Jujur

Suatu siang, sepulang anak saya dari sekolah, saya dihampiri oleh Faidun, putra pertama saya (7 tahun), sambil menunjukkan satu buah jambu air yang ujungnya sedikit bonyok. Warna jambu tersebut merah muda. Cukup menggoda anak untuk segera menyantapnya. Dengan diusap-usap bagian yang sedikit bonyok karena terkena tanah, ia menawari saya. Kata dia rasanya manis dan segar. Dia bilang sudah mencicipi satu buah sebelumnya

Melihat buah jambu yang agak asing di lingkungan kami –karena di sekeliling rumah tidak ada pohon jambu yang sedang berbuah, maka saya segera menanyakan tentang asal muasal jambu tersebut. Dengan sedikit terkejut atas pertanyaan saya, ia menjawab bahwa jambu tersebut ia dapatkan di bawah pohon jambu milik tetangga yang agak jauh dari rumah.

Kemudian saya tanya kembali apakah ia diberi atau sudah meminta izin sama yang punya. Pertanyaan kedua ini menjadikan anak saya tambah gugup dan salah tingkah. Dengan agak terpaksa akhirnya dia mengaku dan jujur bahwa anak saya memang sekadar mengambil buah jambu di bawah pohonnya dan belum minta izin sama pemiliknya.

Setiap anak, mempunyai kesempatan seperti Faidun untuk berkata jujur. Juga punya potensi untuk berbohong, jika kita membiarkan dia tanpa rasa ingin tahu untuk menanyakan asal usul jambu tersebut. Saat ia menghadapi moment kritis seperti itu, terutama di masa usia emas (golden age), 7 tahun, kita harus membimbing dan mengarahkannya agar si anak berkata jujur dan tidak berbohong, sekalipun untuk hal-hal yang remeh temeh.

Membimbing anak agar tidak berbohong memang perlu dilakukan sejak dini. Agar ia mengetahui mana perilaku yang benar dan mana prilaku yang salah. Jika seorang anak tidak diarahkan untuk berkata jujur pada setiap tindakan yang ia lakukan maka membuat anak tersebut menjadi terbiasa. Sekali dua kali ia ’selamat’ dengan ketidakjujurannya itu, maka pada kesempatan lainnya ia akan mengulangi lagi. Begitu seterusnya hingga ia tumbuh dan menjadi dewasa.

Sikap ini perlu diwaspadai sejak dini. Karena dapat mengancam keberlangsungan hidup di masa-masa yang akan datang. Sebab jika kita lihat orang-orang yang meraih kesuksesan dan keberhasilan, hampir semuanya dibangun berdasarkan atas kejujuran. Tak ada seorang pun yang bisa mengembangkan diri dan karirnya dengan bermodalkan kebohongan. Belum pernah ada cerita, seorang pengusaha sukses dibangun dengan transaksi bisnis yang penuh dusta dan sengaja menyembunyikan cacat atas barang-barang yang diperjual belikan. Hampir semua kesuksesan itu diraih dengan kejujuran. Mengatakan apa adanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Menunjukkan mana yang jelek dan mana yang baik.

Dalam diri kita ada potensi untuk berbohong dan berkata jujur. Satu dengan yang lainnya bisa saling mendominasi. Tinggal bagaimana kita dapat mengarahkan kedua potensi itu menjadi energi yang berarti. Jika potensi bohong lebih dominan menguasai maka kejujuran kita akan kalah. Kita pun menjadi lemah tak berdaya. Pintu relasi akan terkunci. Teman pun menjauhi. Tidak bisa mengembangkan diri di segala bidang. Rizki pun akan lari. Karena berbohong menjadikan kita lemah. Seperti peribahasa alkadzibu ’ajzun. naflah

Iklan