<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Noor Aflah</title>
	<atom:link href="http://nooraflah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nooraflah.wordpress.com</link>
	<description>Hanya Blog Sederhana</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 07:03:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nooraflah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/27feabda5a9d0552ce8ab01dcccf148e?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Noor Aflah</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nooraflah.wordpress.com/osd.xml" title="Noor Aflah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nooraflah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berguru Pada Tukang Bakso, Pedagang Bubur dan Mie Ayam</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/19/berguru-pada-tukang-bakso-pedagang-bubur-dan-mie-ayam/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/19/berguru-pada-tukang-bakso-pedagang-bubur-dan-mie-ayam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 10:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bakso]]></category>
		<category><![CDATA[bubur ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[mie ayam]]></category>
		<category><![CDATA[panci]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagang Mie Ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Penjual Bakso]]></category>
		<category><![CDATA[sama sama]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal di lingkungan masyarakat kecil bagiku sangat menguntungkan. Betapa tidak, karena dengan tinggal bersama masyarakat kecil saya dapat mengambil banyak pelajaran dari mereka, dalam segala hal. Baik dalam hal bekerja, mendidik anak, berkomunikasi sampai berumahtangga. Karena kendati tingkat pendidikan mereka sebagian besar paling tinggi lulus SMP, namun dalam beberapa hal mereka bisa menjadi contoh bagi orang lain. Termasuk bagi saya.<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/19/berguru-pada-tukang-bakso-pedagang-bubur-dan-mie-ayam/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=95&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berguru Pada Tukang Bakso, Pedagang Bubur dan Mie Ayam</strong></p>
<p>Tinggal di lingkungan masyarakat kecil bagiku sangat menguntungkan. Betapa tidak, karena dengan tinggal bersama masyarakat kecil saya dapat mengambil banyak pelajaran dari mereka, dalam segala hal. Baik dalam hal bekerja, mendidik anak, berkomunikasi sampai berumahtangga. Karena kendati tingkat pendidikan mereka sebagian besar paling tinggi lulus SMP, namun dalam beberapa hal mereka bisa menjadi contoh bagi orang lain. Termasuk bagi saya.</p>
<p>Sebut saja misalnya tukang bakso dan tukang mie ayam.  Apa yang dilakukan kedua pedagang ini setiap hari hampir tak luput dari pandangan mata dan pendengaran saya. Ya, maklumlah, karena saya dan mereka sama-sama sebagai ‘kontraktor’ yang rumahnya saling berdempetan. Sehingga kebiasaan yang mereka lakukan saban hari seringkali dapat saya ketahui.</p>
<p>Setiap hari, mereka selalu bangun pagi. Sebelum adzan Subuh berkumandang, dua orang kakak beradik penjual bakso sudah memulai aktifitasnya menyiapkan <em>ubo rampe</em> (keperluan dan perlengkapan) bakso. Hal pertama kali yang disiapkan tukang bakso adalah memasak air. Itulah pekerjaan utama sebelum rangkaian pekerjaan lainnya dimulai. <em>Sorrr…</em>itulah bunyi suara air kran yang mengucur ke dalam ember berukuran besar. Bunyi suara air kran selama hampir 1 menit terdengar setiap hari. Sehingga sangat mudah untuk dijadikan sebagai tanda bahwa penjual bakso sudah mulai beraktifitas. Disusul bunyi suara mangkuk bersenggolan, sendok dan panci yang ditata di gerobak bakso. Suara-suara itulah yang kemudian membuat saya langsung bergegas turut bangun.</p>
<p>Tak lama kemudian disusul penjual bubur ayam. <em>Srengg…!</em> Pertanda bahwa mereka sedang menggoreng krupuk. Sesaat kemudian diikuti suara mangkok dan sendok yang ditata di gerobaknya.</p>
<p>Di belahan petak rumah lainnya tak mau ketinggalan. Pedagang mie ayam keliling yang satu ini tak kalah rajinnya. Begitu mendengar penjual bakso sudah bangun, ia langsung menyusul. Bedanya, kalau tukang bakso berangkat ke pasar setelah semua perabotan siap dan tertata rapi, sementara pedagang mie ayam pergi ke pasar dulu, setelah dapat belanjaan, baru menyiapkan <em>ubo rampe</em>-nya. Bunyi suara knalpot motor yang dipakai belanja ke pasar juga sangat mudah dikenali. Karena sudah dimodifikasi. Sehingga membuat saya tak asing dengan suara itu.</p>
<p>Jika tukang bakso, tukang mie ayam dan tukang bubur ayam bangun bertepatan dengan suara mengaji yang terdengar 5-10 sebelum subuh tiba, beda lagi dengan sopir angkot. Ia jauh lebih awal dibanding mereka. Antara jam tiga atau setengah empat pagi dia sudah bangun. Saya pun agak jarang bisa mendengar suara mesin angkot-nya. Karena dia lebih duluan dibanding saya. Sehingga, tahu-tahu angkotnya sudah tidak ada lagi di depan rumahnya.</p>
<p>Setengah jam berselang, dua orang tukang ojek siap berangkat ke pangkalan. Meski jenis motornya sama, tapi beda perawatan dan pemakainya. Sehingga ketika mesin motor dipanasi suara knalpotnya juga beda. Yang satu masih halus, yang lainnya sudah bocor knalpotnya.</p>
<p><em>Hmm..</em>Sungguh luar biasa semangat mereka semua. Tak peduli hujan turun, tetap saja saban hari bangun pagi. Memulai aktifitasnya mencari nafkah. Ada yang sampai pulang malam, tapi ada juga yang sore hari sudah kembali ke rumah. Yang paling cepat pulang adalah tukang bubur ayam. Antara jam 9.00 – 9.30 biasanya dagangan sudah ludes terjual. Sama seperti tukang ojek. Antara jam 7.30-8.00 kembali lagi ke rumah untuk sarapan. Usai sarapan, kembali lagi ke pangkalan. Ada penumpang atau tidak, yang penting mangkal. Tak peduli banyak saingan yang penting berbaur dengan puluhan tukang ojeng lainnya. Tak peduli penumpangnya sekarang sudah pada beli motor sendiri, yang penting dia tetap semangat di pinggir jalan.</p>
<p>Saya pun kagum melihat semangat mereka semua. Hingga setiap harinya ‘mau tidak mau’ harus malu jika kalah semangat dengan mereka. Merekalah guru semangat saya dalam mencari nafkah. Merekalah teladan pejuang ekonomi kecil yang patut dicontoh. Tak pernah merengek ke pemerintah tak pernah mengeluh ke pejabat. Semuanya berjuang dengan peluh dan tak kenal waktu demi mencukupi kebutuhan keluarganya tanpa harus merepotkan orang lain. Apalagi korupsi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=95&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/19/berguru-pada-tukang-bakso-pedagang-bubur-dan-mie-ayam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Jangan Sampai Anak Saya Jadi PNS’</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/17/jangan-sampai-anak-saya-jadi-pns/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/17/jangan-sampai-anak-saya-jadi-pns/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 09:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Pegawai Negeri Sipil]]></category>
		<category><![CDATA[PNS]]></category>
		<category><![CDATA[Rekrutmen PNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Bahwa di lingkungan tempat dia bekerja terdapat praktik yang tidak terpuji. Ada ketidaksesuaian antara hak dan kewajiban yang seharusnya ia dapatkan. Bisa jadi ia memperoleh ‘lebih’ dari yang seharusnya ia dapatkan. Dan kelebihan itu sudah ia sadari bahwa itu semestinya bukan haknya. Namun karena lingkungan kerja yang ‘memaksa’ dia untuk ikut menerima apa yang tidak seharusnya menjadi haknya, membuat dia tidak bisa menolaknya.  <p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/17/jangan-sampai-anak-saya-jadi-pns/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=91&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>‘Jangan Sampai Anak Saya Jadi PNS’</strong></p>
