Tag

, ,

Pengamen Cilik VS Peminta Sumbangan

Kangen sekali rasanya saya menikmati suasana bus kota di Jakarta. Karenanya, hari itu saya berniat mengandangkan kuda besi tua saya sejenak dan memberinya cuti sementara. Maklum umurnya sudah tua (seumur anak kelas 3 SMA). Sekaligus saya ingin mengenang enam tahun silam saat saya berebut kursi, berdesak bersikutan, bergelantungan dan menghirup ‘aroma parfum’ di bus kota yang serbaneka. Serta kangen rasanya mendengarkan ocehan, lantunan dan syair lagu serta puisi anak jalanan yang lalu lalang serta naik turun silih berganti di bus kota.

Hari itu, saya berangkat pukul 05.50. Waktu yang sangat pagi dan amat jarang saya jalani sebelumnya. Paling-paling dua atau tiga kali setahun. Saat ada acara mendesak. Sembari berniat mengejar waktu agar bisa sampai kantor jam 7.00. Atau paling lambat 7.30. Karena saya sudah komitmen dengan teman-teman kantor bahwa bulan Ramadhan ini jam kantor berubah menjadi 07.30 s.d 16.30.

Tak lama kemudian, datang bus Damri P21 Ciputat – Blok M. Awalnya ragu untuk naik. Tapi akhirnya kuputuskan untuk naik daripada nunggu Patas 57 Ciputat – Gajah Mada yang belum tentu setengah jam lagi muncul. Bus yang mirip onggokan besi tua ini ternyata masih menjadi pilihan favorit penumpang dari Ciputat. Terbukti begitu bergerak dari arah Pasar Ciputat yang sekarang sudah ‘bersolek’ (karena fly over-nya sudah mulai digunakan) bus Damri ini sudah penuh penumpang. Banyak yang sudah berdiri bergelantungan. Sampai bus-nya miring ke kiri. Ya, tak apalah. Kalau yang lain saja pada mau naik, kenapa saya tidak. Toh mereka dan saya juga sama-sama punya niat agar tidak telat masuk kantor. Apalagi begitu sampai di Blok M langsung dijemput Bus Way, hmm..sepertinya suasana di dalam Damri ini hilang oleh suasa penumpang Bus Way yang bening dan kelimis-kelimis…(bukan kelihatan miskin, lho….)

Bus berjalan melenggok. Sesekali bunyi kriet…kriet…terdengar dari kopling yang dipaksakan pak sopir. Memasuki titik-titik kemacetan, knalpot bus mulai memuntahkan asapnya yang hitam pekat. Di dalam bus, saya teringat saat naik motor tepat berada di belakang cerobong knalpot bis ini. Saya sering mengumpat karena aroma knalpotnya yang hitam pekat selalu menelusup ruang kosong badan saya sampai baju yang paling dalam. Tak pelak meskipun pakai jaket tebal, tetapi tetap saja begitu sampai kantor, jaket dibuka, wush….aroma knalpot yang tersimpan di lekukan baju dan badan saya langsung menyembul keluar. Ughh..! nikmat….

Dititik-titik kemacetan seperti inilah tempat para pengamen cilik dan peminta sumbangan melalukan aksinya. Termasuk para peminta-minta. Saya melilhat dari arah belakang, naik pengamen sekitar umur 8 tahun. Mungkin karena badannya kecil, sehingga tidak terlihat oleh teman seprofesinya di luar. Kemudian dari pintu depan naik juga peminta sumbangan yang membawa kotak amal. Sebelum naik dia sudah melihat ke dalam bus sambil mengamati apakah ada teman seprofesinya ataukah tidak. Dia tidak tahu kalau dari belakang sudah ada teman seprofesinya yang sudah naik duluan.

Mulailah si pengemen ini menyapa penumpang dengan salam pembuka. Sementara peminta sumbangan yang berdiri di bagian depan, kaget dan terbelalak ketika mendengar salam pembuka dari pengamen yang cukup melengking dari arah tengah bus. Sorot mata peminta sumbangan menatap tajam si anak. Sepertinya memberi isyarat agar lagunya dipercepat sehingga dia juga mendapat giliran menyalami penumpang. Tetapi karena pandangan si anak tertuju ke luar bus menjadikan dia tidak tahu bahwa di bagian depan ada sorot mata tajam yang sepertinya meminta untuk mempercepat aksinya.

