Sekaya apapun seorang guru ketika melihat teman seprofesinya mendapat uang sebesar itu, pasti tetap ingin bisa mendapatkan ‘hak’ yang sama seperti teman guru lainnya yang sudah lebih dulu mendapatkan sertifikasi. Salah satu alasan inilah yang kemudian mendorong seorang guru untuk melakukan ‘hal apapun’ dan ‘dengan cara apapun’ untuk bisa lolos sertifikasi pada proses tahun berikutnya. Ada yang dengan cara mengklaim mata pelajaran guru lain diakui sebagai mata pelajaran yang dia ampu, karena syaratnya menuntut seperti itu. Ada yang dengan ‘memanipulasi’ syarat-syarat formal, seperti ‘membeli sertifikat’ sebanyak-banyaknya. Ada yang membuat SK abal-abal dari sebelumnya seorang tenaga administrasi lalu ‘disulap’ menjadi guru dengan mengklaim mata pelajaran guru lain sebagai mata pelajaran yang dia ampu. Ada juga yang ‘memanipulasi’ masa tugas, dari yang sebelumnya belum memenuhi syarat dirubah menjadi memenuhi syarat sertifikasi, dan seterusnya dan seterusnya.

Patut disayangkan memang, seorang guru yang harusnya menjunjung tinggi etika dan memberi suri tauladan yang baik kepada murid-muridnya justru memberi contoh yang tidak etis. Lingkungan pendidikan yang harusnya bersih dari praktek-praktik tidak terpuji justru menjadi ladang baru pelanggaran etik. Lebih ironisnya lagi, sesama guru terkadang saling berkompetisi dan saling menutupi bagaimana upaya itu tidak diketahui teman guru lainnya. Kalaupun terpaksa diketahui guru lain, si pelaku pura-pura tidak tahu dan membela diri bahwa apa yang dilakukan bukan sebuah kesalahan. Mereka tidak sadar bahwa ada guru lain yang merasa didzalimi oleh teman sendiri sesama guru.

Entah sertifikasi ini menjadi berkah atau justru malah mendatangkan musibah, semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Karena nyatanya, upaya pemerintah mengangkat harkat martabat dan kesejahteraan guru malah ‘disalahgunakan’ dan dikotori dengan praktik tidak terpuji di beberapa lembaga pendidikan. Ironisnya, dilakukan oleh guru sendiri. Itu terjadi, bukan hanya di sekolah swasta, tapi di sekolah negeri pun terjadi. Tak pandang yang bergumul dengan pelajaran agama maupun yang lebih banyak muatan umumnya. Semuanya sama. Podo wae bin sami mawon.

Rasa ihlas guru dalam menularkan ilmu kepada murid, kini semakin diuji. Apakah ketika mereka melangkahkan kaki menuju lembaga pendidikan ada tendensi duniawi seperti biar lulus sertifikasi atau benar-benar demi panggilan hati dan kewajiban agama, hanya dirinya sendiri dan Allah yang mengerti. Setidaknya, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari para guru pendahulu kita yang tidak bisa kita gambarkan bagaimana perjuangan dan keihlasan hati mereka ketika mereka mengajar. Tanpa ada tendensi duniawi, seperti sertifikasi atau perhatian pemerintah, mereka terus berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa. Perjuangan guru-guru sepuh, guru-guru di pinggiran, guru-guru di pedalaman, guru-guru di pegunungan, guru-guru di pula terpencil masih belum terkontaminasi dengan tendensi duniawi. Setidaknya, dari keihlasan hati itu lahir generasi bersih dan terpilih. Bersih pikiran dan prilaku. Bersih tindakan dan perbuatan. Mudah-mudahan saat ini masih ada guru yang menjunjung tinggi etika dan prilaku yang baik. Sehingga daapat melahirkan anak didik yang bermoral bukan anak didik yang koruptif yang akan menghancurkan sendi-sendir kehitupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Namun, akankah proses sertifikasi guru yang manipulatif akan memberi kontribusi terhadap terbentuknya generasi bangsa yang moralnya buruk dan koruptif ? Wallahu A’lam.

Iklan