Revolusi Moral

Oleh Noor Aflah

‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’. Seperti itulah gambaran negeri kita Indonesia versi sutradara kawakan Deddy Mizwar. Kondisi bangsa kita yang digambarkan dalam film komedi satire itu memang tidak sama persis dengan kenyataan. Bisa jadi lebih baik atau malah sebaliknya, lebih buruk. Namun setidaknya penggalan-penggalan kisah hidup dalam film yang menerima 13 penghargaan itu, benar-benar nyata terjadi di tengah masyarakat kita. Miris rasanya. Tapi itulah faktanya.

Permasalahan-permasalahan yang kini terus terjadi di tengah kehidupan berbangsa semakin hari semakin memilukan hati. Mulai dari kasus korupsi yang menimpa petinggi di semua level tingkatan pemerintahan dari pusat sampai kelurahan, banyaknya wakil rakyat yang dipenjara usai menjabat, kasus Bank Century yang sudah mulai (di) kabur (kan), kasus Gayus yang melibatkan pejabat hukum, pengusaha, politisi kini lamat-lamat mulai lenyap, kebiasaan berbohong oleh pejabat pemerintah, penggelapan uang bank, penipuan dan berbagai macam tindakan lain yang tak terpuji dan merugikan masyarakat banyak.

Apa sebetulnya akar masalah dari semua itu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tidak ada salahnya saya ambilkan pendapat A. Mustofa Bisri (Gus Mus) dari tulisan yang  pernah dimuat di koran Indo Pos. Menurut Gus Mus akar masalah itu berawal dari bergesernya pandangan hidup kita, terutama konsep kita tentang kehidupan dunia ini. Dulu orang Jawa, misalnya, mempunyai falsafat “Hidup di dunia ini hanyalah ibarat mampir ngombe, mampir minum.”  Ini hampir senada dengan anjuran Nabi Muhammad SAW, “Kun fiddunya kaannaka ghariibun au ‘aabiru sabiil”, jadilah kamu di dunia ini seolah-olah orang asing atau penyeberang jalan.” Karena pandangan hidup inilah, kesederhanaan hidup menjadi sebuah anutan masyarakat. Sisa-sisa budaya kesederhanaan ini masih  bisa dijumpai –meski sudah mulai langka– di desa-desa.

Ironinya, falsafat Jawa “mampir ngombe” yang agamis itu, menurut Gus Mus kini mulai tampak terabaikan lalu seperti dilupakan sejak kekuasaan ‘raja Jawa’ Suharto.  Entah disadari atau tidak, dalam masa kekuasaannya yang sekian lama; Suharto laiknya pendidik yang genial telah berhasil mendidik bangsa ini untuk mencintai kehidupan duniawi  sedemikian rupa, sehingga nyaris tak ada lagi warga negeri ini yang memandang kehidupan duniawi ini biasa-biasa saja. Yang kalau pun menganggap penting, hanyalah sekedar  sebagai wasilah atau sarana bagi kehidupan yang lebih esensial dan abadi di akherat. Semua orang seolah-olah berlomba untuk menjadi orang kaya seperti pendidik dan panutannya itu. Harta dan kekuasaan pun menjadi idaman dan kepentingan setiap orang.

Gus Mus mengajak kita untuk mencoba menelusuri semua perangai aneh yang membuat kerusakan di negeri ini, seperti misalnya, penegak hukum yang justeru melecehkan hukum dan preman yang mengatur keamanan atau mengatur pengadilan. Hal-hal yang mengakibatkan  hukum tidak dihargai, banyak orang main hakim sendiri, dan kerugian negara yang tak terkira. Seperti juga pemimpin yang bertikai dengan sesama pemimpin;  wakil rakyat yang tak pernah memikirkan rakyat dan hanya memikirkan diri sendiri; yang berakibat krisis kepercayaan. Maling yang memegang jabatan-jabatan penting sehingga mengakibatkan kerusakan di mana-mana. Belum lagi perangai-perangai ganjil masyarakat kita seperti orang tua yang  menjual anaknya sendiri;  menantu yang mencekik mertuanya; anak-anak yang bunuh diri;  dan sebagainya,  dan seterusnya. Bila ditelusuri perangai-perangai aneh yang berakibat buruk itu, akan ditemukan bahwa yang mengatur semua itu adalah ‘tuhan’ yang namanya kepentingan duniawi.

