Potensi Diri

Pada zaman dulu, banyak sekali kelompok pemuda di kampung-kampung yang sehari-harinya hanya berkumpul dan bergerombol. Main bareng, makan bareng, tidur pun tidak mau berpisah. Padahal, pemuda tersebut bukan tidak pernah mengenyam pendidikan, hampir seluruhnya berpendidikan. Bahkan separuh di antaranya lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Kecerdasan yang mereka miliki juga di atas rata-rata. Namun setiap kali di antara mereka ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, orang tua mereka selalu melarang dan berkata. “Apa yang kalian pelajari di bangku SMA sudah cukup. Kalian tidak perlu kuliah. Dan sebaiknya membantu menggembala kerbau dan kambing bapakmu ini.”

Kondisi di atas sangat disayangkan. Apalagi dilihat dari potensi yang dimiliki sebagian pemuda tadi punya peluang untuk dikembangkan. Bakat-bakat terpendam dalam diri pemuda bisa menjadi mati jika hanya dibatasi dengan menggembala kambing. Lebih mengkhawatirkan lagi, bila dari tahun ke tahun pemuda itu hanya berteman dengan kambing dan tidak jauh dari rutinitas mencari rumput, maka bagaimana dengan nasib mereka ke depannya nanti. Apalagi mereka harus melewati jenjang dewasa dan harus berkeluarga. Apakah dia akan tetap menggantungkan nasibnya dengan menggembala kambing? Lebih berbahaya lagi jika mereka pun akan menyikapi model pendidikan anak-anaknya kelak sebagaimana sikap bapaknya dahulu. Dan bila hal ini terjadi, adalah tidak mustahil bila akhirnya sebuah keluarga akan menciptakan keturunan yang memberangkus potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki dalam keluarga tersebut.

Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dibekali potensi diri, bakat, kemampuan dan keahlian yang bermacam-macam. Mereka bisa melakukan apa saja dari semua itu dan kelak bisa meraih sukses seperti yang dicita-citakan. Tentu dengan syarat mau belajar dengan tekun, mau mempraktekkan berbagai keahlian yang dibutuhkan, konsisten dan tidak kenal putus asa.

Banyak contoh orang yang sukses yang mengajak kita untuk terus meniru, mencari dan mempelajari berbagai kecakapan diri hingga kita menemukan sebuah potensi besar yang ada dalam diri kita. Potensi terpendam itu jika secara terus menerus kita gali dan kita asah, maka akan semakin banyak pula keahlian-keahlian dan kehebatan-kehebatan yang tanpa kita sadari bahwa potensi itu ternyata ada pada diri kita.

Ada kalanya potensi, bakat, keahlian dan kecakapan yang dimiliki memang sudah disadari sendiri keberadannya oleh si pemilik. Akan tetapi, terkadang seseorang baru mengetahui kemampuan-kemampuan itu setelah orang lain, bisa jadi gurunya, temannya, atau saudara kita, orang dekat kita mengungkapkannya. Tapi yang lebih penting daripada itu adalah jangan sampai lelah menggali potensi dan kemampuan yang ada pada diri kita. Teruslah diasah, diolah dan dikembangkan.

Sederet bidang masih terpendam secara misterius dalam diri kita. Ada potensi menjadi juru dakwah, pebisnis, arsitek, dokter, politikus, ahli manajemen, desainer, pendidik, penulis dan ahli-ahli lainnya.

Ibarat sebuah bumi, Allah menciptakan manusia dengan segala potensi pertambangan yang ada di dalamya. Ada tambang emas, batu bara, minyak, biji besi, timah, tembaga dan sebagainya. Seperti pepatah Arab yang menyebutkan ‘Manusia itu Ibarat Tambang’.

Oleh karena itu, sedini mungkin, sedari awal jangan lelah dalam mengolah dan menggali tambang terpendam dan kemampuan yang ada pada jiwa kita. Teruslah mempelajari keahlian-keahlian tertentu, lalu terapkan dan praktekkan. Insya Allah kita akan meraih puncak kesuksesan. naflah

Iklan