Tag

, ,

Balada Korban (Macet) Jakarta

Oh, Jakarta. Siapa suruh masih tetap berada di sana. Jika memang tidak sanggup menjalani kenyataan yang ada. Itulah faktanya. Hampir setiap waktu kita mendengar keluhan yang sama. Hingga semua media massa memberitakannya. Apa siih. Apalagi kalau bukan MACET.

Dulu, jarang sekali media massa mau menginformasikan kondisi lalu lintas dan jalan raya di Jakarta. Tapi kini, hampir semua media, terutama media on line punya slot khusus untuk memberitakan perkembangan dan situasi lalu lintas dan jalan raya. Bahkan pemerintah ‘terpaksa’ menganggarkan dana untuk membuat sentral pemberitaan jalan raya bernama TMC (Traffic Management Center) dengan segala fasilitas mewahnya. Karena kita tahu bahwa dampak dari kemacetan jalan raya  bukan hanya membuang waktu tapi juga membuang banyak uang. Menghilangkan banyak kesempatan. Mengacaukan semua rencana. Bahkan bisa menggagalkan peluang emas yang sudah datang di depan mata. Tak heran jika banyak orang mengeluh, menyesal bahkan mengumpat kondisi macet di Jakarta.

Banyak faktor penyebab macet di Jakarta. Tapi penyebab yang paling mudah di tebak adalah karena faktor hujan. Begitu hujan turun, semua calon pengguna jalan dengan serempak akan menebak. Pasti macet.

Benar. Begitulah yang terjadi pada hari Kamis 5 Januari 2012. Sudah dua hari berturut-turut hujan mengguyur Jakarta. Tapi tidak tentu waktunya. Kadang turun siang hari, sore, pagi, juga malam kadang malam hari. Kebetulan hari itu saya mendapat tugas ke luar kota. Yaitu ke Kota Altas Semarang. Namun karena situasi jalanan di Jakarta yang hari itu super duper macet, membuat saya harus kalang kabut menghadapinya.

Jadwal Take off jam 17.45. Sebuah jadwal penerbangan yang cukup longgar untuk menyiasatinya. Apalagi di hari kerja. Sungguh mudah untuk mengatur keberangkatan dari kantor ke bandara Soetta. Hujan yang masih turun sar sor, membuat saya harus antisipasi waktu dan perjalanan. Ya, minimal 1 sampai 1.5 jam perjalanan ke bandara. Itupun sudah termasuk sangat longgar. Karena jalur yang kami lewati lebih banyak jalan tol. Sehingga kemungkinan sampai lebih cepat. Kini, waktu yang saya siapkan tiga jam lebih untuk ke bandara. Sebuah antisipasi waktu yang cukup leluasa.

Jalanan masih basah. Karena 30 menit yang lalu hujan turun agak lebat. Pukul 14.30 sudah berada di taksi depan kantor. Tapi, baru berjalan 2 KM, beuhh…, jalanan sudah mampet di TL Jalan Baru Simatupang. Lebih dari 10 menit tak bergerak. Rencana ke Kp. Rambutan kemudian berubah arah. Disarankan sopir taksi agar ke Ps Minggu saja. Oke, saya coba mengikuti saran sopir taksi. Tapi, 500 meter menjelang parkiran Damri, jalanan makin tak bergerak. Beruntung sopirnya ‘berani galak’. Taksi terus merangsek hingga sampai parkiran Damri pukul 15.10. Sampai di situ, sudah ada 10 orang lebih yang sepertinya was-was menunggu kedatangan Damri. Mereka sudah 15 menit menunggu Damri tapi tak ada tanda-tanda kedatangannya. Jalur yang biasa dilalui Damri juga terlihat mampet. Semua yakin kalau Damri-nya datang terlambat.

Akhirnya, ada sopir taksi menawarkan jasa ke bandara dengan borongan. Per orang 50.000,-. Seketika itu, tiga orang langsung sepakat. Ketiganya masuk taksi. Saya mulai berubah pikiran. Ingin bergabung dengan mereka. Tapi taksi sudah mulai berjalan. Saya kejar dan saya coba tawar 40 ribu. Tapi sopir tak bergeming. Akhirnya terpaksa saya setuju dan bergabung dengan mereka.

Rencana lewat tol Serpong berubah ke tol Cawang. Karena semua pintu masuk tol Simatupang sudah mampet. Akhirnya berbalik arah ke Cawang. Ternyata semua sama. Baik tol maupun bukan tol, semua jalanan macet.

