Tag

, ,

Masih Ada Polisi Yang Baik

Tidak semua polisi itu nakal. Di antara mereka tentu masih ada yang baik. Sama seperti pejabat pemerintah di sektor-sektor lainnya. Di tengah anggapan buruknya pejabat pemerintah dan merosotnya kepercayaan terhadap pejabat publik, pasti di antara mereka ada yang baik.

Inilah yang saya alami pada hari Ahad kemarin. Ketika saya berjalan di sekitar PI, Jaksel. Dari kejauhan saya sadar di depan sedang digelar operasi kendaraan bermotor. Puluhan polisi tengah memberhentikan kendaraan bermotor di depan saya. Merasa lengkap, saya pun berjalan tanpa beban. Nyaris tidak satupun pengendara motor yang dibiarkan melenggang. Saya pun ikut pelan di belakang mereka. Agar tidak dicurigai macam-macam. Satu, dua, sampai tiga polisi tidak memberhentikan saya. Giliran sampai polisi yang keempat, tiba-tiba saya digiring ke pinggir dan diberhentikan. Saya pun santai. Kaca helm saya buka. Tenang. Sebisa mungkin tidak gugup. Apalagi beberapa senjata yang saya miliki selama ini cukup membantu mengatasi situasi saat menghadapi operasi seperti ini. Seperti biasa, gelagat dan nama polisi yang ada di dadanya menjadi perhatian pertama saya. Perhatian kedua, pada ’wajah’nya. Beruntung, perangai polisi yang memberhentikan saya cukup kalem dan tidak judes. Apalagi terlihat culas. Sama sekali tidak tergambar di wajah polisi ini.

Akhirnya, uluk salam pun meluncur dari bibirku, ”Assalamu’alaikum, pak Parjo,” sapa saya dengan nada ramah. Biasanya, polisi menyampaikan Selamat Pagi/Siang. Tapi mungkin karena sudah duluan saya kasih salam, akhirnya kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Dia tidak jawab salam saya. Tapi mudah-mudahan hatinya tergetar. Lampu depan motor saya dipegang sambil berkata, ”Kenapa lampu depannya tidak dinyalakan?”. Pertanyaan itu membuat saya kaget. Sadar bahwa saya telah melanggar.

Senjata kedua, saya keluarkan. Nama yang berbau jawa di dadanya itu menjadi amunisi berikutnya, ”Nyuwun pangapunten pak, supe” (maaf pak, saya lupa). Sapaan saya kedua, tidak begitu dihiraukan. Tangannya langsung dijulurkan ke saya, pertanda meminta saya untuk menunjukkan SIM. ”Monggo, pak” (ini, pak), sambil saya serahkan SIM C saya yang sebentar lagi sudah habis masa berlakunya.

Dilihat, dibaca dan dibolak-balik SIM itu sampai dua kali. Entah kenapa sampai dua kali saya tidak tahu. Lalu, diserahkan kembali SIM itu kepada saya sambil berpesan, ”Pak dosen..pak dosen, mestinya kamu kasih contoh yang baik. Lampu harus dinyalakan. Lain kali kalau tidak dinyalakan akan saya tilang, ya”. Dalam hati saya tersenyum, entah karena faktor tulisan pekerjaan saya yang ia baca atau karena sebab lainnya saya tidak tahu. Namun yang pasti, tahap pertama pemberian peringatan kepada pelanggar lalu lintas, itu tindakan positif dan patut dipuji, menurut saya. Apalagi disampaikan dengan nada santun, pasti akan berpengaruh positif bagi pelanggar. Pesan penting berikutnya adalah adanya penegakan hukum bagi pelanggar. Pengulangan kesalahan yang sama akan dikenakan sanksi tilang.

Dari peristiwa itu membuat saya sadar. Bahwa menyalakan lampu motor di siang hari adalah peraturan yang harus ditaati. Peraturan dibuat berdasar atas berbagai pertimbangan. Terutama keselamatan bagi pengendara sendiri maupun bagi pengendara lainnya. Sejak saat itu, lampu depan kendaraan saya selalu menyala. Tidak peduli bikin accu sowak, yang penting niat menjalankan aturan. Apalagi jika mengingat kata-kata polisi yang baik hati seperti Pak Suparjo, rasanya seperti minum air es di tengah dahaga (kepercayaan kepada pejabat publik). Selamat bertugas, Pak Parjo! Tindakan Anda cerdas. Patut Anda terapkan kepada pelanggar lainnya.

Iklan