Tag

, , ,

‘Jantung’ Pisang, Jantung Imanku

Anda beriman kepada Allah? Bagaimana cara Anda memantapkan keimanan itu? Apa yang membuat Anda semakin beriman dan yakin akan keberadaan Allah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terasa klise jika ditanyakan kepada mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang mukmin / muslim. Namun pertanyaan tersebut akan menjadi lebih bermakna ketika ditanyakan kepada orang yang ingin memantapkan semantap-mantapnya keyakinan dan keimanannya kepada Allah. Tidak sekedar diucapkan, tidak sekedar dijalankan, tapi unsur pertama, yakni keyakinan, benar-benar tertancap kuat dalam hatinya.

Asal muasal seseorang menjadi beriman mempunyai jalan yang berbeda. Ada yang beriman karena diajari oleh guru mengajinya atau orang tuanya. Ada juga yang beriman karena kesadarannya. Ada juga yang beriman karena setelah berinteraksi dengan orang-orang yang beriman, lalu ia ikut menjadi beriman.

Kemudian dalam hal pengamalan keimanannya sehari-hari seseorang juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang menjalankan keimanannya dengan berusaha sekuat tenaga dan mengerahkan segala daya upaya untuk menjalankan perintah-perintah Allah dan benar-benar berusaha menjauhi larangan-larangan-Nya. Ada juga yang menjalankan keimanannya dengan sesuka hatinya. Dalam arti, kalau merasa perlu untuk menjalankan keimanannya, ya mereka jalankan, kalau tidak mau ya dengan mudah mereka tinggalkan. Ada juga yang merasa cukup dengan iman tapi sama sekali tidak mau menjalankan apa yang terkandung dalam keimanan tersebut.

Padahal yang namanya iman, itu memiliki pengertian yang mencakup tiga unsur. Yakni Keyakinan, Ucapan dan Tindakan. Iman adalah keyakinan dan pembenaran dalam hati, diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan melalui tindakan, baik iman kepada Allah, Rasul, Malaikat, Kitab-Kitab, Qadha-Qadhar dan Hari Qiyamat. Jika ketiga unsur tersebut tidak tercakup secara keseluruhan dalam diri seseorang yang mengaku beriman maka keyakinan (keimanan) seseorang perlu dipertanyakan.

Meski demikian, ada yang sedikit berbeda dengan apa yang terjadi dalam diri teman saya yang satu ini. Dalam kesehariannya, saya sudah yakin dia seorang mukmin sejati. Karena perintah Allah dia jalankan dengan baik, rutin tak pernah ditinggalkan. Begitu juga dengan larangan-Nya, dia selalu berusaha untuk meninggalkannya, meski terkadang masih sedikit tergoda dengan lingkungannya, tapi beruntung tidak sampai terjerumus dalam lembah dosa. Sehingga bisa dibilang dia adalah seorang mukmin sejati, seorang hamba Allah yang taat dan tidak mau neko-neko kecuali hanya menghamba kepada Allah dengan sebaik-baiknya.

Suatu ketika dia mengikuti pengajian dari seorang kyai yang sangat alim. Dalam pengajian itu sang kyai melansir potongan arti ayat Alquran Surat Al An’am ayat 59 ..”tidak ada sehelai daunpun yang gugur yang tidak diketahui oleh Allah..” . Dengan kealiman dan kedalaman ilmunya, sang kyai mengulas lebih jauh arti ayat ini dan mengkaitkannya dengan kondisi kekinian.

Teman saya ini terkagum-kagum dengan ulasan dari sang kyai yang ia bilang sangat istimewa itu. Entah seperti apa ulasan istimewa yang ia maksud, namun yang pasti ia sendiri sampai tidak bisa menceritakan ulang kepada saya.

Tapi justru dari penjelasan itu timbullah pertanyaan dalam diri teman saya ini. “Jika hal yang ia pandang ‘sepele dan remeh’, seperti gugurnya daun saja diketahui oleh Allah, apalagi hal-hal yang penting dalam alam dunia ini, pasti Allah mengetahuinya. Semua yang terjadi di alam ini tak ada yang luput dari pengetahuan Allah,” gumam teman saya sembari pikirannya terus bergejolak semakin penasaran dengan keimanan yang ada dalam hatinya.