Pendidikan Ala Pesantren

Rasanya sudah berbagai macam cara ditawarkan oleh kyai, ustadz, pakar pendidikan, pemerintah untuk mengobati penyakit ‘menuhankan’ kepentingan dunia tersebut. Namun tetap saja tak memberi pengaruh yang berarti. Kita tentu tidak boleh psimis dengan ikhtiar memerangi kebiasaan buruk yang sudah mengakar berurat dan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat kita. Jangan sampai generasi penerus umat yang kini masih duduk di bangku sekolah dan masih steril dari keinginan ‘menuhankan’ materi turut terkontaminasi penyakit tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh para kyai dan ustadz adalah melalui pendidikan yang berbasis nilai-nilai agama yang kuat. Seperti pendidikan agama yang berbasis kitab kuning (pesantren). Di sini, para kyai, ustadz, guru memberi suri tauladan kepada anak didiknya secara langsung. Kehidupan keseharian kyai yang memandang materi bukan sebagai tujuan hidup di dunia, sangat memberi pengaruh terhadap mental anak didiknya. Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al Quran dan Hadits dan dijabarkan oleh para ulama melalui kitab kuningnya dan disampaikan oleh para kyai, ustadz dan guru yang memiliki teladan yang baik akan membentuk karakter anak didik yang baik pula. Sehingga ketika mereka terjun ke masyarakat, masuk ke dunia kerja, terlibat dalam organisasi Islam maupun organisasi politik bekal yang dimiliki sudah memadahi.

Nilai kejujuran, kerja keras, tanggungjawab, sikap ksatria, semangat pengorbanan dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah merupakan nilai-nilai universal yang diajarkan di dalam lembaga pendidikan berbasis pesantren. Semua itu akan diserap oleh anak didik yang dapat membentuk setiap pribadi dan perilaku di manapun mereka berada.

Di sadari ataupun tidak, bangsa Indonesia sangat memerlukan model pendidikan seperti yang diterapkan di dalam lembaga pendidikan yang berbasis kitab kuning (pesantren). Kita bisa melihat di beberapa Negara negara sudah mencobanya. Di dalam sistem pendidikan nasional, Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan seperti itu.  Indonesia pernah ‘menyelipkan’ pendidikan agama di dalam system pendidikan nasional. Tetapi, pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), –  belum mencapai hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek pengalaman. Dan sepertinya, tidak ada contoh dalam pembelajaran itu secara konkret! Padahal, program pendidikan berkarakter seperti yang diterapkan di dalam lembaga pendidikan Islam, sangat memerlukan contoh dan keteladanan, seperti yang dicontohkan kyai, guru dan ustadz di pesantren-pesantren.

Melalui pendidikan agama yang berbasis pesantren dan mengajarkan kitab-kitab ulama salafus shalih, serta dibimbing oleh para kyai, ustadz dan guru yang memiliki tauladan akhlak dan moral yang baik akan menghantarkan anak didik dan generasi umat ke depan pintu gerbang keselamatan di dunia dan di akhirat, kelak. Dibarengi ikhtiar dan doa dari orang tua, diikuti contoh budi pekerti yang baik dari lingkungan keluarga, insya Allah kita akan memetik generasi umat yang kuat budi pekerti dan akhlaknya. Sehingga ketika mereka kelak menduduki jabatan-jabatan penting di dalam pemerintahan tidak kemudian silau harta dan jabatan. Atau jika mereka kelak menjadi pengusaha sukses, maka tetap rendah hati dan peduli terhadap mereka yang membutuhkan. Semoga!

Iklan