<p>Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah cita-cita sebagian orang. Kata mereka, dengan menjadi PNS, masa depannya akan cerah. Kerja tidak berat, gajipun sudah pasti. Kalau sudah tua, akan mendapat pensiun pula. Alasan itulah yang kemudian mendorong masyarakat untuk berebut menjadi PNS. Tak peduli bagaimanapun caranya. Hingga melalui cara-cara yang ‘tak etis’ sekalipun tak jarang dilakukan. Yang penting jadi PNS. Tidak heran jika seringkali kita dengar ada jual beli kursi PNS. Di suatu daerah, ada yang mematok harga sampai di atas Rp 100 juta. Sehingga membuat orang lain yang ingin berkompetsisi melalui jalan ‘normal’ pun kalah dengan yang punya duit. Sepandai apapun dalam menjawab soal ujian CPNS, kalau ‘kapling kursi’ sudah diambil pejabat dan disediakan untuk penyuap, mereka tak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Cara lain yang tak kalah kotor adalah nepotisme. Sewaktu reformasi, nepotisme diperangi betul oleh mahasiswa dengan semboyannya ‘perangi KKN’. Tapi kini, nepotisme tak lagi terdengar nasibnya. Sehingga praktik  rekrutmen PNS masih aman berjalan di birokrasi pemerintahan. Sepinter apapun calon PNS kalau bersaing dengan orang-orang yang sudah ‘diselamatkan’ oleh ‘pembawanya’, tak akan mampu mengalahkannya. Bukan hanya itu, antara kuota PNS dan peminatnya seringkali tidak imbang. Satu kursi direbutkan ratusan peminat.</p>
<p>Belum lagi nasib guru bantu dan pegawai honorer yang ingin diangkat menjadi PNS. Berapa puluh ribu orang jumlahnya. Semuanya ingin menjadi PNS. Semuanya ingin masa depannya aman dengan menjadi PNS. Padahal anggaran pemerintah untuk kebutuhan gaji PNS setiap tahunnya terus meningkat. Tahun 2011 komposisi anggaran gaji PNS lebih dari 13% APBN. Faktor inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk sementara waktu menghentikan (moratorium) rekrutmen  PNS. Namun kondisi ini tak menyurutkan niat sebagian masyarakat untuk terus menggapai cita-citanya sebagai PNS.</p>
<p>Tapi, tidak demikian dengan Ibu yang satu ini.  Meskipun dia sendiri seorang PNS, tapi dia tidak mau anak-anaknya nanti menjadi PNS. Dia betul-betul berikrar agar jangan sampai anak-anaknya mengikuti jejaknya dalam memilih tempat bekerja. Karena dengan menjadi PNS dia merasa ada sesuatu yang sampai sekarang tidak ‘sesuai’ dengan hati nuraninya.</p>
<p>Ketika saya kejar pertanyaan, apa sesuatu itu. Alasan apa hingga dia begitu ketat tidak mengizinkan anaknya menjadi PNS. Pegawai di lingkungan Pemda Jakarta Selatan golongan III A ini, tidak mau menjawab dengan tegas. Ia hanya menggambarkan kondisinya dengan ekspresi wajahnya. “Pokoknya jangan sampai <em>deh</em>, anak-anak saya jadi PNS. Saya yang sudah telanjur begini agak <em>nyesel</em>,” ujar dia dengan ekpresi penyesalan.</p>
<p>Dalam pikiran saya, jarang sekali ada orang seperti Ibu dengan tiga orang anak ini. Biasanya, seorang ibu menginginkan anak-anaknya nasibnya lebih baik dibanding dirinya. Minimal PNS adalah satu anak tangga untuk memperbaiki kehidupan anak-anaknya nanti. Tapi ini justru sebaliknya.</p>
<p>Dia tetap tidak mau menceritakan bagaimana lingkungan kerja di kantornya. Ia hanya menjawab singkat ; “Mau <em>kayak</em> bagaimana, kalau kita sudah ada di dalamnya, kita tidak mungkin bisa menghindar,” jawab dia dengan kata-kata yang syarat dengan makna.</p>
<p>Jawaban yang diplomatis. Tapi setidaknya tersirat makna yang mudah ditebak. Bahwa di lingkungan tempat dia bekerja terdapat praktik yang tidak terpuji. Ada ketidaksesuaian antara hak dan kewajiban yang seharusnya ia dapatkan. Bisa jadi ia memperoleh ‘lebih’ dari yang seharusnya ia dapatkan. Dan kelebihan itu sudah ia sadari bahwa itu semestinya bukan haknya. Namun karena lingkungan kerja yang ‘memaksa’ dia untuk ikut menerima apa yang tidak seharusnya menjadi haknya, membuat dia tidak bisa menolaknya.</p>
<p>Situasi inilah yang membuat Ibu ini tidak mau anaknya mengalami nasib seperti dirinya, yaitu terjebak dalam ‘lingkaran kebatilan yang terstruktur’. Dia menyadari bahwa apa yang ia jalani bertolak belakang dengan hati nuraninya. Namun dia tidak kuasa menghindar dari kenyataan. Sehingga mau tidak mau terpaksa terbawa oleh pusaran arus kebatilan.</p>
<p>Kita yakin di antara lingkungan kerja yang demikian itu masih ada lingkungan kerja PNS yang bersih. Tapi setidaknya contoh yang dialami oleh Ibu di atas menggambarkan kenyataan yang ada di birokrasi pemerintahan kita. Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Selama hati nurani masih ada, selama iman masih menempel kuat di dada maka insya Allah akan selamat dari jeratan lingkaran kebatilan di lingkungan kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=91&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/17/jangan-sampai-anak-saya-jadi-pns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada Korban (Macet) Jakarta</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/13/balada-korban-macet-jakarta/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/13/balada-korban-macet-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jan 2012 10:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Macet]]></category>
		<category><![CDATA[TMC Polda Metro Jaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Oh, Jakarta. Siapa suruh masih tetap berada di sana. Jika memang tidak sanggup menjalani kenyataan yang ada. Itulah faktanya. Hampir setiap waktu kita mendengar keluhan yang sama. Hingga semua media massa memberitakannya. Apa siih. Apalagi kalau bukan MACET.<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/13/balada-korban-macet-jakarta/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=85&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Balada Korban (Macet) Jakarta</strong></p>
<p>Oh, Jakarta. Siapa suruh masih tetap berada di sana. Jika memang tidak sanggup menjalani kenyataan yang ada. Itulah faktanya. Hampir setiap waktu kita mendengar keluhan yang sama. Hingga semua media massa memberitakannya. Apa <em>siih</em>. Apalagi kalau bukan MACET.</p>
<p>Dulu, jarang sekali media massa mau menginformasikan kondisi lalu lintas dan jalan raya di Jakarta. Tapi kini, hampir semua media, terutama media <em>on line</em> punya <em>slot</em> khusus untuk memberitakan perkembangan dan situasi lalu lintas dan jalan raya. Bahkan pemerintah ‘terpaksa’ menganggarkan dana untuk membuat sentral pemberitaan jalan raya bernama TMC (Traffic Management Center) dengan segala fasilitas mewahnya. Karena kita tahu bahwa dampak dari kemacetan jalan raya  bukan hanya membuang waktu tapi juga membuang banyak uang. Menghilangkan banyak kesempatan. Mengacaukan semua rencana. Bahkan bisa menggagalkan peluang emas yang sudah datang di depan mata. Tak heran jika banyak orang mengeluh, menyesal bahkan mengumpat kondisi macet di Jakarta.</p>
<p>Banyak faktor penyebab macet di Jakarta. Tapi penyebab yang paling mudah di tebak adalah karena faktor hujan. Begitu hujan turun, semua calon pengguna jalan dengan serempak akan menebak. Pasti macet.</p>
<p>Benar. Begitulah yang terjadi pada hari Kamis 5 Januari 2012. Sudah dua hari berturut-turut hujan mengguyur Jakarta. Tapi tidak tentu waktunya. Kadang turun siang hari, sore, pagi, juga malam kadang malam hari. Kebetulan hari itu saya mendapat tugas ke luar kota. Yaitu ke Kota Altas Semarang. Namun karena situasi jalanan di Jakarta yang hari itu super duper macet, membuat saya harus kalang kabut menghadapinya.</p>
<p>Jadwal <em>Take off</em> jam 17.45. Sebuah jadwal penerbangan yang cukup longgar untuk menyiasatinya. Apalagi di hari kerja. Sungguh mudah untuk mengatur keberangkatan dari kantor ke bandara Soetta. Hujan yang masih turun <em>sar</em> <em>sor</em>, membuat saya harus antisipasi waktu dan perjalanan. Ya, minimal 1 sampai 1.5 jam perjalanan ke bandara. Itupun sudah termasuk sangat longgar. Karena jalur yang kami lewati lebih banyak jalan tol. Sehingga kemungkinan sampai lebih cepat. Kini, waktu yang saya siapkan tiga jam lebih untuk ke bandara. Sebuah antisipasi waktu yang cukup leluasa.</p>
<p>Jalanan masih basah. Karena 30 menit yang lalu hujan turun agak lebat. Pukul 14.30 sudah berada di taksi depan kantor. Tapi, baru berjalan 2 KM, <em>beuhh&#8230;, </em>jalanan<em> </em>sudah mampet di TL Jalan Baru Simatupang. Lebih dari 10 menit tak bergerak. Rencana ke Kp. Rambutan kemudian berubah arah. Disarankan sopir taksi agar ke Ps Minggu saja. Oke, saya coba mengikuti saran sopir taksi. Tapi, 500 meter menjelang parkiran Damri, jalanan makin tak bergerak. Beruntung sopirnya ‘berani galak’. Taksi terus merangsek hingga sampai parkiran Damri pukul 15.10. Sampai di situ, sudah ada 10 orang lebih yang sepertinya was-was menunggu kedatangan Damri. Mereka sudah 15 menit menunggu Damri tapi tak ada tanda-tanda kedatangannya. Jalur yang biasa dilalui Damri juga terlihat mampet. Semua yakin kalau Damri-nya datang terlambat.</p>
