Tag

,

Berebut Hak di Jalan

Lagi-lagi soal rebutan hak antar sesama pengguna jalan. Siapa lagi pelakunya kalo bukan ‘Jagal Jalan’ alias sepeda motor. Kejadian pagi tadi bukan sesama sepeda motor tapi dengan pejalan kaki. Menurutku, jelas jomplang. Kalau ‘Jagal’ dengan ‘Jagal’ mungkin agak sebanding. Tinggal Jagal mana yang ngototnya lebih kencang, gertakannya lebih dahsyat dan ba bi bu-nya tok cer maka dia bisa menang. Tapi dengan syarat dia pada posisi benar, saya bisa maklum, sebab ini Ibu Kota, men..!. (kata judul di film, lebih kejam daripada ibu tiri). Siapa pintar dan benar maka dia tidak akan diinjak-injak haknya.

Tapi, karena kejadian tadi pagi benar-benar ulah ‘Jagal Jalan’ yang biadab, maka kekesalan itu terpaksa saya tumpahnya di blog ini.

Ceritanya begini, di Jl. Sisingamangaraja Jaksel arah ke Bunderan Patung Olah Raga, di situ selalu macet. Bukan hanya karena traffic light, tapi volume kendaraan memang cukup tinggi. Ini disebabkan pertemuan antara kendaraan dari arah Blok M & dari arah Pakubuwono.

Saling serobot sesama Jagal Jalan tak bisa dihindari. Bahkan saling serobot sesama roda 4 menuju jalur cepat juga kerap terjadi. Siapa gesit mencari celah maka selangkah dua langkah akan bisa mendapat tempat di depan. Uji nyali dan kendali emosi harus menjadi benteng bagi Jagal lain yang merasa didahului. Suasana seperti ini tak bisa dihindari. Karenanya butuh kesabaran ekstra ketat. Kita maklum, selama si Jagal yang gesit mencari celah dianggap tidak reseh dan masih dalam batas wajar, ya silakan saja. Kata stiker di spakbore belakang ‘Monggo Silakan Nyalip’. Ini pertanda Sesama Jagal Boleh Saling Mendahului.

Tapi yang membuat saya dan Jagal lain dongkol bahkan ingin ikut membantu nampar mukanya, adalah sikap Jagal yang mengambil hak-nya pejalan kaki di trotoar. Trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, di Jakarta, sering berubah fungsi. Bukan saja menjadi jalan bagi si Jagal, tapi kadang berubah menjadi tempat parkir, lapak kali lima bahkan untuk tambal ban.

Sepertinya, pejalan kaki tadi pagi orangnya santai. Tak terusik dengan hiruk pikuk kemacetan di sampingnya. Merasa berada di jalan yang benar, dia tidak menggubris klakson bersahutan di belakangnya. Alih-alih memberi celah bagi si Jagal untuk mendahuluinya, menoleh ke belakang pun tidak.

Beberapa Jagal yang sadar akan hak si pejalan kaki, lalu tahu diri. Mereka kembali ke jalan yang benar. Turun ke jalan raya dan memberi kesempatan pejalan kaki untuk menggunakan haknya.

Dua sampai lima kendaraan tahu diri. Dalam hatiku mereka cukup dewasa. Baik berfikir maupun berbuat. Hingga akhirnya dia mau kembali ke jalannya dan memberi hak pejalan kaki. Tapi tiba-tiba ada selonong boy memaksakan diri. Klakson dibunyikan berkali-kali. Bahkan terus menjejalkan kuda besinya ke sebelah kanan si pejalan kaki yang sempit. Merasa terusik, pejalan kaki tadi jengkel naik pitam. Dia berhenti dan membalikkan badan. Sepertinya pasang kuda-kuda ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, prak…!! Tangan pun melayang ke (helm) kepala si Jagal.

Si Jagal tidak terima. Dia ingin membalas. Sambil membuka helm kuda besinya di standarkan. Ia mendekati pejalan kaki yang menamparnya. Begitu melihat wajah si Jagal masih belia, beberapa jagal lain berhenti melerai. Si Jagal yang masih ‘ingusan’ tadi dipegang tangannya oleh yang melerai. Ia dinasehati. Beberapa Jagal yang simpati kepada pejalan kaki, justru ikut membantu mengomeli bocah ingusan tadi. Satu di antaranya, nyelonong tanpa basa basi. Dia langsung meludah ke muka si bocah tadi. Juh……!!! Langsung pergi.

Sebetulnya saya ingin ‘berpartisipasi’ untuk meludahi, tapi kesempatan itu sudah didahului orang lain. Yah, cukuplah orang lain yang berbuat. Karena sering kali saya dijengkelkan dengan ulah-ulah seperti itu dan hingga mengusik saya ingin meludahi si Jagal brengsek.

Itulah kondisi pengguna jalan di Jakarta. Yang sebetulnya masing-masing sudah diberi hak dan sudah diatur lajurnya sedemikian rupa. Supaya pengguna jalan berada di trek yang sebenarnya.

Iklan