Mengasah Empati

Sambil menanti kedatangan seorang teman, di kursi tunggu sebuah bandara, kami terlibat obrolan ringan dengan teman lain yang sudah lebih awal datang di bandara. Di tengah obrolan itu, tiba-tiba pandangan kami tertuju pada seorang nenek lanjut usia. Dengan agak sempoyongan ia berjalan sendiri menuju pintu masuk bandara.

Berawal dari melihat keadaan si nenek di bandara itu, teman kami ini membagi pengalaman yang ia alami di bandara yang sama beberapa tahun silam. Saat itu, cuaca di bandara sangat panas. Terik matahari membuat wajah seorang lelaki berkeringat. Dua tas menggelayut di tangan kanan dan kirinya. Ia berjalan di belakang istri dan ketiga anaknya. Sementara sang istri menggendong si bungsu sambil menenteng tas di tangannya.

Sebenarnya tak ada yang aneh dalam diri keluarga tersebut. Tapi, ada yang tak biasa di lingkungan kita. Sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian banyak orang di bandara. Pasalnya, sang ibu yang menggendong si bungsu dalam kondisi hamil tua. Tak lama lagi waktu persalinan tiba. Sementara ketiga anak lainnya masih sangat belia. Rata-rata jarak umurnya satu tahun di antara mereka.

Tak ada sikap empati dan mau menolong dari para petugas di bandara. Mulai dari pintu masuk, ruang runggu, hingga masuk ke pesawat. Sampai di pintu pesawat pun, tak ada perlakuan khusus dari pramugari. Jangankan menuntun si anak, menyapa santun pun tidak. Apalagi menawarkan kursi kosong di kelas VIP, yang saat itu jelas-jelas tidak ada penumpangnya. Yang ada malah sikap sinis melihat sang ibu yang hamil tua dan diikuti ketiga anak kecil di belakangnya.

Untuk perjalanan satu atau dua jam, mungkin keadaan seperti ini bisa ditolerir tapi bagaimana jika perjalanannya jauh ke luar negeri, seperti ke London tempat tujuan keluarga ini. Apakah tidak ada ‘pelajaran empati atau saling tolong menolong’ yang diajarkan kepada para petugas di bandara dan awak pesawat? Tidak adakah pelayanan dan fasilitas khusus di bandara bagi penumpang dalam keadaan darurat seperti ini? Benarkah bandara adalah tempat ‘wah’ dan ajang memperlihatkan ‘gengsi individualis’?

Bagaimanapun, anak adalah amanat dari Allah. Apapun keadaannya seorang ibu akan berusaha untuk tetap menjaganya. Begitu pula dengan bayi yang masih ada dalam kandungan sang ibu. Pasti ia berharap dirinya dan anaknya nanti lahir dengan selamat.

Bagi sang ibu, pudarnya sikap empati dan tidak adanya upaya mau menolong penumpang seperti itu tidak membuat dirinya berkecil hati. Ia tetap menunjukkan sikap wajar seperti penumpang lainnya di pesawat. Sementara penumpang lainnya pun tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali sekedar menaruh simpati dalam hati dan rasa iba atas sketsa kehidupan di depan mata itu.

Tiba di bandara London susana menjadi berbeda. Turun dari pesawat, sang ibu yang sedang hamil tua di sambut petugas dengan hangat dan bersahabat. Beberapa petugas yang melihat kondisi seorang ibu yang hamil tua, langsung cekatan dalam membantu. Sang ibu kaget ketika itu. Apalagi ia baru pertama kali menginjakkan kaki di negara itu. Petugas memberikan ruang istirahat khusus bagi si ibu. Mereka juga memberikan layanan luar biasa bagi anak-anak kecil yang bersama ibunya. Segala macam mainan anak-anak, mulai dari boneka, mobil-mobilan dan makanan ringan semua diberikan. Rasa peduli, suka menolong dan sikap empati yang bernuansa Islami tampak diperlihatkan petugas layanan umum di negara yang mayoritas penduduknya non muslim itu.

Keluar dari bandara, mobil ambulans pun telah siaga. Bukan hanya dipersiapkan untuk mereka yang sakit, namun ambulans-pun dipersiapkan untuk kondisi darurat seperti ibu yang hampir melahirkan itu. Mobil ambulans lalu mengantar sang ibu menuju tempat tinggalnya. Sampai di tempat tinggal, lagi-lagi ia mendapatkan layanan yang tidak ia duga. Sambutan tetangganya melebihi seorang saudara, padahal ia baru pertama kali mengenalnya. Begitu juga para petugas di lingkungannya (semacam petugas RT / Kelurahan) yang akrab dan bersahabat.

Petugas juga siap membantu dan menolong si ibu jika sewaktu-waktu persalinan tiba. Dan ternyata, keesokan harinya tanda-tanda persalinan mulai terasa. Petugas langsung sigap membantu mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Mereka juga ikut menunggui si ibu selama persalinan berlangsung. Selang beberapa jam, tangis bayi pun pecah. Jabang bayi lahir ke dunia. Rasa gembira menyelimuti suasana rumah sakit. Tak ketinggalan para petugas. Mereka juga ikut bersuka cita atas kelahiran sang jabang bayi. Karangan bunga, ucapan selamat dan tali kasih dari petugas diberikan kepada keluarga pendatang baru yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.

Tak ada kesulitan izin tinggal bagi pendatang baru, apalagi kondisinya darurat. Begitu juga tak ada istilah permintaan uang jaminan pembayaran rumah sakit bagi kondisi seperti yang dialami keluarga itu. Semua layanan dipermudah. Tolong menolong dan saling bantu di perlihatkan di setiap sudut petugas layanan umum. Petugas layanan tidak tanggung-tanggung terlibat membantu secara langsung.

Subahanallah..! Inilah manifestasi dari pepatah Arab ‘At-Ta’awunu Hamidun’ ; Tolong Menolong Dan Saling Berempati Itu Terpuji. Betapa indahnya jika cinta kasih, tolong menolong, saling empati itu diberikan di antara kita tanpa melihat siapa mereka dan darimana mereka berasal. Betapa mulianya kehormatan bangsa kita jika masyarakatnya mau melakukan seperti yang dilakukan petugas ; mulai dari bandara London sampai kelurahan di sana.

Nilai-nilai Islam dan budaya ketimuran berupa ; tolong menolong dan sikap empati justru berjalan di negara barat yang mayoritas non muslim. Entah di mana nilai-nilai ketimuran kita yang menjunjung tinggi kekeluargaan. Sudah pudarkah rasa empati di antara kita? Kemana sikap saling tolong menolong yang sangat terpuji itu? naflah

Iklan