<p>Akhirnya, ada sopir taksi menawarkan jasa ke bandara dengan borongan. Per orang 50.000,-. Seketika itu, tiga orang langsung sepakat. Ketiganya masuk taksi. Saya mulai berubah pikiran. Ingin bergabung dengan mereka. Tapi taksi sudah mulai berjalan. Saya kejar dan saya coba tawar 40 ribu. Tapi sopir tak bergeming. Akhirnya terpaksa saya setuju dan bergabung dengan mereka.</p>
<p>Rencana lewat tol Serpong berubah ke tol Cawang. Karena semua pintu masuk tol Simatupang sudah mampet. Akhirnya berbalik arah ke Cawang. Ternyata semua sama. Baik tol maupun bukan tol, semua jalanan macet.</p>
<p>Pukul 16.00 ratusan bahkan ribuan mobil masih mengekor di tol Cawang. Empat penumpang taksi yang berbeda tujuan itu mulai itung-itung waktu. Meskipun <em>take off</em> hampir bersamaan, tapi empat orang itu semua berbeda tujuan. Ada yang ke Medan, ke Palembang, Yogyakarta dan Semarang. Semua berdoa, jika telat sampai bandara, mudah-mudahan semua maskapai yang ia tumpangi <em>delay</em>. Kebetulan 3 penumpang di antaranya, semua naik pesawat yang sama, apalagi kalau bukan si ‘Lion’ Raja Delay.</p>
<p>Waktu <em>take off</em> tinggal 45 menit lagi. Pukul 17.00 masih berkutat masuk ke tol dalam kota. Keempat penumpang taksi sibuk ‘menentukan’ nasib penerbangan masing-masing. Ada yang menghubungi temannya yang sudah di bandara, ada yang menghubungi kantor, ada juga yang berusaha menghubungi maskapai tempat membeli tiket. Tapi semua itu sebatas pelampiasan. Di tengah-tengah tol tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti irama jalan. Satu menit berjalan dua meter.</p>
<p>Rasa cemas, was-was, menghantui keempat penumpang. Waktu untuk menjalankan salat ashar pun semakin habis.‘Terpaksa dilaksanakan dengan <em>lihurmatilwaqtu</em> ; wudhu dan posisi solatnya sebisanya. Ditambah suasana dingin hujan dan dingin AC di taksi membuat penumpang tidak bisa menahan ‘hajat’. Sementara kondisi tol tidak memungkinkan untuk melakukan ‘hajat’ itu. Lalu apa yang terjadi ? “Anda bisa menebak dan membayangkan sendiri, bagaimana mereka melakukan buang hajat itu”.</p>
<p>Jam <em>take off</em> sudah kelewat. Keempat penumpang taksi terus menghibur diri dengan becanda sesama penumpang. Masih berharap semua pesawat <em>delay</em> karena <em>force major</em>. Biang macet di Jl. S. Parman mulai terkuak. Billboard roboh menimpa pohon dan menjulur ke tol. <em>Rrrttttt…zzzt..</em> akhirnya, selepas biang macet, taksi meluncur dengan kencang. Bermanufer dengan kendaraan senasib menuju tol Sediatmo dan Bandara.</p>
<p>Pukul 19.30 sampai bandara. Di sana banyak orang lari terburu-buru keluar dari mobil menuju pintu masuk dan <em>check in</em>. Tapi, begitu masuk <em>desk check in</em>, <em>wassalam..</em> ‘motor mabure wis miber’, pesawat sudah terbang tepat waktu, kata petugas <em>check in</em>.</p>
<p><em>Ugh..!</em></p>
<p>Badanku jadi limbung. Senyum kecut menghiasi rona wajahku. Mataku langsung tertuju pada loket maskapai ini. Di sana sudah bejubel antrian orang di depan loket. Mereka pun senasib dengan saya. Alias ketinggalan pesawat. Lebih dari 50 orang antri berjajar. Semua <em>complain</em>. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Karena tiketnya sudah tidak berlaku lagi, alias hangus.</p>
<p>Satu demi satu mencoba minta keringan. Tapi petugas tiket tak bergeming. Masa bodoh. SOP-nya sudah begitu, kata mereka. Kalau mau terbang, ya beli tiket baru lagi. Ada yang maklum tapi lebih banyak yang sungut. Sampai marah-marah. Karena sudah kehilangan tiket, dan harus beli tiket lagi seharga dua kali lipat dibanding harga sebelumnya. Kalau satu tiket tidak masalah. Lha kalau kebetulan membawa empat atau lima orang, berapa uang ia harus keluarkan.</p>
<p>Saya sendiri ‘terpaksa’ membeli tiket penerbangan besok pagi dengan harga mahal. Lebih dari dua kali lipat dibanding harga tiket sebelumnya. Apa boleh buat. Demi tugas dan tanggungjawab. Harga tinggi tidak masalah. Tapi urusan tidak lantas selesai setelah mengantongi tiket. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30. Sementara besok saya harus <em>take off</em> pukul 5.40. Artinya, saya paling telat jam 03.00 harus sudah berangkat dari rumah ke bandara. <em>Huff…</em> !! Kini harus putar otak untuk membuat keputusan. Apakah pulang atau menginap di bandara. Keduanya punya konsekwensi. Kalau saat itu pulang berarti siap menghadapi macet yang sama seperti perjalanan sebelumnya. Berapa jam perjalanan yang harus ditempuh sampai di rumah. Mungkin jam tengah malam baru sampai.</p>
<p>Terpaksa telepon istri untuk meminta pertimbangan. Tapi diapun tidak bisa membayangkan kondisinya. Apalagi sebelumnya dia sama sekali belum pernah ke bandara. Yang pasti, saya hanya butuh dorongan moril, sebelum memutuskan pilihan. Namun hal itu tak berarti apa-apa karena semua keputusan ada di tangan saya. Nasib tergantung di tangan saya.</p>
<p><em>Kerucukk..kerucuk..</em> kondisi perut sudah menagih haknya untuk makan malam. Baiklah. Saya penuhi kewajiban ini terlebih dahulu. Sebelum memutuskan pilihan. Siapa tahu setelah makan selesai, pikiran bisa membantu menentukan pilihan terbaiknya.</p>
<p>Selesai makan, mencoba mencari tempat untuk sekedar duduk. Tapi nyaris tak kebagian tempat. Semua kursi tunggu terisi penuh. Entah mereka senasib dengan saya atau sedang menunggu kendaraan lain, saya tidak tahu. Sebagian saya melihat wajah-wajah mereka yang ketemu di depan loket saat mengurus dan membeli tiket baru.</p>
<p><strong><em>Nginep</em></strong><strong> di Bandara</strong></p>
<p>Terpaksa menyusuri tempat parkir. Siapa tahu di sana ada tempat sekedar untuk duduk. Namun karena kondisi gerimis, akhirnya tidak jadi duduk di tempat parkir dan kembali menuju sela-sela kursi yang masih kosong. Dapatlah sepenggal tempat di antara deretan kursi yang sudah diduduki orang. Begitu dapat tempat duduk akhirnya berhenti sejenak. Menikmati pandangan bandara yang masih ribuan orang lalu lalang di sana. Sebotol minuman ringan saya keluarkan dari tas. Seteguk dua teguk air membasahi tenggorokan. <em>Alhamdulillah</em>. Menambah terang pikiran saya. Akhirnya, saya putuskan malam itu untuk menginap di bandara. Mencoba sensasi baru menjadi ‘gelandangan semalam di bandara’</p>
<p>Tapi bingung mau di mana tempat untuk sekedar sandaran atau rebahan malam itu. <em>Hmm..</em> saya tidak kehilangan akal. Di antara sekian banyak petugas di bandara, saya yakin di antara mereka pasti ada yang bisa ‘membantu’ saya. Lalu pandangan saya terarah kepada beberapa petugas di sana. Satu demi satu saya perhatikan perangainya. Memilih mereka yang menurut saya ‘layak’ dan mau menjawab apa yang saya inginkan.</p>
<p><strong>Masih ada Orang Baik</strong></p>
<p>Bertemulah dengan seorang pria berpakaian dinas <em>security</em> bandara. Tatapan matanya sejuk dan bersahabat. Saya dekati dia dan saya sapa dia dengan nada rendah. “Maaf, permisi, pak. Boleh nanya, pak?” “O, silakan,” jawab pria yang semua rambutnya sudah hampir memutih itu. “Begini, pak. Saya tadi ketinggalan pesawat. Terus, saya besok pagi-pagi jam 5.30 harus terbang lagi. Kalau saya pulang, mungkin sampai rumah bisa tengah malem, pak. Karena jalanan macet banget. Dan pagi-paginya lagi saya harus berangkat ke bandara. Nah, malam ini saya mau <em>nginep</em> di sini saja, pak. Kira-kira menurut saran bapak, saya sebaiknya <em>nginep</em> dimana, pak,” tanya saya polos.</p>
<p>“Oh, begini. Bapak ke pintu kedatangan, saja. Di sana ada kursi banyak. Bapak nunggu di kursi sana. Kalau nanti bapak <em>pengen</em> makan atau apa, bapak bisa ke <em>Red Corner</em>. Itu di sana. Kelihatan dari sini,” kata dia sambil menunjuk tempat yang dia maksudkan. Meskipun saya mengerti apa yang dia katakan, tapi untuk memperjelas apa yang dia sampaikan, sengaja saya pura-pura tanya lagi. “Yang sebelah mana, ya pak,” tanya saya sekedar menguatkan. “Itu, di depannya Bank Bukopin,” tunjuk dia sangat antusias. “Baik, pak. Terima kasih banyak atas bantuannya,” jawab saya sumringah sambil pamitan jabat tangan dari hadapannya.</p>
<p>Lega rasanya hatiku. Di tengah krisis kepercayaan dan rasa psimis di lingkungan bandara, ternyata di antara mereka masih ada orang-orang yang baik hati. Masih ada orang yang mau menunjukkan dan mengarahkan seseorang yang dalam keadaan terpaksa seperti saya saat itu. Alangkah indahnya jika sebagian besar petugas bandara berhati baik seperti bapak tadi. Mereka mau melayani dan membantu siapa saja yang membutuhkan. Bukan malah sebaliknya, yaitu memanfaatkan mereka dan masa bodoh dengan apa yang terjadi di sana. Bandara yang terasa dengan aroma gengsi dan pamer strata sosial menjadi sangat angkuh ketika satu dengan yang lainnya tampak nafsi-nafsi. Tak ada toleransi dan sikap empati. Tak ada suasana saling menyapa dan membantu antar sesama.</p>
