Tag

, , , , , , , , ,

Berguru Pada Tukang Bakso, Pedagang Bubur dan Mie Ayam

Tinggal di lingkungan masyarakat kecil bagiku sangat menguntungkan. Betapa tidak, karena dengan tinggal bersama masyarakat kecil saya dapat mengambil banyak pelajaran dari mereka, dalam segala hal. Baik dalam hal bekerja, mendidik anak, berkomunikasi sampai berumahtangga. Karena kendati tingkat pendidikan mereka sebagian besar paling tinggi lulus SMP, namun dalam beberapa hal mereka bisa menjadi contoh bagi orang lain. Termasuk bagi saya.

Sebut saja misalnya tukang bakso dan tukang mie ayam.  Apa yang dilakukan kedua pedagang ini setiap hari hampir tak luput dari pandangan mata dan pendengaran saya. Ya, maklumlah, karena saya dan mereka sama-sama sebagai ‘kontraktor’ yang rumahnya saling berdempetan. Sehingga kebiasaan yang mereka lakukan saban hari seringkali dapat saya ketahui.

Setiap hari, mereka selalu bangun pagi. Sebelum adzan Subuh berkumandang, dua orang kakak beradik penjual bakso sudah memulai aktifitasnya menyiapkan ubo rampe (keperluan dan perlengkapan) bakso. Hal pertama kali yang disiapkan tukang bakso adalah memasak air. Itulah pekerjaan utama sebelum rangkaian pekerjaan lainnya dimulai. Sorrr…itulah bunyi suara air kran yang mengucur ke dalam ember berukuran besar. Bunyi suara air kran selama hampir 1 menit terdengar setiap hari. Sehingga sangat mudah untuk dijadikan sebagai tanda bahwa penjual bakso sudah mulai beraktifitas. Disusul bunyi suara mangkuk bersenggolan, sendok dan panci yang ditata di gerobak bakso. Suara-suara itulah yang kemudian membuat saya langsung bergegas turut bangun.

Tak lama kemudian disusul penjual bubur ayam. Srengg…! Pertanda bahwa mereka sedang menggoreng krupuk. Sesaat kemudian diikuti suara mangkok dan sendok yang ditata di gerobaknya.

Di belahan petak rumah lainnya tak mau ketinggalan. Pedagang mie ayam keliling yang satu ini tak kalah rajinnya. Begitu mendengar penjual bakso sudah bangun, ia langsung menyusul. Bedanya, kalau tukang bakso berangkat ke pasar setelah semua perabotan siap dan tertata rapi, sementara pedagang mie ayam pergi ke pasar dulu, setelah dapat belanjaan, baru menyiapkan ubo rampe-nya. Bunyi suara knalpot motor yang dipakai belanja ke pasar juga sangat mudah dikenali. Karena sudah dimodifikasi. Sehingga membuat saya tak asing dengan suara itu.

Jika tukang bakso, tukang mie ayam dan tukang bubur ayam bangun bertepatan dengan suara mengaji yang terdengar 5-10 sebelum subuh tiba, beda lagi dengan sopir angkot. Ia jauh lebih awal dibanding mereka. Antara jam tiga atau setengah empat pagi dia sudah bangun. Saya pun agak jarang bisa mendengar suara mesin angkot-nya. Karena dia lebih duluan dibanding saya. Sehingga, tahu-tahu angkotnya sudah tidak ada lagi di depan rumahnya.

Setengah jam berselang, dua orang tukang ojek siap berangkat ke pangkalan. Meski jenis motornya sama, tapi beda perawatan dan pemakainya. Sehingga ketika mesin motor dipanasi suara knalpotnya juga beda. Yang satu masih halus, yang lainnya sudah bocor knalpotnya.

Hmm..Sungguh luar biasa semangat mereka semua. Tak peduli hujan turun, tetap saja saban hari bangun pagi. Memulai aktifitasnya mencari nafkah. Ada yang sampai pulang malam, tapi ada juga yang sore hari sudah kembali ke rumah. Yang paling cepat pulang adalah tukang bubur ayam. Antara jam 9.00 – 9.30 biasanya dagangan sudah ludes terjual. Sama seperti tukang ojek. Antara jam 7.30-8.00 kembali lagi ke rumah untuk sarapan. Usai sarapan, kembali lagi ke pangkalan. Ada penumpang atau tidak, yang penting mangkal. Tak peduli banyak saingan yang penting berbaur dengan puluhan tukang ojeng lainnya. Tak peduli penumpangnya sekarang sudah pada beli motor sendiri, yang penting dia tetap semangat di pinggir jalan.

Saya pun kagum melihat semangat mereka semua. Hingga setiap harinya ‘mau tidak mau’ harus malu jika kalah semangat dengan mereka. Merekalah guru semangat saya dalam mencari nafkah. Merekalah teladan pejuang ekonomi kecil yang patut dicontoh. Tak pernah merengek ke pemerintah tak pernah mengeluh ke pejabat. Semuanya berjuang dengan peluh dan tak kenal waktu demi mencukupi kebutuhan keluarganya tanpa harus merepotkan orang lain. Apalagi korupsi.

Iklan