Tag

, , ,

‘Jangan Sampai Anak Saya Jadi PNS’

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah cita-cita sebagian orang. Kata mereka, dengan menjadi PNS, masa depannya akan cerah. Kerja tidak berat, gajipun sudah pasti. Kalau sudah tua, akan mendapat pensiun pula. Alasan itulah yang kemudian mendorong masyarakat untuk berebut menjadi PNS. Tak peduli bagaimanapun caranya. Hingga melalui cara-cara yang ‘tak etis’ sekalipun tak jarang dilakukan. Yang penting jadi PNS. Tidak heran jika seringkali kita dengar ada jual beli kursi PNS. Di suatu daerah, ada yang mematok harga sampai di atas Rp 100 juta. Sehingga membuat orang lain yang ingin berkompetsisi melalui jalan ‘normal’ pun kalah dengan yang punya duit. Sepandai apapun dalam menjawab soal ujian CPNS, kalau ‘kapling kursi’ sudah diambil pejabat dan disediakan untuk penyuap, mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Cara lain yang tak kalah kotor adalah nepotisme. Sewaktu reformasi, nepotisme diperangi betul oleh mahasiswa dengan semboyannya ‘perangi KKN’. Tapi kini, nepotisme tak lagi terdengar nasibnya. Sehingga praktik  rekrutmen PNS masih aman berjalan di birokrasi pemerintahan. Sepinter apapun calon PNS kalau bersaing dengan orang-orang yang sudah ‘diselamatkan’ oleh ‘pembawanya’, tak akan mampu mengalahkannya. Bukan hanya itu, antara kuota PNS dan peminatnya seringkali tidak imbang. Satu kursi direbutkan ratusan peminat.

Belum lagi nasib guru bantu dan pegawai honorer yang ingin diangkat menjadi PNS. Berapa puluh ribu orang jumlahnya. Semuanya ingin menjadi PNS. Semuanya ingin masa depannya aman dengan menjadi PNS. Padahal anggaran pemerintah untuk kebutuhan gaji PNS setiap tahunnya terus meningkat. Tahun 2011 komposisi anggaran gaji PNS lebih dari 13% APBN. Faktor inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk sementara waktu menghentikan (moratorium) rekrutmen  PNS. Namun kondisi ini tak menyurutkan niat sebagian masyarakat untuk terus menggapai cita-citanya sebagai PNS.

Tapi, tidak demikian dengan Ibu yang satu ini.  Meskipun dia sendiri seorang PNS, tapi dia tidak mau anak-anaknya nanti menjadi PNS. Dia betul-betul berikrar agar jangan sampai anak-anaknya mengikuti jejaknya dalam memilih tempat bekerja. Karena dengan menjadi PNS dia merasa ada sesuatu yang sampai sekarang tidak ‘sesuai’ dengan hati nuraninya.

Ketika saya kejar pertanyaan, apa sesuatu itu. Alasan apa hingga dia begitu ketat tidak mengizinkan anaknya menjadi PNS. Pegawai di lingkungan Pemda Jakarta Selatan golongan III A ini, tidak mau menjawab dengan tegas. Ia hanya menggambarkan kondisinya dengan ekspresi wajahnya. “Pokoknya jangan sampai deh, anak-anak saya jadi PNS. Saya yang sudah telanjur begini agak nyesel,” ujar dia dengan ekpresi penyesalan.

Dalam pikiran saya, jarang sekali ada orang seperti Ibu dengan tiga orang anak ini. Biasanya, seorang ibu menginginkan anak-anaknya nasibnya lebih baik dibanding dirinya. Minimal PNS adalah satu anak tangga untuk memperbaiki kehidupan anak-anaknya nanti. Tapi ini justru sebaliknya.

Dia tetap tidak mau menceritakan bagaimana lingkungan kerja di kantornya. Ia hanya menjawab singkat ; “Mau kayak bagaimana, kalau kita sudah ada di dalamnya, kita tidak mungkin bisa menghindar,” jawab dia dengan kata-kata yang syarat dengan makna.

Jawaban yang diplomatis. Tapi setidaknya tersirat makna yang mudah ditebak. Bahwa di lingkungan tempat dia bekerja terdapat praktik yang tidak terpuji. Ada ketidaksesuaian antara hak dan kewajiban yang seharusnya ia dapatkan. Bisa jadi ia memperoleh ‘lebih’ dari yang seharusnya ia dapatkan. Dan kelebihan itu sudah ia sadari bahwa itu semestinya bukan haknya. Namun karena lingkungan kerja yang ‘memaksa’ dia untuk ikut menerima apa yang tidak seharusnya menjadi haknya, membuat dia tidak bisa menolaknya.

Situasi inilah yang membuat Ibu ini tidak mau anaknya mengalami nasib seperti dirinya, yaitu terjebak dalam ‘lingkaran kebatilan yang terstruktur’. Dia menyadari bahwa apa yang ia jalani bertolak belakang dengan hati nuraninya. Namun dia tidak kuasa menghindar dari kenyataan. Sehingga mau tidak mau terpaksa terbawa oleh pusaran arus kebatilan.

Kita yakin di antara lingkungan kerja yang demikian itu masih ada lingkungan kerja PNS yang bersih. Tapi setidaknya contoh yang dialami oleh Ibu di atas menggambarkan kenyataan yang ada di birokrasi pemerintahan kita. Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Selama hati nurani masih ada, selama iman masih menempel kuat di dada maka insya Allah akan selamat dari jeratan lingkaran kebatilan di lingkungan kita.

Iklan