<p>Ku susuri jalan menuju pintu kedatangan. Sesampai di kursi yang ditunjukkan si bapak tadi, di sana sudah ada puluhan orang sedang duduk. Tapi di antara mereka masih terdapat bangku kosong. Saya pun ikut berbaur dengan mereka. Sementara jam menujukkan pukul 22.30. Saya sandarkan bahu sambil melepas tas dan sepatu. Di sebelah saya sudah ada dua orang yang terlelap tidur. Lama-lama saya terpengaruh. Rasa kantukku mulai menyerang. Riuh rendah suasana kedatangan penumpang masih terus mewarnai malam yang semakin dingin dengan AC sentral. Orang yang duduk di samping saya juga datang silih berganti. Berganti-ganti orang.</p>
<p>Mata semakin tak kuasa menahan. Tapi kewajiban salat belum tertunaikan. Akhirnya 3 waktu solat (qadha ashar dan jamak-qashar Magrib Isya’) dilaksanakan dalam satu waktu. Usai solat kembali ke kursi duduk. Mulai bingung cara merebahkan badan. Sebab, takut akan keamanan barang-barang bawaan saya. Tas saya berisi laptop dan data-data penting. Sepatu juga masih lumayan ada nilainya. Belum lagi 2 buah HP dan dompet bergelayut di celana. Tapi karena tak kuat lagi menahan kantuk, akhirnya semua keselamatan saya dan barang-barang bawaan, saya pasrahkan kepada Allah.</p>
<p><em>Bismillah</em> saya rebahan niat tidur. Tas gendong saya jadikan sebagai bantal. <em>Srrrtttt..!!</em> tiba-tiba terjaga pukul 00.30. Masih sadar kalau saya berada di bandara. Karena meskipun tidur, tapi di tengah-tengah itu terkadang mata masih melek. Kanan kiri saya masih ramai orang duduk. Tapi semua sudah ganti orang. Kecuali dua orang yang ketika saya sampai di situ mereka sedang tidur. Kini keduanya sudah bangun. Melihat dan memperhatikan saya ketika saya terjaga.</p>
<p>Aku mulai menyapa dia. Terasa agak beda bahasanya ketika dia berbicara. Logatnya dari Indonesia Timur tapi sudah agak kelu lidahnya. Dia bilang dari Jeddah. Mau pulang ke Banjarmasin. Tapi ketinggalan pesawat. Harusnya take off jam 14.00 tapi pesawat dari Jeddah baru mendarat pukul 18.00. Cerita punya cerita, ternyata dia sudah 17 tahun bekerja di Arab Saudi. Pulang kampung setahun sekali. Itupun kalau dapat cuti dari tempatnya bekerja. Dalam hati saya, pantesan sudah agak lupa dengan bahasa Indonesia.</p>
<p>Seorang lagi menimpali pembicaraan kami berdua. Hingga pembicaraanpun mengalir ke sana ke mari. Terasa seperti sudah saling kenal sebelumnya. Jam menunjukkan pukul 01.00. Sementara masih banyak penumpang yang datang dan menunggu bagasinya. Beberapa di antara mereka yang duduk bersama saya ternyata sudah ada yang menanyakan kepada petugas kebersihan sebelumnya. Apakah boleh menginap di sini atau tidak. Dijawab oleh petugas,  bahwa nanti kalau seluruh penumpang sudah datang, atau pesawat terakhir mendarat, tidak boleh ada orang di tempat duduk itu. Semua orang harus keluar. Termasuk sekitar 15 orang yang saat itu duduk di kursi tunggu kedatangan bersama dengan saya.</p>
<p>Ketika malam mulai larut, pintu kedatangan mulai sunyi. Petugas bandara yang kebetulan jaga malam itu, juga sudah menenteng tasnya. Pertanda saatnya untuk pulang. Beberapa <em>security</em> lalu lalang memperhatikan ke arah tempat duduk kita. Satu dua orang seakan ingin menghampiri kita, tapi urung tidak jadi. Malam semakin hanyut, datanglah seorang petugas <em>security</em>. Masih muda. Wajahnya sangat belia. Lalu mendekati kita. Ketika semakin dekat dengan arah tempat duduk, saya maju menghampirinya. “Maaf, pak, sekarang tidak boleh lagi ada orang di kursi ini. Semua harus kosong,” kata dia kepada saya. “Baik, pak. Saya mengerti itu. Tapi kami besok pagi harus berangkat lagi pagi-pagi sekali. Kami dan teman-teman di sini semuanya ketinggalan pesawat. Karena macet. Jadi kami mohon bisa di tempat ini, pak. Apalagi semuanya harus berangkat besok pagi-pagi sekali,” pinta saya kepada si petugas tadi.</p>
<p>“Tidak boleh, pak. SOP-nya begitu. Nanti kami ditegur sama atasan kami,” jawab dia seraya menyampaikan bahwa seperti itulah aturan bandara. “Iya, pak. Saya mengerti itu. Kalau boleh saya ketemu pimpinannya, saya mau ketemu pimpinannya saja. Biar kami menjelaskan kenapa kami di sini saat ini. Kasian pak, anak-anak kecil yang sudah pada tidur itu. Toh, hanya malam ini saja. Apalagi kursinya juga kosong,” pinta saya sambil menunjukkan beberapa anak kecil yang sudah tidur di bangku bersama beberapa saudara lainnya.</p>
<p>Tanpa jawaban lagi, petugas tadi langsung pergi begitu saja. Sementara kami yang sudah sepakat sebelumnya, bahwa kita akan minta izin agar diizinkan menginap di sini saling melempar senyum. Saya yang kebagian menghadapi petugas juga agak harap-harap cemas. “Yang penting kita sudah ngomomg minta izin baik-baik. Kalaupun mereka tetap ngotot ngusir kita, saya akan coba untuk nego,” ujar saya kepada mereka. “Mosok cuma tidur saja tidak boleh. Memangnya kita bukan orang Indonesia, apa,” kilah saya sambil bercanda dengan teman-teman lainnya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, datang lagi petugas tadi. Dia langsung menghampiri saya. Padahal saya duduk agak di posisi tengah. Saya pun sengaja tidak mau menjemput kedatangan dia. “Iya, pak. Boleh di sini. Tapi pesan pimpinan saya jangan keluar masuk,” kata dia menyampaikan pesan pimpinannya. “Alhamdulillah. Baik, pak. Terima kasih. Kira-kira perlu jaminan KTP atau gimana,” tanya saya menggoda sambil tersenyum gembira. “Tidak usah, pak,” jawab dia sambil berlalu dari hadapan kita.</p>
<p>Akhirnya, pukul 02.15 menit baru ada kepastian. Saya pun mulai melanjutkan tidur dengan tenang dan merasa aman. Makin malam makin dingin. AC sentral membuat tubuh saya menggigil. Apalagi malam itu saya pakai baju lengan pendek tanpa jaket. Beberapa kali minyak angin saya oleskan bagian-bagian tubuh yang terasa dingin.</p>
<p><em>Bismillah</em>..zzzZzzzZ… Tidur tahap kedua dimulai. Jam 03.00 bangun karena kedinginan. Akhirnya terpaksa pindah ke mushalla yang ada di samping tempat duduk. Beberapa sarung yang biasa dipakai shalat, terpaksa saya pinjam. Karena badan saya sudah tidak kuat lagi menahan dingin AC. Tiga puluh menit kemudian terbangun lagi. Memanfaatkan waktu untuk ‘munajat’ kepada-Nya sambil menunggu waktu subuh tiba.</p>
<p>Usai shalat Subuh langsung check in. <em>Hwarakadah…!!!</em> Ternyata sudah penuh sesak manusia. Antri depan <em>desk check in</em> sudah ratusan orang. Padahal waktu baru menunjukkan pukul 04.30. “Kapan mereka sampai bandara, ya. Atau mereka senasib dengan saya,” gumam saya dalam hati.</p>
<p><em>Wuzzz..</em> begitu masuk kabin pesawat, saya melirik beberapa koran yang ada di kursi penumpang. 3 koran yang ada semua HL-nya macet. <em>Astagfirullah.. </em> Ternyata…oh.. ternyata..!</p>
<p>Begitulah balada korban macet di Jakarta. Benci Jakarta?! Saat itu pasti! Tapi tetap merindukannya di lain waktu. Banyak pelajaran dapat di petik dari situasi MACET di Jakarta.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=85&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2012/01/13/balada-korban-macet-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalau Sudah Hilang Kenapa Harus Dicari?</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/19/kalau-sudah-hilang-kenapa-harus-dicari/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/19/kalau-sudah-hilang-kenapa-harus-dicari/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 07:36:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Hilang]]></category>
		<category><![CDATA[Orang yang dicintai]]></category>
		<category><![CDATA[Uang]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Uang hilang, itu mah biasa kali
Siapa sih yang tak pernah mengalami
Sedih. Mungkin saat terjadi
Bagi yang bisa introspeksi biarlah itu terjadi
Apalagi ia merasa ada hukum kausalitas yang mengikuti
Akhirnya menyadari dan memaklumi
Yang penting itu tak terulang lagi<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/19/kalau-sudah-hilang-kenapa-harus-dicari/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=81&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kalau Sudah Hilang Kenapa Harus Dicari?</strong></p>
<p><em>Oleh</em> Noor Aflah</p>
<p>Tak selamanya yang hilang itu harus dicari.<br />
