Filosofi Manggis dan Delima

Buah manggis dan delima tentu tidak asing bagi kita. Di antara kita pasti pernah menyantapnya. Buah manggis rasanya manis. Begitu juga buah delima. Hanya bedanya kalau buah manggis, manisnya legit sedangkan delima manis biasa. Tapi kalau belum matang betul, buah delima kadang rasanya asem banget.

Sebetulnya tidak ada hubungan apa-apa di antara kedua buah tersebut. Hanya saja kebetulan manggis dan delima dijadikan sebagai simbol pesan moral oleh sebuah kerajaan Islam di Jawa Tengah. Inilah yang mendorong saya untuk kemudian mendokumentasikan di dalam tulisan.

Kebetulan saya senang dengan makna filosofis yang terkandung di balik penciptaan sesuatu baik itu makanan, buah-buahan dan ciptaan Allah lainnya. Apalagi di balik makna filosofi itu terdapat pesan moral yang sangat agung. Wah, rasanya senang sekali saya mengulang-ulang dan memikirkannya sebagai upaya tafakkur akan ciptaan Allah. Kan, Allah menjanjikan pahala satu tahun bagi orang yang mau bertafakkur atas ciptaan-Nya selama beberapa saat. Itung-itung beribadah..

Mungkin sewaktu kuliah dulu saya terlalu banyak membaca buku-buku filsafat hingga akhirnya sampai sekarang masih terbawa. Yah, tak apalah. Yang penting tidak sampai menjadi orang yang berfilsafat an sich. Dan tidak sampai terjerumus pada ajaran darmo gandul seperti yang sering dilontarkan kakak saya setiap kali saya membaca buku filsafat. ”Awas lho, kalau kamu terlalu banyak membaca buku filsafat, bisa-bisa kamu tidak solat, tidak puasa, tidak mau menjalankan ajaran agama dan terjerumus pada ajaran darmo gandul,” ujar kakakku menakut-nakuti. ”Ah, ada-ada saja.Yang penting nilaiku A setiap mata kuliah filsafat,” jawabku sambil membela..

Terus terang kita jarang sekali mau memikirkan makna filosofi ciptaan Allah berupa buah-buahan. Begitu juga saat makan manggis atau delima. Melihat ada manggis di atas meja biasanya langsung saja disambar. Ditekan ujung atas dan bawahnya pakai jari, kemudian terbelah dan terlihat dalamnya. Srep.. masuk ke mulut.

Lucunya kadang malah menggerutu. Lho, isinya kok cuma dua biji. Sudah begitu yang satu lagi ukurannya lebih kecil. Padahal kalau sejenak sebelum kita makan mau memperhatikan sebentar saja, maka kita tidak akan menggerutu seperti itu. Kenapa ? Karena jumlah isi manggis sudah ditunjukkan dengan jumlah kulit yang nempel di bagian bawah (mirip pupil). Jika jumlahnya dua, pasti isi manggis jumlahnya juga dua. Dan tidak akan pernah selisih. Apalagi berbeda. Ini artinya pesan sebuah konsistensi. Konsisten antara tindakan dan ucapan. Isi hati dengan perbuatan tidak boleh berbeda. Itulah pesan agama.

Lain daripada itu, buah manggis adalah contoh dari pesan sebuah hadits. Bahwa Allah tidak akan melihat bentuk fisik seseorang. Tapi Allah akan melihat hati dan amal baik seseorang. Biarpun rupanya jelek, kulitnya hitam, yang penting hatinya bersih (dan tentunya manis rasanya, seperti manggis)

Delima. Siapa yang memberi nama delima ? Pasti tidak ada yang bisa menjawab. Paling-paling bilang kalau yang memberi nama delima adalah nenek moyang kita dulu. Benar. Nenek moyang kita lah yang memberi nama delima. Nenek moyang kita dulu adalah orang-orang alim dan sholeh dan pandai ilmu agama. Mereka memberi nama delima agar kita tetap mengingat akan keesaan Allah.

Lho, kenapa bisa begitu. Sebab di dalam buah delima terdapat pesan tauhid yang cukup mendalam. Delima, berasal dari kata ’dal’ (huruf hijaiyah yang ke delapan – silakan hitung barangkali saya salah) dan ’lima’. Artinya, huruf dal yang jumlahnya ada lima. Surat apa yang jumlah huruf dal-nya ada lima. Yaitu surat Al Ikhlas. Orang kampung saya sering menyebutnya surat Qul hu. Di dalam surat ini ada lima huruf dal. Coba dihitung lagi jika kurang yakin.

Semua amal ibadah yang kita jalankan sehari-hari muaranya adalah mengesakan Allah dan penghambaan kepada-Nya. Dan itu terkandung di dalam Surat ke-112 ini. Banyak sekali keutamaan Surat Ikhlas. Salah satunya adalah surat ini mampu menyamai pahala bacaan satu Alquran penuh sampai khatam. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya ’membaca surat Ikhlas sebanyak tiga kali, sama seperti membaca Alquran sampai khatam’. Masing-masing huruf bernilai pahala tentunya.

Dari filosofi buah manggis dan delima ini, mendorong saya untuk terus mencari hikmah dan filosofi dari ciptakan Allah di muka bumi ini. Sembari niat beribadah.

Iklan