Tag

, ,

Bekerja dan Mati Syahid
Oleh Noor Aflah

Merinding rasanya bulu kudukku ketika mendengar sambutan seorang pejabat saat melepas jenazah rekan kerjanya yang meninggal. Dengan terbata-bata beliau menyampaikan pidatonya. Sesekali terhenti karena menahan air mata yang nyaris tumpah.

“Keluarga sangat bersedih atas meninggalnya Bapak RAF. Kita semua juga sama. Karena kehilangan.., keluarga dan rekan kerja yang baik. Namun di satu sisi kita semua mungkin bangga. iri. Beliau meninggal saat menjalankan tugas negara. Di tengah perjalanan menghadiri acara. (…suara terhenti menahan tangis). Sahabat kami ini orang baik..” lanjutnya dengan suara semakin lirih..

Orang yang meninggal di saat bekerja menurut sambutan itu adalah orang yang mati syahid. Kita semua sudah tahu bahwa orang yang meninggal dengan predikat syahid tiada balasan kecuali surga-Nya. Predikat syahid ia sematkan karena beliau telah berprasangka baik (khusnudzdzan) kepada si mayit bahwa dia orang yang baik.

Ia yakin almarhum RAF ketika menjalankan tugas / bekerja tidak ada niat lain kecuali niat ibadah kepada Allah. Tentunya orang yang meninggal pada saat beribadah adalah meninggal dalam keadaan syahid. Hanya saja bedanya, orang yang mati syahid saat berperang melawan orang kafir perlakuannya lebih spesial. Jenazahnya tidak dimandikan. Kain yang menempel di badan dan berlumuran darah tidak dilepaskan. Mereka langsung dikubur dalam keadaan selesai perang.

Ini bukan kali pertama pejabat tadi menghadiri pelepasan janazah rekan kerjanya yang meninggal. Terutama meninggalnya saat bekerja. Satu demi satu rekan kerjanya meninggal dunia pada saat menjalankan tugas. Mereka samua di mata pejabat tadi dan di mata rekan-rekan kerjanya adalah orang yang baik. Semua itu terlihat dari gaya hidup dan keseharian yang bersangkutan. Banyak teman. Semua orang suka, dan tidak ada seorangpun yang merasa tidak nyaman ketika berada di sampingnya.

Predikat mati sahid dalam Islam memang memiliki banyak makna. Bukan semata makna yang paling melekat yang selama ini kita ketahui, yaitu orang yang meninggal saat berperang mempertahankan agama Islam dari serangan orang-orang kafir, tapi masih ada predikat mati syahid lain yang patut diberikan kepada orang meninggal selain saat berperang. Di antara mereka adalah, seorang ibu yang meninggal saat berjuang melahirkan anaknya, orang yang meninggal di saat mempertahankan hak-hak dan harta benda yang dimilikinya, meninggal saat solat atau sedang beribadah, meninggal saat menjalankan amal soleh dan sebagainya.

Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa apapun yang kita kerjakan di muka bumi ini sebaiknya kita niatkan karena ibadah kepada Allah. Bukan semata ingin mencari kepentingan duniawi saja, tapi dasar utama dari yang kita lakukan itu adalah mencari ridha Allah. Jika niat itu sudah mendasari semua aktifitas kita, maka tak satupun gerak aktifitas kita kecuali karena ibadah kepada Allah. Sesuai dengan tujuan penciptaan kita sebagai makhluk Allah. “Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada Allah”. Sehingga kapanpun Allah Sang Pemilik dunia dan seisinya (termasuk kita, manusia) menghendaki untuk mengambil apa yang dimilikinya, di saat itu pula, kita berada dalam keadaan beribadah kepada Allah. Predikat syahid, khusnul khatimah dan masuk surga, akan menjadi tujuan akhir dari hidup di dunia ini. Insya Allah.

Iklan