Apalagi yang hilang adalah yang tak begitu perlu untuk dimiliki<br />
Bahkan bisa mengotori dirinya sendiri<br />
Malah terkadang membahayakan ke depannya nanti<br />
Kenapa harus dicari</p>
<p>Biarlah ia dimiliki<br />
Siapa saja yang menemukan dan mendapati.<br />
Bagi penemunya bisa jadi malah ini rizki<br />
Karena baru kali ini ia menemukan yang seperti ini<br />
Rasanya nikmaat sekali</p>
<p>Dunia ini tidak ada pemilik sejati<br />
Selain Ilahi Rabbi<br />
Kalau kita kehilangan, hakikatnya kita hanya dititipi<br />
Suatu saat akan kembali<br />
Kepada pemilik yang hakiki</p>
<p>Uang hilang, itu mah biasa kali<br />
Siapa sih yang tak pernah mengalami<br />
Sedih. Mungkin saat terjadi<br />
Bagi yang bisa introspeksi biarlah itu terjadi<br />
Apalagi ia merasa ada hukum kausalitas yang mengikuti<br />
Akhirnya menyadari dan memaklumi<br />
Yang penting itu tak terulang lagi</p>
<p>Kehilangan orang yang kita cintai<br />
Memang itu menjadi beban berat dalam penggalan fragmen hidup ini<br />
Nangis. Itu pasti.<br />
Takut. Terus membayangi<br />
Khawatir. Selalu mengintai diri<br />
Tapi apakah selamanya kita ratapi.<br />
Itu bukan karakter pribadi islami<br />
Datang pergi, hidup mati, silih berganti itulah sunnatullah kehidupan ini<br />
Karena ternyata orang yang kita cintai lebih dicintai pemilik sejati<br />
Pemiliknya ingin mengambilnya untuk segera disuguhi kenikmatan surgawi<br />
Doakanlah agar jejak baiknya kita bisa mengikuti</p>
<p>Dulu, kita lahir sendiri<br />
Ketika yang kita cintai pergi<br />
Dan tinggal sendiri, itu sebetulnya sudah teruji sejak bayi,<br />
Kenapa sekarang malah ditakuti</p>
<p>Kehilangan waktu, itu hanya isitilah yang sering dipakai<br />
Selama ruh menempel di jasad ini, besok kita akan dapati waktu lagi<br />
Tinggal bagaimana kita bisa mengisi<br />
Cepat-cepat diisi dan terus diisi sebanyak mungkin punya arti<br />
Mengganti hari kemarin yang tak dapat dimaknai sama sekali</p>
<p>Lalu, kehilangan apalagi<br />
Banyak sekali kalau mau kita cari<br />
Relakan saja yang hilang itu pergi<br />
Siapa tahu sebabnyalah turun ridha Ilahi</p>
<p>Tidak baik terus mencari<br />
Kehilangan apapun yang kita miliki<br />
Lebih-lebih yang memang kita kehendaki hilang di pagi hari<br />
Itulah yang sangat baik dilakoni<br />
Biar terasa plong perut ini..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=81&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/19/kalau-sudah-hilang-kenapa-harus-dicari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bekerja dan Mati Syahid</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/15/bekerja-dan-mati-syahid/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/15/bekerja-dan-mati-syahid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 03:28:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Mati Syahid]]></category>
		<category><![CDATA[Niat Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Jika niat itu sudah mendasari semua aktifitas kita, maka tak satupun gerak aktifitas kita kecuali karena ibadah kepada Allah. Sesuai dengan tujuan penciptaan kita sebagai makhluk Allah. “Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada Allah”.<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/15/bekerja-dan-mati-syahid/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=52&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bekerja dan Mati Syahid</strong><br />
<em>Oleh</em> Noor Aflah</p>
<p>Merinding rasanya bulu kudukku ketika mendengar sambutan seorang pejabat saat melepas jenazah rekan kerjanya yang meninggal. Dengan terbata-bata beliau menyampaikan pidatonya. Sesekali terhenti karena menahan air mata yang nyaris tumpah.</p>
<p>“Keluarga sangat bersedih atas meninggalnya Bapak RAF. Kita semua juga sama. Karena kehilangan.., keluarga dan rekan kerja yang baik. Namun di satu sisi kita semua mungkin bangga. iri. Beliau meninggal saat menjalankan tugas negara. Di tengah perjalanan menghadiri acara. (…suara terhenti menahan tangis). Sahabat kami ini orang baik..” lanjutnya dengan suara semakin lirih..</p>
<p>Orang yang meninggal di saat bekerja menurut sambutan itu adalah orang yang mati syahid. Kita semua sudah tahu bahwa orang yang meninggal dengan predikat syahid tiada balasan kecuali surga-Nya. Predikat syahid ia sematkan karena beliau telah berprasangka baik (khusnudzdzan) kepada si mayit bahwa dia orang yang baik.</p>
<p>Ia yakin almarhum RAF ketika menjalankan tugas / bekerja tidak ada niat lain kecuali niat ibadah kepada Allah. Tentunya orang yang meninggal pada saat beribadah adalah meninggal dalam keadaan syahid. Hanya saja bedanya, orang yang mati syahid saat berperang melawan orang kafir perlakuannya lebih spesial. Jenazahnya tidak dimandikan. Kain yang menempel di badan dan berlumuran darah tidak dilepaskan. Mereka langsung dikubur dalam keadaan selesai perang.</p>
<p>Ini bukan kali pertama pejabat tadi menghadiri pelepasan janazah rekan kerjanya yang meninggal. Terutama meninggalnya saat bekerja. Satu demi satu rekan kerjanya meninggal dunia pada saat menjalankan tugas. Mereka samua di mata pejabat tadi dan di mata rekan-rekan kerjanya adalah orang yang baik. Semua itu terlihat dari gaya hidup dan keseharian yang bersangkutan. Banyak teman. Semua orang suka, dan tidak ada seorangpun yang merasa tidak nyaman ketika berada di sampingnya.</p>
<p>Predikat mati sahid dalam Islam memang memiliki banyak makna. Bukan semata makna yang paling melekat yang selama ini kita ketahui, yaitu orang yang meninggal saat berperang mempertahankan agama Islam dari serangan orang-orang kafir, tapi masih ada predikat mati syahid lain yang patut diberikan kepada orang meninggal selain saat berperang. Di antara mereka adalah, seorang ibu yang meninggal saat berjuang melahirkan anaknya, orang yang meninggal di saat mempertahankan hak-hak dan harta benda yang dimilikinya, meninggal saat solat atau sedang beribadah, meninggal saat menjalankan amal soleh dan sebagainya.</p>
<p>Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa apapun yang kita kerjakan di muka bumi ini sebaiknya kita niatkan karena ibadah kepada Allah. Bukan semata ingin mencari kepentingan duniawi saja, tapi dasar utama dari yang kita lakukan itu adalah mencari ridha Allah. Jika niat itu sudah mendasari semua aktifitas kita, maka tak satupun gerak aktifitas kita kecuali karena ibadah kepada Allah. Sesuai dengan tujuan penciptaan kita sebagai makhluk Allah. “<em>Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada Allah</em>”. Sehingga kapanpun Allah Sang Pemilik dunia dan seisinya (termasuk kita, manusia) menghendaki untuk mengambil apa yang dimilikinya, di saat itu pula, kita berada dalam keadaan beribadah kepada Allah. Predikat syahid, khusnul khatimah dan masuk surga, akan menjadi tujuan akhir dari hidup di dunia ini. <em>Insya Allah</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=52&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/15/bekerja-dan-mati-syahid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dimanapun, Jangan Belenggu Tanganmu untuk Bersedekah</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/13/dimanapun-jangan-belenggu-tanganmu-untuk-bersedekah/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/13/dimanapun-jangan-belenggu-tanganmu-untuk-bersedekah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 04:04:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Peminta-minta]]></category>
		<category><![CDATA[Pengemis di Jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Sedekah di Jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Larangan mengemis atau meminta-minta sebagaimana yang ditegaskan di KUHP pasal 504 pasal 01 dan 02 tak ubahnya sebuah larangan yang mandul. Pemerintah sendiri gagal mencarikan jalan keluar untuk mengangkat harkat kehidupan mereka. Tugas negara untuk memelihara fakir miskin dan orang telantar sebagaimana yang diamanahkan UUD 1945 sampai sekarang masih belum terlihat perannya.<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/13/dimanapun-jangan-belenggu-tanganmu-untuk-bersedekah/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=70&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dimanapun, Jangan Belenggu Tanganmu untuk Bersedekah </strong></p>
<p><em>Oleh </em>Noor Aflah</p>