Pukul 16.00 ratusan bahkan ribuan mobil masih mengekor di tol Cawang. Empat penumpang taksi yang berbeda tujuan itu mulai itung-itung waktu. Meskipun take off hampir bersamaan, tapi empat orang itu semua berbeda tujuan. Ada yang ke Medan, ke Palembang, Yogyakarta dan Semarang. Semua berdoa, jika telat sampai bandara, mudah-mudahan semua maskapai yang ia tumpangi delay. Kebetulan 3 penumpang di antaranya, semua naik pesawat yang sama, apalagi kalau bukan si ‘Lion’ Raja Delay.

Waktu take off tinggal 45 menit lagi. Pukul 17.00 masih berkutat masuk ke tol dalam kota. Keempat penumpang taksi sibuk ‘menentukan’ nasib penerbangan masing-masing. Ada yang menghubungi temannya yang sudah di bandara, ada yang menghubungi kantor, ada juga yang berusaha menghubungi maskapai tempat membeli tiket. Tapi semua itu sebatas pelampiasan. Di tengah-tengah tol tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti irama jalan. Satu menit berjalan dua meter.

Rasa cemas, was-was, menghantui keempat penumpang. Waktu untuk menjalankan salat ashar pun semakin habis.‘Terpaksa dilaksanakan dengan lihurmatilwaqtu ; wudhu dan posisi solatnya sebisanya. Ditambah suasana dingin hujan dan dingin AC di taksi membuat penumpang tidak bisa menahan ‘hajat’. Sementara kondisi tol tidak memungkinkan untuk melakukan ‘hajat’ itu. Lalu apa yang terjadi ? “Anda bisa menebak dan membayangkan sendiri, bagaimana mereka melakukan buang hajat itu”.

Jam take off sudah kelewat. Keempat penumpang taksi terus menghibur diri dengan becanda sesama penumpang. Masih berharap semua pesawat delay karena force major. Biang macet di Jl. S. Parman mulai terkuak. Billboard roboh menimpa pohon dan menjulur ke tol. Rrrttttt…zzzt.. akhirnya, selepas biang macet, taksi meluncur dengan kencang. Bermanufer dengan kendaraan senasib menuju tol Sediatmo dan Bandara.

Pukul 19.30 sampai bandara. Di sana banyak orang lari terburu-buru keluar dari mobil menuju pintu masuk dan check in. Tapi, begitu masuk desk check in, wassalam.. ‘motor mabure wis miber’, pesawat sudah terbang tepat waktu, kata petugas check in.

Ugh..!

Badanku jadi limbung. Senyum kecut menghiasi rona wajahku. Mataku langsung tertuju pada loket maskapai ini. Di sana sudah bejubel antrian orang di depan loket. Mereka pun senasib dengan saya. Alias ketinggalan pesawat. Lebih dari 50 orang antri berjajar. Semua complain. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Karena tiketnya sudah tidak berlaku lagi, alias hangus.

Satu demi satu mencoba minta keringan. Tapi petugas tiket tak bergeming. Masa bodoh. SOP-nya sudah begitu, kata mereka. Kalau mau terbang, ya beli tiket baru lagi. Ada yang maklum tapi lebih banyak yang sungut. Sampai marah-marah. Karena sudah kehilangan tiket, dan harus beli tiket lagi seharga dua kali lipat dibanding harga sebelumnya. Kalau satu tiket tidak masalah. Lha kalau kebetulan membawa empat atau lima orang, berapa uang ia harus keluarkan.

Saya sendiri ‘terpaksa’ membeli tiket penerbangan besok pagi dengan harga mahal. Lebih dari dua kali lipat dibanding harga tiket sebelumnya. Apa boleh buat. Demi tugas dan tanggungjawab. Harga tinggi tidak masalah. Tapi urusan tidak lantas selesai setelah mengantongi tiket. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Sementara besok saya harus take off pukul 5.40. Artinya, saya paling telat jam 03.00 harus sudah berangkat dari rumah ke bandara. Huff… !! Kini harus putar otak untuk membuat keputusan. Apakah pulang atau menginap di bandara. Keduanya punya konsekwensi. Kalau saat itu pulang berarti siap menghadapi macet yang sama seperti perjalanan sebelumnya. Berapa jam perjalanan yang harus ditempuh sampai di rumah. Mungkin jam tengah malam baru sampai.

