Tag

, , , , , , , , , ,

Yuk, Amati Permainan Congklak Agar Terhindar dari Sifat Congkak!

Hampir semua orang mengenal permainan yang satu ini. Bahkan kita semua pernah memainkannya. Karena jenis permainan ini mudah kita temui. Permainan ini juga bisa dimainkan semua umur dan tak pandang usia. Dari anak-anak hingga dewasa. Apakah jenis pernainan itu? Yaitu permainan Dakon. Orang kota menyebutnya dengan sebutan congklak. Entah darimana asal usul permainan ini dan siapa yang memberi nama seperti itu, kita tidak ada yang tahu. Dari dulu sejak saya kecil sampai sekarang punya anak kecil hingga besar dan punya anak kecil lagi, permainan itu tetap saja masih ada. Di waktu senggang, terkadang saya masih bermain bersama anak saya dengan permainan ini.

Kalau kita mau mengamati jenis permainan yang satu ini, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Yaitu bahwa Allah telah memberi ’bagian’ rezeki kepada hamba-Nya dengan bagian masing-masing. Dari rizki itu, tidak boleh kemudian hanya dinikmati sendiri, karena di dalam rezeki yang diberikan kepada kita, di sana ada bagian orang lain yang harus diberikan. Tapi ingat, sesuai aturannya, apa yang diberikan kepada orang lain tidak boleh semuanya. Di sini digambarkan hanya satu biji. Setelah dibagikan kepada orang lain, kita perlu menyisihkan untuk ditabung. Jangan sampai dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi dibagikan semuanya kepada orang lain. Karena kita semua tidak ada yang tahu seperti apa nasib kita di masa yang akan datang. Untuk itu perlu menabung sejak dini. Perlu menyisihkan sebagian harta kita untuk antisipasi kebutuhan di masa mendatang. Baik untuk kebutuhan anak-anak atau kebutuhan rumah tangga di masa tua nanti.

Coba kita amati aturan main congklak. Sebelum permainan dimulai, setiap lubang ditentukan jumlah (bagian) biji masing-masing, biasanya tiap lobang terdiri atas 7 biji. Lalu pemain pertama memainkan biji yang ada di lobangnya untuk diputar dan dibagikan kepada lobang miliknya sendiri dan lobang lawan mainnya. Pemain pertama tidak boleh curang. Misalnya dengan membagi 2 biji congklak di lobangnya sendiri, atau memasukkan 2 biji di lobang ‘penyimpanan’ yang ada di sebelah kanannya. Sementara di lobang lawan mainnya hanya dibagi 1 biji. Itu tidak boleh dan namanya curang. Makanya lawan mainnya harus jeli mengamati saat lawan main menjatuhkan biji di masing-masing lobang. Sedikitpun tidak boleh lengah. Sedangkan bagi pemain pertama harus berlaku jujur. Tidak boleh curang dengan melanggar aturan main yang lazim digunakan.

Ada beberapa model aturan main dalam permainan congklak. Ada model jedilan atau nembak, ada juga model aturan main urutan. Dalam aturan main jedilan, pemain harus jeli mengkalkulasi biji yang akan dibagikan. Sebisa mungkin ia mendapatkan ‘mangsa’ dari biji lawan main. Kalaupun hanya untung-untungan maka bisa jadi dia beruntung atau malah buntung alias rugi. Jika beruntung maka biji terakhir miliknya, bertepatan jatuh di lubang kosong, yang urut sejajar dengan lobang lawan yang ada isinya. Di situlah ia akan dapat jedilan atau tembakan. Namanya untung-utungan, kalau pas lagi apes, apa yang kita bagi justru akan menjadi sasaran empuk lawan untuk menembak biji milik kita. Karena itu, dalam model aturan jedilan, bagi seorang pemain yang penuh kalkulasi, maka ia akan memainkan biji yang sudah menumpuk banyak. Dia akan memilih untuk memutarnya dibanding hanya membiarkan menumpuk. Karena dengan memilih membagikan lobang yang banyak bijinya, maka dia akan terhindar dari tembakan lawan main yang isi lobangnya penuh biji. Tentunya akan sayang jika biji yang sudah menumpuk itu, justru akan diambil oleh lawan main.

Di sini kita akan mendapatkan pelajaran lagi, bahwa ketika harta itu hanya kita tumpuk saja, maka dalam hatinya ada rasa khawatir dan rasa tidak aman. Jangan-jangan malah diambil orang atau musnah karena faktor bencana/musibah.

Sedangkan dalam aturan main urutan, ketika seorang pemain membagikan biji congklaknya secara berkesinambungan, maka semua lobang akan kebagian, baik lobang sendiri, lobang penyimpanannya, maupun lobang lawannya (kecuali lobang penyimpanan lawannya). Selama biji terakhir yang dibagikan masih masuk ke dalam lubang yang ada bijinya, maka ia akan mengambilnya dan terus berputar membagikannya. Begitu seterusnya. Pemain baru akan berhenti ketika biji terakhir yang dipegang itu jatuh di lobang kosong, baik lobang miliknya, atau lobang milik lawannya atau di lobang penyimpanan miliknya. Di situlah dia harus berhenti dan giliran lawan mainnya bermain.

Memang nenek moyang kita dulu, dalam membuat jenis permainan anak-anak, tidak lepas dari pesan moral yang diselipkan di dalamnya. Seperti yang tersirat dalam permainan congklak. Hanya saja apakah kita mampu menggali makna filosofi yang terkandung di balik permainan itu atau tidak, itu tergantung kita.

Dalam permainan congklak mengingatkan kita agar kita jangan menganggap harta benda yang kita miliki adalah mutlak milik kita semua. Allah mewajibkan dari sebagian harta itu untuk diberikan kepada orang lain, melalui instrument zakat. Allah juga memberi instrumen lainnya melalui infak/shadaqah/hibah/wakaf. Yang kesemua instrumen itu intinya adalah berbagi dengan sesama. Jumlah yang diberikan juga tidak semuanya, karena kita perlu untuk menabung, sebagai persiapan untuk kebutuhan ke depannya nanti. Semua itu menyadarkan kita bahwa harta kita hanyalah titipan dari Allah yang harus di-tasharruf-kan, dibelanjakan melalui jalan yang benar. Agar terhindar dari sifat congkak dan sombong dan merasa bahwa harta yang kita dapatkan adalah murni hasil jerih payah kita tanpa keterlibatan Sang Pemberi Rizki Yang Sebenarnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Iklan