<p>Angka kemiskinan di Indonesia masih tergolong tinggi. Terbukti tahun 2011 jumlah masyarakat miskin di Indonesia masih mencapai 30 juta jiwa. Kondisi seperti inilah yang kemudian memaksa orang miskin untuk mencari sesuap nasi dengan berbagai macam cara. Termasuk dengan meminta-minta di perempatan jalan.</p>
<p>Jika sepuluh tahun lalu peminta-minta di perempatan jalan atau di lampu pengatur arus lalu lintas (traffic light) hanya kita temui di kota-kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, namun pemandangan serupa kini telah menghiasai hampir seluruh penjuru kota-kota kecil di berbagai daerah. Kondisi ekonomi bangsa yang masih terpuruk hingga kini merupakan penyebab utama orang-orang miskin ini untuk mengais rizki di perempatan jalan.</p>
<p>Dengan wajah <em>welas asih</em>, berpakaian lusuh, mereka berharap uluran tangan pemakai jalan. Dari anak kecil yang melantunkan lagu-lagu yang mungkin dia sendiri tidak tahu artinya, seorang ibu-ibu sambil menggendong bayi hingga seorang yang –maaf– tidak sempurna fisiknya semuanya berlomba mencari simpati dan belas kasihan dari para pengguna jalan. Begitu banyak cara mereka lakukan untuk mengetuk pintu hati agar mereka mendapatkan sedikit uang.</p>
<p>Memang, bagi sebagian orang keadaan seperti itu menggangu pemakai jalan. Namun itu semua tak pernah dihiraukan oleh para peminta-minta. Mungkin dalam pikirannya mengatakan apa yang dia lakukan halal hukumnya. Bisa jadi istilah daripada mencuri atau mencopet lebih baik meminta-minta menjadi pedoman bagi mereka.</p>
<p>Bagaimana sikap kita sebagai pengguna jalan melihat fenomena di depan mata seperti itu ? Mengulurkan tangan dan memberi bantuan bagi para peminta-minta adalah satu perbuatan yang didorong oleh nurani. Tidak ada hukum, pasal, ayat perdata dan pidana manapun yang menjerat kita, seandainya kita tidak menolong orang miskin, kesusahan dan kekurangan.</p>
<p>Tapi, Islam mengajarkan kita untuk memperbanyak sedekah. Kepada siapapun dan dimanapun. Tak terkecuali di perempatan-perempatan jalan. Tujuannya agar rezeki yang diberikan Allah menjadi barakah dan dimudahkan semua kesulitannya. Rasulullah SAW bersabda, &#8221;Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. &#8221;Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, &#8221;Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, &#8216;Ya Tuhanku, karuniakanlah pengganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah&#8217;. Yang satu lagi menyeru, &#8216;Musnahkanlah orang yang menahan hartanya&#8217;.&#8221;</p>
<p>Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebab, menginfakkan harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.</p>
<p><strong>Fenomena Peminta-minta di Jalanan</strong></p>
<p>Kalau mau jujur, tak satupun orang di dunia ini punya cita-cita menjadi peminta-minta. Ingat waktu masih kecil, betapa besarnya harapan anak-anak agar kelak menjadi orang berguna. Ada yang ingin menjadi presiden, dokter, profesor dan lain sebagainya. Hampir semua anak bercita-cita luhur seperti itu. Tak terkecuali mereka anak-anak kecil yang sekarang ini (terpaksa) menjadi peminta-minta di jalanan. Bagi mereka yang telanjur <em>nyemplung</em> jadi peminta-minta di jalanan pasti tak akan mau bilang kalau cita-citanya menjadi peminta-minta.</p>
<p>Dengan demikian menjadi peminta-minta adalah suatu keadaan terpaksa. Orang yang terpaksa berarti hidupnya dihimpit penderitaaan. Islam mendorong umatnya agar membantu mereka yang menderita. Oleh karena itu harus kita tolong dan kita bantu. Karena faktanya, hampir sebagian besar peminta-minta di jalanan adalah orang-orang yang sedang menghadapi penderitaan hidup.</p>
<p>Memberi sedekah adalah sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT kepada kita. Memberi sedekah kepada siapapun adalah wujud rasa cinta kepada sesama. Bisa jadi kita memilah-milah kondisi peminta-minta. Kalau orangnya masih sehat dan secara fisik bisa bekerja, mungkin hati kita berontak sambil berkata ’bukankah dia bisa mencari pekerjaan yang layak?’. Namun bukankah ajaran sedekah yang dianjurkan Nabi tidak memandang siapa dan kondisinya seperti apa orang yang kita beri sedekah ?</p>
<p>Kalau sudah niat memberi, jangan ragu untuk memberi. Relakan harta yang kita berikan untuk mereka nikmati. Hilangkan syak wasangka buruk terhadap sikap dan prilaku yang ditunjukkan para pengais rizki di jalanan atau dimanapun peminta-minta itu berada. Jauhkan pikiran kita dari prasangka buruk akan penggunaan uang yang kita berikan. Sebaiknya, berdoalah agar harta yang kita berikan menjadi amal jariyah kita.</p>
<p>Mengatasi maraknya peminta-minta di jalanan bagaikan mengurai benang kusut yang tak kunjung selesai. Selama republik ini menggalakkan program pengentasan rakyat miskin, namun selama itu pula fenomena peminta-minta di jalanan tetap saja menjamur.</p>
<p>Larangan mengemis atau meminta-minta sebagaimana yang ditegaskan di KUHP pasal 504 pasal 01 dan 02 tak ubahnya sebuah larangan yang mandul. Pemerintah sendiri gagal mencarikan jalan keluar untuk mengangkat harkat kehidupan mereka. Tugas negara untuk memelihara fakir miskin dan orang telantar sebagaimana yang diamanahkan UUD 1945 sampai sekarang masih belum terlihat perannya.</p>
<p>Justru peran lembaga zakat yang kini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang sedang kesusahan. Lembaga zakat berupaya sedemikian rupa membantu kesulitan masyarakat miskin dengan berbagai programnya. Tak terkecuali program pemberdayaan bagi para orang miskin di jalanan. Hanya saja diakui tidak mudah mengajak peminta-minta itu merubah nasibnya. Karena perbuatan minta-minta sudah menjadi ’mata pencaharian’ mereka sehari-hari. Kendati demikian, sekeras apapun hati seseorang pasti ada di antara mereka yang ingin meninggalkan dunia peminta-minta.</p>
<p>Akhirnya, jangan belenggu tanganmu untuk tetap mengeluarkan sedekah di manapun berada dan kepada siapapun. Sementara bagi lembaga zakat tetap terus berkreasi menciptakan program inovatif dan strategis bagi pemberdayaan masyarakat miskin yang membutuhkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=70&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/13/dimanapun-jangan-belenggu-tanganmu-untuk-bersedekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masih Ada Polisi Yang Baik</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/12/masih-ada-polisi-yang-baik/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/12/masih-ada-polisi-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 03:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Operasi Lalu Lintas]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi Lalu Lintas]]></category>
		<category><![CDATA[Tilang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Dari peristiwa itu membuat saya sadar. Bahwa menyalakan lampu motor di siang hari adalah peraturan yang harus ditaati. Peraturan dibuat berdasar atas berbagai pertimbangan. Terutama keselamatan bagi pengendara sendiri maupun bagi pengendara lainnya. Sejak saat itu, lampu depan kendaraan saya selalu menyala. Tidak peduli bikin accu sowak, yang penting niat menjalankan aturan. Apalagi jika mengingat kata-kata polisi yang baik hati seperti Pak Suparjo, rasanya seperti minum air es di tengah dahaga (kepercayaan kepada pejabat publik)<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/12/masih-ada-polisi-yang-baik/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=67&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Masih Ada Polisi Yang Baik</strong></p>
<p>Tidak semua polisi itu nakal. Di antara mereka tentu masih ada yang baik. Sama seperti pejabat pemerintah di sektor-sektor lainnya. Di tengah anggapan buruknya pejabat pemerintah dan merosotnya kepercayaan terhadap pejabat publik, pasti di antara mereka ada yang baik.</p>
<p>Inilah yang saya alami pada hari Ahad kemarin. Ketika saya berjalan di sekitar PI, Jaksel. Dari kejauhan saya sadar di depan sedang digelar operasi kendaraan bermotor. Puluhan polisi tengah memberhentikan kendaraan bermotor di depan saya. Merasa lengkap, saya pun berjalan tanpa beban. Nyaris tidak satupun pengendara motor yang dibiarkan melenggang. Saya pun ikut pelan di belakang mereka. Agar tidak dicurigai macam-macam. Satu, dua, sampai tiga polisi tidak memberhentikan saya. Giliran sampai polisi yang keempat, tiba-tiba saya digiring ke pinggir dan diberhentikan. Saya pun santai. Kaca helm saya buka. Tenang. Sebisa mungkin tidak gugup. Apalagi beberapa senjata yang saya miliki selama ini cukup membantu mengatasi situasi saat menghadapi operasi seperti ini. Seperti biasa, gelagat dan nama polisi yang ada di dadanya menjadi perhatian pertama saya. Perhatian kedua, pada ’wajah’nya. Beruntung, perangai polisi yang memberhentikan saya cukup kalem dan tidak judes. Apalagi terlihat culas. Sama sekali tidak tergambar di wajah polisi ini.</p>