Terpaksa telepon istri untuk meminta pertimbangan. Tapi diapun tidak bisa membayangkan kondisinya. Apalagi sebelumnya dia sama sekali belum pernah ke bandara. Yang pasti, saya hanya butuh dorongan moril, sebelum memutuskan pilihan. Namun hal itu tak berarti apa-apa karena semua keputusan ada di tangan saya. Nasib tergantung di tangan saya.

Kerucukk..kerucuk.. kondisi perut sudah menagih haknya untuk makan malam. Baiklah. Saya penuhi kewajiban ini terlebih dahulu. Sebelum memutuskan pilihan. Siapa tahu setelah makan selesai, pikiran bisa membantu menentukan pilihan terbaiknya.

Selesai makan, mencoba mencari tempat untuk sekedar duduk. Tapi nyaris tak kebagian tempat. Semua kursi tunggu terisi penuh. Entah mereka senasib dengan saya atau sedang menunggu kendaraan lain, saya tidak tahu. Sebagian saya melihat wajah-wajah mereka yang ketemu di depan loket saat mengurus dan membeli tiket baru.

Nginep di Bandara

Terpaksa menyusuri tempat parkir. Siapa tahu di sana ada tempat sekedar untuk duduk. Namun karena kondisi gerimis, akhirnya tidak jadi duduk di tempat parkir dan kembali menuju sela-sela kursi yang masih kosong. Dapatlah sepenggal tempat di antara deretan kursi yang sudah diduduki orang. Begitu dapat tempat duduk akhirnya berhenti sejenak. Menikmati pandangan bandara yang masih ribuan orang lalu lalang di sana. Sebotol minuman ringan saya keluarkan dari tas. Seteguk dua teguk air membasahi tenggorokan. Alhamdulillah. Menambah terang pikiran saya. Akhirnya, saya putuskan malam itu untuk menginap di bandara. Mencoba sensasi baru menjadi ‘gelandangan semalam di bandara’

Tapi bingung mau di mana tempat untuk sekedar sandaran atau rebahan malam itu. Hmm.. saya tidak kehilangan akal. Di antara sekian banyak petugas di bandara, saya yakin di antara mereka pasti ada yang bisa ‘membantu’ saya. Lalu pandangan saya terarah kepada beberapa petugas di sana. Satu demi satu saya perhatikan perangainya. Memilih mereka yang menurut saya ‘layak’ dan mau menjawab apa yang saya inginkan.

Masih ada Orang Baik

Bertemulah dengan seorang pria berpakaian dinas security bandara. Tatapan matanya sejuk dan bersahabat. Saya dekati dia dan saya sapa dia dengan nada rendah. “Maaf, permisi, pak. Boleh nanya, pak?” “O, silakan,” jawab pria yang semua rambutnya sudah hampir memutih itu. “Begini, pak. Saya tadi ketinggalan pesawat. Terus, saya besok pagi-pagi jam 5.30 harus terbang lagi. Kalau saya pulang, mungkin sampai rumah bisa tengah malem, pak. Karena jalanan macet banget. Dan pagi-paginya lagi saya harus berangkat ke bandara. Nah, malam ini saya mau nginep di sini saja, pak. Kira-kira menurut saran bapak, saya sebaiknya nginep dimana, pak,” tanya saya polos.

“Oh, begini. Bapak ke pintu kedatangan, saja. Di sana ada kursi banyak. Bapak nunggu di kursi sana. Kalau nanti bapak pengen makan atau apa, bapak bisa ke Red Corner. Itu di sana. Kelihatan dari sini,” kata dia sambil menunjuk tempat yang dia maksudkan. Meskipun saya mengerti apa yang dia katakan, tapi untuk memperjelas apa yang dia sampaikan, sengaja saya pura-pura tanya lagi. “Yang sebelah mana, ya pak,” tanya saya sekedar menguatkan. “Itu, di depannya Bank Bukopin,” tunjuk dia sangat antusias. “Baik, pak. Terima kasih banyak atas bantuannya,” jawab saya sumringah sambil pamitan jabat tangan dari hadapannya.