Lagu pertama cukup enak dinikmati. Diiringi kecrek tutup botol ditangannya menambah sedikit berbeda daripada hanya vokal saja. Saya sendiri yang berdiri tepat di hadapan si anak merasa senang mendengar lagu yang dinyanyikan itu. Suaranya merdu dan liriknya juga hafal. Dalam benak saya berfikir, wah…jangan-jangan si anak ini terobsesi oleh Aries pemenang Indonesian Idol 2008. Kepiawaian Aries mampu menyihir Titi DJ saat audisi pertama melalui lagu yang dibawakan Aries (saya lupa judul dan penyanyi aslinya. Karena meskipun saya suka lagu tapi tidak minat untuk menghafal siapa penyanyi dan judulnya, pokoknya reff-nya begini…dapatkah aku memeluknya, jadikan bintang di surga…). Lima kali menjadi juri di Indonesian Idol, Areis-lah satu-satunya orang yang mampu membuat Titi DJ merinding dan menangis saat menyeleksi para audisi. Dan akhirnya melalui lagu yang dibawakan itu, Aries, sang pengamen jalalan, menjadi pemenang Indonesia Idol 2008. Dalam benak saya, mungkin si anak ini punya obsesi seperti Aries. Menjadi orang hebat yang dirintis dari jalanan. Sehingga ia memilih lagu itu sebagai lagu pilihan utama ketika berada di dalam bus kota.

Lagu pertama selesai saya sudah siap-siap dengan recehan yang tersedia di kantong tas saya. Ternyata, pengamen ini meneruskan lagu keduanya. Sambil kembali menyapa penumpang dia membawakan lagu keduanya dengan lirik yang juga terkenal. (tapi lagi-lagi saya tidak tahu penyanyi dan judulnya. Yang pasti saya suka lagu itu). Saat pengamen ini menoleh ke arah depan dia baru sadar kalau di depan ada dua mata yang menyorot tajam ke arahnya. Tapi dia malah cuek. Sementara si peminta sumbangan justru semakin geram dengan lagu kedua yang dibawakan si anak ini. Seakan-akan peminta sumbangan ini mau berbuat sesuatu untuk segera menyudahi nyanyian si anak. Saya mengamati gerak geriknya dengan serius.

Secara bahasa tubuh, jelas-jelas ia ingin bertindak secara fisik. Karena dari tadi saya amati kotak amal yang ada ditangannya mulai dipukul-pukulkan ke arah paha dia. Wajahnya juga tegang memerah. Dan dia tidak mau turun dari bus meskipun di dalamnya sudah ada teman seprofesinya. Padahal lazimnya, jika di dalam bus sudah ada teman seprofesinya, biasanya salah satunya mengalah dan turun mencari bus lain yang tidak ada temannya.

Sementara pengamen cilik tadi menikmati lagu yang dia nyanyikan sendiri. Sepertinya, meskipun secara fisik anak ini jauh lebih kecil dibandingkan peminta sumbangan tadi, tapi mental jalanannya tak mau kalah. Semakin dia diplototi oleh peminta sumbangan justru membuat keberanian dia semakin kuat. Si anak melanjutkan lagu ketiganya. Saya sendiri juga terhenyak. Lho! Berani amat ini anak.

Begitu si peminta sumbangan mendengar si anak melanjutkan aksinya, tak lama kemudian dia mulai beringsut ke tengah. Prediksi saya mulai terbukti. Kalau pun dia mau turun, kenapa tidak melalui pintu depan saja. Toh lebih dekat. Kenapa ia memilih lewat belakang. Wah, pasti ada yang tidak beres ini, begitu gerutu saya..

Setelah dia berhasil melewati penumpang berdiri yang berjejal-jejal, akhirnya sampailah ia dekat dengan si anak. Sedangkan si anak tampak cuek tak menghiraukannya. Tiba-tiba tanpa sepatah katapun kotak amal yang dipegang tadi melayang ke arah tubuh si anak. Prak..!!..

Ha…!! saya tercengang. Si anak tak mengaduh. Dia hanya membalas dengan ejekan. Wue..!! Si pembawa kotak amal membalas lagi dengan mengacungkan kotak amalnya, tapi kali kedua ini tidak sampai dipukulkan si anak. Lagu ketiga yang dinyanyikan sempat terhenti. Para penumpangpun tak ada yang berbuat banyak atas kejadian itu. Pukulan ini justru membuat iba penumpang, di samping suaranya memang layak untuk diberi apresiasi. Akhirnya, begitu selesai lagu ketiga, mulailah senjata bungkus permen dikeluarkan. Dia menyusur dari satu kursi ke kursi lain. Begitu sampai di depan saya, saya melihat uang ribuan cukup memenuhi kantong senjatanya. Meskipun saya sendiri tidak memasukan yang ribuan, tapi minimal cukuplah kalau untuk beli satu buah gorengan.

Ternyata bus kota yang selama ini saya tinggalkan masih menyimpan banyak pelajaran hidup bagi saya dan mungkin penumpang lain di bus kota. Termasuk pelajaran yang saya dapatkan dari kedua ’pencari rizki’ di jalanan tadi. Bahwa berebut lahan rizki untuk mencari sesuap nasi terjadi di semua tempat. Saling sikut, saling tendang kalau perlu saling bunuh, terkadang menjadi pilihan bagi mereka yang tidak menyadari hakikat kehidupan dan cara mencari rizki yang baik dan halal di mata Allah.

Iklan