Sepulang dari pengajian ia merenung. Mencoba mengingat-ingat arti ayat yang diulas kyai tadi. Ia mencoba menjajaki kemampuan dirinya untuk mengetahui seperti apa yang diketahui Allah sebagaimana yang ada dalam ayat tadi. Selama ini ia tidak pernah berfikir bahwa sehelai daun yang gugur dari pohon itu diketahui oleh Allah. “Alangkah bodohnya diri saya yang tak pernah memperhatikan pohon-pohon dan tumbuhan yang ada di sekitar saya, sementara Allah saja mengetahuinya,” kata dia sambil menyalahkan dirinya sendiri.

Hatinya terus bergejolak. Ia akhirnya berjanji akan membuktikan kebenaran ilmu (pengetahuan) Allah atas segala kejadian yang ada di alam ini. Kalau Allah mengetahui gugurnya daun, mungkin terlalu banyak daun-daun di sekitarnya untuk diketahui. Lalu dipilihlah pohon pisang untuk ia buktikan akan pengetahuan / ilmu Allah itu. Pohon pisang yang akan berbuah selalu didahului dengan munculnya (orang Jawa bilang) ontong (Jantung). Dari jantung inilah muncul setiap tahap sisir buah pisang. Sebelum buah pisang (muda) muncul, terlebih dahulu dibungkus dengan semacam kulit yang berwarna merah. Nah, kulit tersebut akan membuka dan memperlihatkan bakal buah pisang yang masih kecil dan berwarna hijau. Ia ingin mengetahui kapan kulit pisang yang berwarna merah itu membuka, melepas dan memperlihatkan bakal buah pisang yang masih hijau dan berwarna kecil-kecil itu. Bismillah. Ia benar-benar bertekad ingin mengetahui kapan kulit jantung itu membuka diri memperlihatkan calon-calon buah pisangnya.

Dicarilah pohon pisang yang sedang berbuah. Dipilihlah buah pisang yang proses pembuahannya masih terjadi. Bukan yang sudah berhenti. Dia tunggu, dia jaga dan dia lihat buah pisang itu. Dia perhatikan dengan serius. Tak peduli siang atau malam terus ia jaga dengan berbagai macam cara. Sampai dibela-belain tidur di bawah pohon pisang dan menyoroti jantung dengan lampu. Kecuali untuk kebutuhan pokok seperti salat, makan dan buang hajat ia tidak tinggalkan itu pohon pisang. Selama ia masih mampu untuk melihat dan memperhatikan maka tak sedikitpun ia alihkan kepada lainnya. Bahkan ketika dia pergi untuk berhajat, dia sengaja menyewa orang untuk menggantikannya. Ia pesankan betul jangan sampai lengah tidak melihat dan tidak memperhatikan jantung pisang itu.

Namun apa yang terjadi, sampai 20 pohon pisang ia jaga dan ia perhatikan, hampir dua bulan ia jalani semuanya hasilnya nihil. Tidak ada satupun jantung pisang yang bisa diketahui, dilihat dengan mata kepala dengan tepat persis berbarengan dengan membukanya kulit pisang itu. Keduapuluh jantung pisang itu semuanya luput dari perhatian dan pandangan mata telanjangnya. Selalu ada saja alasan lengahnya pandangan. Entah saat dia pergi hajat, atau saat pandangannya beralih ke tempat lain. Pada saat itulah kulit pisang membuka dan kulitnya jatuh ke tanah. Ia selalu kaget karena tiba-tiba sudah tahu terbuka, kembangnya (ujung) bakal pisang dan tutupnya sudah terjatuh di tanah dengan disertai suara kresek..bruk..

Subhanallah. Ia akhirnya sadar betapa hebatnya ilmu (pengetahuan) Allah. Keinginan dia untuk membuktikan kebenaran ilmu Allah tidak semudah yang ia bayangkan. Untuk sekedar membuktikan satu hal dari ilmu Allah ia pun gagal dan tak mampu karena ke-dhoif-annya.

Dari pengalamannya membuktikan pengetahuan Allah melalui jantung pisang ini menjadikan keimanan dia semakin kuat. Ibarat tubuh, iman adalah jantungnya. Ketika jantung tidak berfungsi lagi maka tubuh pun akan mati. Ketika iman tidak ada lagi di dalam hati, maka apa gunanya hidup ini. Sungguh, pelajaran dari jantung pisang itu membuat jantung iman teman saya itu semakin kuat. Bagaimana dengan kita?

Iklan