Lega rasanya hatiku. Di tengah krisis kepercayaan dan rasa psimis di lingkungan bandara, ternyata di antara mereka masih ada orang-orang yang baik hati. Masih ada orang yang mau menunjukkan dan mengarahkan seseorang yang dalam keadaan terpaksa seperti saya saat itu. Alangkah indahnya jika sebagian besar petugas bandara berhati baik seperti bapak tadi. Mereka mau melayani dan membantu siapa saja yang membutuhkan. Bukan malah sebaliknya, yaitu memanfaatkan mereka dan masa bodoh dengan apa yang terjadi di sana. Bandara yang terasa dengan aroma gengsi dan pamer strata sosial menjadi sangat angkuh ketika satu dengan yang lainnya tampak nafsi-nafsi. Tak ada toleransi dan sikap empati. Tak ada suasana saling menyapa dan membantu antar sesama.

Ku susuri jalan menuju pintu kedatangan. Sesampai di kursi yang ditunjukkan si bapak tadi, di sana sudah ada puluhan orang sedang duduk. Tapi di antara mereka masih terdapat bangku kosong. Saya pun ikut berbaur dengan mereka. Sementara jam menujukkan pukul 22.30. Saya sandarkan bahu sambil melepas tas dan sepatu. Di sebelah saya sudah ada dua orang yang terlelap tidur. Lama-lama saya terpengaruh. Rasa kantukku mulai menyerang. Riuh rendah suasana kedatangan penumpang masih terus mewarnai malam yang semakin dingin dengan AC sentral. Orang yang duduk di samping saya juga datang silih berganti. Berganti-ganti orang.

Mata semakin tak kuasa menahan. Tapi kewajiban salat belum tertunaikan. Akhirnya 3 waktu solat (qadha ashar dan jamak-qashar Magrib Isya’) dilaksanakan dalam satu waktu. Usai solat kembali ke kursi duduk. Mulai bingung cara merebahkan badan. Sebab, takut akan keamanan barang-barang bawaan saya. Tas saya berisi laptop dan data-data penting. Sepatu juga masih lumayan ada nilainya. Belum lagi 2 buah HP dan dompet bergelayut di celana. Tapi karena tak kuat lagi menahan kantuk, akhirnya semua keselamatan saya dan barang-barang bawaan, saya pasrahkan kepada Allah.

Bismillah saya rebahan niat tidur. Tas gendong saya jadikan sebagai bantal. Srrrtttt..!! tiba-tiba terjaga pukul 00.30. Masih sadar kalau saya berada di bandara. Karena meskipun tidur, tapi di tengah-tengah itu terkadang mata masih melek. Kanan kiri saya masih ramai orang duduk. Tapi semua sudah ganti orang. Kecuali dua orang yang ketika saya sampai di situ mereka sedang tidur. Kini keduanya sudah bangun. Melihat dan memperhatikan saya ketika saya terjaga.

Aku mulai menyapa dia. Terasa agak beda bahasanya ketika dia berbicara. Logatnya dari Indonesia Timur tapi sudah agak kelu lidahnya. Dia bilang dari Jeddah. Mau pulang ke Banjarmasin. Tapi ketinggalan pesawat. Harusnya take off jam 14.00 tapi pesawat dari Jeddah baru mendarat pukul 18.00. Cerita punya cerita, ternyata dia sudah 17 tahun bekerja di Arab Saudi. Pulang kampung setahun sekali. Itupun kalau dapat cuti dari tempatnya bekerja. Dalam hati saya, pantesan sudah agak lupa dengan bahasa Indonesia.

Seorang lagi menimpali pembicaraan kami berdua. Hingga pembicaraanpun mengalir ke sana ke mari. Terasa seperti sudah saling kenal sebelumnya. Jam menunjukkan pukul 01.00. Sementara masih banyak penumpang yang datang dan menunggu bagasinya. Beberapa di antara mereka yang duduk bersama saya ternyata sudah ada yang menanyakan kepada petugas kebersihan sebelumnya. Apakah boleh menginap di sini atau tidak. Dijawab oleh petugas,  bahwa nanti kalau seluruh penumpang sudah datang, atau pesawat terakhir mendarat, tidak boleh ada orang di tempat duduk itu. Semua orang harus keluar. Termasuk sekitar 15 orang yang saat itu duduk di kursi tunggu kedatangan bersama dengan saya.