<p>Akhirnya, <em>uluk</em> salam pun meluncur dari bibirku, ”<em>Assalamu’alaikum</em>, pak Parjo,” sapa saya dengan nada ramah. Biasanya, polisi menyampaikan Selamat Pagi/Siang. Tapi mungkin karena sudah duluan saya kasih salam, akhirnya kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Dia tidak jawab salam saya. Tapi mudah-mudahan hatinya tergetar. Lampu depan motor saya dipegang sambil berkata, ”Kenapa lampu depannya tidak dinyalakan?”. Pertanyaan itu membuat saya kaget. Sadar bahwa saya telah melanggar.</p>
<p>Senjata kedua, saya keluarkan. Nama yang berbau jawa di dadanya itu menjadi amunisi berikutnya, ”<em>Nyuwun pangapunten pak</em>, <em>supe</em>” (maaf pak, saya lupa). Sapaan saya kedua, tidak begitu dihiraukan. Tangannya langsung dijulurkan ke saya, pertanda meminta saya untuk menunjukkan SIM. ”<em>Monggo, pak</em>” (ini, pak), sambil saya serahkan SIM C saya yang sebentar lagi sudah habis masa berlakunya.</p>
<p>Dilihat, dibaca dan dibolak-balik SIM itu sampai dua kali. Entah kenapa sampai dua kali saya tidak tahu. Lalu, diserahkan kembali SIM itu kepada saya sambil berpesan, ”Pak dosen..pak dosen, mestinya kamu kasih contoh yang baik. Lampu harus dinyalakan. Lain kali kalau tidak dinyalakan akan saya tilang, ya”. Dalam hati saya tersenyum, entah karena faktor tulisan pekerjaan saya yang ia baca atau karena sebab lainnya saya tidak tahu. Namun yang pasti, tahap pertama pemberian peringatan kepada pelanggar lalu lintas, itu tindakan positif dan patut dipuji, menurut saya. Apalagi disampaikan dengan nada santun, pasti akan berpengaruh positif bagi pelanggar. Pesan penting berikutnya adalah adanya penegakan hukum bagi pelanggar. Pengulangan kesalahan yang sama akan dikenakan sanksi tilang.</p>
<p>Dari peristiwa itu membuat saya sadar. Bahwa menyalakan lampu motor di siang hari adalah peraturan yang harus ditaati. Peraturan dibuat berdasar atas berbagai pertimbangan. Terutama keselamatan bagi pengendara sendiri maupun bagi pengendara lainnya. Sejak saat itu, lampu depan kendaraan saya selalu menyala. Tidak peduli bikin <em>accu </em>sowak, yang penting niat menjalankan aturan. Apalagi jika mengingat kata-kata polisi yang baik hati seperti Pak Suparjo, rasanya seperti minum air es di tengah dahaga (kepercayaan kepada pejabat publik). Selamat bertugas, Pak Parjo! Tindakan Anda cerdas. Patut Anda terapkan kepada pelanggar lainnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=67&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/12/masih-ada-polisi-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Bulusan Saat Kupatan</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/08/cerita-bulusan-saat-kupatan/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/08/cerita-bulusan-saat-kupatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 04:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bulusan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sunan Muria]]></category>
		<category><![CDATA[Kudus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluar mata air atau sumber, sehingga diberilah nama tempat itu dengan nama Dukuh Sumber. Kemudian tongkatnya berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon tombo ati (obat hati).<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/08/cerita-bulusan-saat-kupatan/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=64&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Cerita Bulusan Saat Kupatan</strong></p>
<p>Membaca tulisan di <em>Kompas</em> Rabu 7/12 tentang <em>‘Kisah Bulus Sunan Muria..’<strong> </strong></em>saya tertarik untuk menulis ulang di blog saya ini. Sebab tulisan bagus yang tidak terdokumentasikan dan tidak dibaca ulang pasti akan lupa bahkan hilang begitu saja. Tentunya sayang, <em>dong</em>. Apalagi tulisan itu memuat kisah menarik yang terjadi di sekitar kota tempat kelahiran saya, Kudus. Hmm.. pasti suatu saat berguna untuk bahan cerita anak cucu saya dan siapa saja yang ingin mengetahuinya.</p>
<p>Ya, cerita tentang tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Sebuah tradisi keramaian di musim kupatan (lebaran Idul Fitri ke-8) yang sudah turun temurun dari dulu hingga sekarang.</p>
<p>Mungkin tak banyak orang yang tahu bagaimana sejarah dan asal-usul tradisi Bulusan.  Sedikit sekali bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengisahkan ulang bagaimana sejarah Bulusan. Padahal setiap musim kupatan tiba, ribuan orang berkunjung ke tempat tersebut. Termasuk saya dan keluarga beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Bagaimana asal-usul tradisi Bulusan? Cerita Bulusan mengisahkan tentang Mbah Dudo, seorang alim ulama penyebar agama Islam di Kudus. Dia mempunyai murid bernama Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam, Mbah Dudo berniat mendirikan pesantren di kaki Pegunungan Muria.</p>
<p>Pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada waktu malam Nuzulul Quran, Sunan Muria datang untuk bersilaturrahim dan membaca Al Quran bersama Mbah Dudo, sahabatnya. Dalam perjalanannya, Sunan Muria melihat Umara dan Umari sedang <em>ndaut</em> atau mengambil (dengan cara mencabuti) bibit padi di sawah pada malam hari.</p>
<p>Sunan Muria berhenti sejenak dan berkata kepada mereka berdua, “Lho, malam Nuzulul Quran kok tidak baca Al Quran, malah di sawah berendam di air seperti bulus saja!”. Akibat perkataan itu, Umara dan Umari seketika menjadi bulus (kura-kura air tawar).</p>
<p>Tak lama kemudian, Mbah Dudo datang meminta maaf atas kesalahan kedua santrinya kepada Sunan Muria. Namun nasi sudah menjadi bubur, Umara dan Umari sudah menjadi bulus dan tidak mungkin dapat kembali lagi berubah menjadi manusia.</p>
<p>Akhirnya, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluar mata air atau sumber, sehingga diberilah nama tempat itu dengan nama Dukuh Sumber. Kemudian tongkatnya berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon <em>tombo ati</em> (obat hati).</p>
<p>Sambil meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap seminggu setelah hari raya bulan Syawal. Tepatnya pada saat <em>Bodo Kupat</em>, alias Kupatan.</p>
<p>Hmm..sebuah cerita yang, mungkin saja benar atau mungkin tidak semuanya benar. Namun yang pasti sampai sekarang, setiap musim kupatan tiba, keramaian di Dukuh Sumber tak pernah berhenti.</p>
<p>Membaca tulisan di Kompas itu, saya kemudian penasaran. Berencana untuk berkunjung ke sana kali kedua. Sembari mencari tahu lebih jauh lagi cerita ini kepada orang-orang yang bisa dipercaya di sekitar Dukuh Sumber. Terutama mencari tahu di mana pohon tombo ati itu berada. Apakah masih ada atau hanya sekedar cerita. Jika masih ada, akan saya ceritakan kepada Indonesia, agar mereka bisa mendapati pohon itu sebagai obat. Obat bagi seluruh hati masyarakat Indonesia yang kini (kata orang) ‘sedang sakit’.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=64&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/08/cerita-bulusan-saat-kupatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Juga Lho, Batik Made in Kudus</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/07/ada-juga-lho-batik-made-in-kudus/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/07/ada-juga-lho-batik-made-in-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 07:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Batik Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Kudus Kota Kretek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Kudus sebagai ‘kota kretek’ di mana salah satu bahan baku rokok adalah tembakau, maka untuk mengidentifikasi batik Kudus, dibuatlah batik dengan motif daun tembakau. Begitu juga dengan batik yang bermotif alat pelinting rokok dan batik dengan motif rokok kretek itu sendiri. Ada juga batik dengan motif prajoto, yaitu batik dengan motif buah parijoto yang melukiskan potensi khas Pegunungan Muria.<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/07/ada-juga-lho-batik-made-in-kudus/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=61&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ada Juga <em>Lho</em>, Batik <em>Made in</em> Kudus</strong></p>
