Tag

,

Ada Juga Lho, Batik Made in Kudus

Awalnya saya tidak mengira bahwa kerajinan batik yang merupakan warisan budaya Indonesia dan kini diakui dunia itu, ternyata diproduksi juga oleh warga Kudus dan sekitarnya. Selama ini, saya hanya mengenal batik diproduksi di kota-kota yang sudah tidak asing lagi. Seperti Jogjakarta, Solo dan Pekalongan. Ups..! Ternyata saya salah. Kota Kudus yang selama ini dikenal dengan ‘kota kretek’, – yang kata orang, kota penghasil racun berbahaya– itu juga memiliki ketrampilan membatik.

Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di Kudus saya semakin penasaran dengan buah karya batik made in Kudus itu. Seperti apa sih hasilnya. Ciri-ciri apa yang membedakan antara batik hasil racikan tangan trampil cah Kudus dengan hasil batik produk kota-kota besar yang sudah terkenal itu?

Sekali waktu saya diajak istri saya mendatangi sebuah rumah di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus. Saya kaget dan tidak mengira bahwa di desa yang lokasinya tidak lebih dari 5 KM dari rumah saya ternyata ada pengrajin batik yang sudah terkenal. Banyak tokoh dan artis nasional yang sudah pernah mengunjungi rumah itu untuk membeli batik buatannya. – ini terlihat dari foto-foto pemilik dengan para pembeli yang ditempelkan di dinding rumahnya–. Menurut pengakuan pemiliknya, beberapa stasiun tv nasional juga sudah pernah menayangkan batik miliknya. Duh, ternyata saya ketinggalan kereta. Mungkin kalau saya tidak diajak istri ke sana, selamanya tidak akan pernah tahu bahwa di desa itu ada pengrajin batik yang sudah terkenal.

Yang lebih membuat saya semakin kaget, harga kain batik tulis asli Kudus lumayan mahal. Untuk motif sederhana, satu potong baju laki-laki sekitar 250 – 350 ribu. Sedangkan untuk motif sedang, berkisar antara 500-650 ribu. Dan yang paling halus kualitas super, harganya bisa sampai 800 ribu sampai 1juta. Wow… dahsyat.. bukan main.

Dalam hati saya, lha wong batik buatan Kudus –yang tidak begitu terkenal kok harganya semahal itu. Akhirnya rasa penasaran saya semakin mengusik. Mencoba menanyakan kepada si pembuat batik. Kata dia, sebetulnya batik di pesisir Jawa sudah ada sejak lama. Motif-motif batik pesisir Jawa sebagian besar motif klasik yaitu perpaduan batik tiga negeri majapahitan dan perpaduan Jawa-Islam-China.

Nah, sejak batik diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia, motif-motif batik pesisir semakin berkembang motif-motif lokal. Para perajin batik menggali dan mengembangkan motif batik berdasarkan potensi, kearifan, legenda dan filosofi lokal.

Kudus sebagai ‘kota kretek’ di mana salah satu bahan baku rokok adalah tembakau, maka untuk mengidentifikasi batik Kudus, dibuatlah batik dengan motif daun tembakau. Begitu juga dengan batik yang bermotif alat pelinting rokok dan batik dengan motif rokok kretek itu sendiri. Ada juga batik dengan motif prajoto, yaitu batik dengan motif buah parijoto yang melukiskan potensi khas Pegunungan Muria.

Ada juga motif batik bulusan. Motif ini diangkat dari legenda bulusan. Motif itu berupa lima fragmen gambar yang membentuk alur kisah terjadinya tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kudus.

Hmm…ternyata motif batik Kudus sangat unik. Motifnya multikultur karena merupakan produk daerah yang kenta budaya Jawa, Islam dan China. Selain mengadopsi budaya China, batik Kudus juga dipengaruhi budaya Islam dengan motif huruf-huruf Arab atau kaligrafi. Motif itu dapat dikembangkan lagi melalui penggalan-penggalan kreatif para perajin,baik untuk memenuhi kebutuhan pasar batik maupun pelestarian budaya lokal.

Meskipun harganya mahal, karena saya merasa cinta dengan pelestarian budaya lokal apalagi trend pakaian batik sedang in, mahal sedikit tidak masalah, yang penting merasa pede ketika memakai hasil produk lokal buatan tangan ‘tetangga’ sendiri.

Iklan