Ketika malam mulai larut, pintu kedatangan mulai sunyi. Petugas bandara yang kebetulan jaga malam itu, juga sudah menenteng tasnya. Pertanda saatnya untuk pulang. Beberapa security lalu lalang memperhatikan ke arah tempat duduk kita. Satu dua orang seakan ingin menghampiri kita, tapi urung tidak jadi. Malam semakin hanyut, datanglah seorang petugas security. Masih muda. Wajahnya sangat belia. Lalu mendekati kita. Ketika semakin dekat dengan arah tempat duduk, saya maju menghampirinya. “Maaf, pak, sekarang tidak boleh lagi ada orang di kursi ini. Semua harus kosong,” kata dia kepada saya. “Baik, pak. Saya mengerti itu. Tapi kami besok pagi harus berangkat lagi pagi-pagi sekali. Kami dan teman-teman di sini semuanya ketinggalan pesawat. Karena macet. Jadi kami mohon bisa di tempat ini, pak. Apalagi semuanya harus berangkat besok pagi-pagi sekali,” pinta saya kepada si petugas tadi.

“Tidak boleh, pak. SOP-nya begitu. Nanti kami ditegur sama atasan kami,” jawab dia seraya menyampaikan bahwa seperti itulah aturan bandara. “Iya, pak. Saya mengerti itu. Kalau boleh saya ketemu pimpinannya, saya mau ketemu pimpinannya saja. Biar kami menjelaskan kenapa kami di sini saat ini. Kasian pak, anak-anak kecil yang sudah pada tidur itu. Toh, hanya malam ini saja. Apalagi kursinya juga kosong,” pinta saya sambil menunjukkan beberapa anak kecil yang sudah tidur di bangku bersama beberapa saudara lainnya.

Tanpa jawaban lagi, petugas tadi langsung pergi begitu saja. Sementara kami yang sudah sepakat sebelumnya, bahwa kita akan minta izin agar diizinkan menginap di sini saling melempar senyum. Saya yang kebagian menghadapi petugas juga agak harap-harap cemas. “Yang penting kita sudah ngomomg minta izin baik-baik. Kalaupun mereka tetap ngotot ngusir kita, saya akan coba untuk nego,” ujar saya kepada mereka. “Mosok cuma tidur saja tidak boleh. Memangnya kita bukan orang Indonesia, apa,” kilah saya sambil bercanda dengan teman-teman lainnya.

Beberapa saat kemudian, datang lagi petugas tadi. Dia langsung menghampiri saya. Padahal saya duduk agak di posisi tengah. Saya pun sengaja tidak mau menjemput kedatangan dia. “Iya, pak. Boleh di sini. Tapi pesan pimpinan saya jangan keluar masuk,” kata dia menyampaikan pesan pimpinannya. “Alhamdulillah. Baik, pak. Terima kasih. Kira-kira perlu jaminan KTP atau gimana,” tanya saya menggoda sambil tersenyum gembira. “Tidak usah, pak,” jawab dia sambil berlalu dari hadapan kita.

Akhirnya, pukul 02.15 menit baru ada kepastian. Saya pun mulai melanjutkan tidur dengan tenang dan merasa aman. Makin malam makin dingin. AC sentral membuat tubuh saya menggigil. Apalagi malam itu saya pakai baju lengan pendek tanpa jaket. Beberapa kali minyak angin saya oleskan bagian-bagian tubuh yang terasa dingin.

Bismillah..zzzZzzzZ… Tidur tahap kedua dimulai. Jam 03.00 bangun karena kedinginan. Akhirnya terpaksa pindah ke mushalla yang ada di samping tempat duduk. Beberapa sarung yang biasa dipakai shalat, terpaksa saya pinjam. Karena badan saya sudah tidak kuat lagi menahan dingin AC. Tiga puluh menit kemudian terbangun lagi. Memanfaatkan waktu untuk ‘munajat’ kepada-Nya sambil menunggu waktu subuh tiba.

Usai shalat Subuh langsung check in. Hwarakadah…!!! Ternyata sudah penuh sesak manusia. Antri depan desk check in sudah ratusan orang. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 04.30. “Kapan mereka sampai bandara, ya. Atau mereka senasib dengan saya,” gumam saya dalam hati.

Wuzzz.. begitu masuk kabin pesawat, saya melirik beberapa koran yang ada di kursi penumpang. 3 koran yang ada semua HL-nya macet. Astagfirullah..  Ternyata…oh.. ternyata..!

Begitulah balada korban macet di Jakarta. Benci Jakarta?! Saat itu pasti! Tapi tetap merindukannya di lain waktu. Banyak pelajaran dapat di petik dari situasi MACET di Jakarta.

Iklan