<p>Awalnya saya tidak mengira bahwa kerajinan batik yang merupakan warisan budaya Indonesia dan kini diakui dunia itu, ternyata diproduksi juga oleh warga Kudus dan sekitarnya. Selama ini, <em>s</em>aya hanya mengenal batik diproduksi di kota-kota yang sudah tidak asing lagi. Seperti Jogjakarta, Solo dan Pekalongan. Ups..! Ternyata saya salah. Kota Kudus yang selama ini dikenal dengan ‘kota kretek’, &#8211; yang kata orang, kota penghasil racun berbahaya– itu juga memiliki ketrampilan membatik.</p>
<p>Sebagai seorang yang lahir dan dibesarkan di Kudus saya semakin penasaran dengan buah karya batik made in Kudus itu. Seperti apa sih hasilnya. Ciri-ciri apa yang membedakan antara batik hasil racikan tangan trampil cah Kudus dengan hasil batik produk kota-kota besar yang sudah terkenal itu?</p>
<p>Sekali waktu saya diajak istri saya mendatangi sebuah rumah di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus. Saya kaget dan tidak mengira bahwa di desa yang lokasinya tidak lebih dari 5 KM dari rumah saya ternyata ada pengrajin batik yang sudah terkenal. Banyak tokoh dan artis nasional yang sudah pernah mengunjungi rumah itu untuk membeli batik buatannya. – ini terlihat dari foto-foto pemilik dengan para pembeli yang ditempelkan di dinding rumahnya–. Menurut pengakuan pemiliknya, beberapa stasiun tv nasional juga sudah pernah menayangkan batik miliknya. Duh, ternyata saya ketinggalan kereta. Mungkin kalau saya tidak diajak istri ke sana, selamanya tidak akan pernah tahu bahwa di desa itu ada pengrajin batik yang sudah terkenal.</p>
<p>Yang lebih membuat saya semakin kaget, harga kain batik tulis asli Kudus lumayan mahal. Untuk motif sederhana, satu potong baju laki-laki sekitar 250 &#8211; 350 ribu. Sedangkan untuk motif sedang, berkisar antara 500-650 ribu. Dan yang paling halus kualitas super, harganya bisa sampai 800 ribu sampai 1juta. Wow… dahsyat.. bukan main.</p>
<p>Dalam hati saya, lha wong batik buatan Kudus –yang tidak begitu terkenal kok harganya semahal itu. Akhirnya rasa penasaran saya semakin mengusik. Mencoba menanyakan kepada si pembuat batik. Kata dia, sebetulnya batik di pesisir Jawa sudah ada sejak lama. Motif-motif batik pesisir Jawa sebagian besar motif klasik yaitu perpaduan batik tiga negeri majapahitan dan perpaduan Jawa-Islam-China.</p>
<p>Nah, sejak batik diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia, motif-motif batik pesisir semakin berkembang motif-motif lokal. Para perajin batik menggali dan mengembangkan motif batik berdasarkan potensi, kearifan, legenda dan filosofi lokal.</p>
<p>Kudus sebagai ‘kota kretek’ di mana salah satu bahan baku rokok adalah tembakau, maka untuk mengidentifikasi batik Kudus, dibuatlah batik dengan motif daun tembakau. Begitu juga dengan batik yang bermotif alat pelinting rokok dan batik dengan motif rokok kretek itu sendiri. Ada juga batik dengan motif prajoto, yaitu batik dengan motif buah parijoto yang melukiskan potensi khas Pegunungan Muria.</p>
<p>Ada juga motif batik bulusan. Motif ini diangkat dari legenda bulusan. Motif itu berupa lima fragmen gambar yang membentuk alur kisah terjadinya tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo Kudus.</p>
<p>Hmm…ternyata motif batik Kudus sangat unik. Motifnya multikultur karena merupakan produk daerah yang kenta budaya Jawa, Islam dan China. Selain mengadopsi budaya China, batik Kudus juga dipengaruhi budaya Islam dengan motif huruf-huruf Arab atau kaligrafi. Motif itu dapat dikembangkan lagi melalui penggalan-penggalan kreatif para perajin,baik untuk memenuhi kebutuhan pasar batik maupun pelestarian budaya lokal.</p>
<p>Meskipun harganya mahal, karena saya merasa cinta dengan pelestarian budaya lokal apalagi trend pakaian batik sedang in, mahal sedikit tidak masalah, yang penting merasa pede ketika memakai hasil produk lokal buatan tangan ‘tetangga’ sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=61&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/07/ada-juga-lho-batik-made-in-kudus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengamen Cilik vs Peminta Sumbangan</title>
		<link>http://nooraflah.wordpress.com/2011/08/16/pengamen-cilik-vs-peminta-sumbangan/</link>
		<comments>http://nooraflah.wordpress.com/2011/08/16/pengamen-cilik-vs-peminta-sumbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 09:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nooraflah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[anak jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[peminta sumbangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengamen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nooraflah.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Pengamen Cilik VS Peminta Sumbangan Kangen sekali rasanya saya menikmati suasana bus kota di Jakarta. Karenanya, hari itu saya berniat &#8230;<p><a href="http://nooraflah.wordpress.com/2011/08/16/pengamen-cilik-vs-peminta-sumbangan/">Continue reading &#187;</a></p><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=44&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengamen Cilik VS Peminta Sumbangan</strong></p>
<p>Kangen sekali rasanya saya menikmati suasana bus kota di Jakarta. Karenanya, hari itu saya berniat mengandangkan kuda besi tua saya sejenak dan memberinya cuti sementara. Maklum umurnya sudah tua (seumur anak kelas 3 SMA). Sekaligus saya ingin mengenang enam tahun silam saat saya berebut kursi, berdesak bersikutan, bergelantungan dan menghirup ‘aroma parfum’ di bus kota yang serbaneka. Serta kangen rasanya mendengarkan ocehan, lantunan dan syair lagu serta puisi anak jalanan yang lalu lalang serta naik turun silih berganti di bus kota.</p>
<p>Hari itu, saya berangkat pukul 05.50. Waktu yang sangat pagi dan amat jarang saya jalani sebelumnya. Paling-paling dua atau tiga kali setahun. Saat ada acara mendesak. Sembari berniat mengejar waktu agar bisa sampai kantor jam 7.00. Atau paling lambat 7.30. Karena saya sudah komitmen dengan teman-teman kantor bahwa bulan Ramadhan ini jam kantor berubah menjadi 07.30 s.d 16.30.</p>
<p>Tak lama kemudian, datang bus Damri P21 Ciputat &#8211; Blok M. Awalnya ragu untuk naik. Tapi akhirnya kuputuskan untuk naik daripada nunggu Patas 57 Ciputat – Gajah Mada yang belum tentu setengah jam lagi muncul. Bus yang mirip onggokan besi tua ini ternyata masih menjadi pilihan favorit penumpang dari Ciputat. Terbukti begitu bergerak dari arah Pasar Ciputat yang sekarang sudah ‘bersolek’ (karena <em>fly over</em>-nya sudah mulai digunakan) bus Damri ini sudah penuh penumpang. Banyak yang sudah berdiri bergelantungan. Sampai bus-nya miring ke kiri. Ya, tak apalah. Kalau yang lain saja pada mau naik, kenapa saya tidak. Toh mereka dan saya juga sama-sama punya niat agar tidak telat masuk kantor. Apalagi begitu sampai di Blok M langsung dijemput Bus Way, hmm..sepertinya suasana di dalam Damri ini hilang oleh suasa penumpang Bus Way yang bening dan kelimis-kelimis&#8230;(bukan kelihatan miskin, lho&#8230;.)</p>
<p>Bus berjalan melenggok. Sesekali bunyi <em>kriet&#8230;kriet&#8230;</em>terdengar dari kopling yang dipaksakan pak sopir. Memasuki titik-titik kemacetan, knalpot bus mulai memuntahkan asapnya yang hitam pekat. Di dalam bus, saya teringat saat naik motor tepat berada di belakang cerobong knalpot bis ini. Saya sering mengumpat karena aroma knalpotnya yang hitam pekat selalu menelusup ruang kosong badan saya sampai baju yang paling dalam. Tak pelak meskipun pakai jaket tebal, tetapi tetap saja begitu sampai kantor, jaket dibuka, wush&#8230;.aroma knalpot yang tersimpan di lekukan baju dan badan saya langsung menyembul keluar. <strong><em>Ughh..!</em></strong> nikmat&#8230;.</p>
<p>Dititik-titik kemacetan seperti inilah tempat para pengamen cilik dan peminta sumbangan melalukan aksinya. Termasuk para peminta-minta. Saya melilhat dari arah belakang, naik pengamen sekitar umur 8 tahun. Mungkin karena badannya kecil, sehingga tidak terlihat oleh teman seprofesinya di luar. Kemudian dari pintu depan naik juga peminta sumbangan yang membawa kotak amal. Sebelum naik dia sudah melihat ke dalam bus sambil mengamati apakah ada teman seprofesinya ataukah tidak. Dia tidak tahu kalau dari belakang sudah ada teman seprofesinya yang sudah naik duluan.</p>
<p>Mulailah si pengemen ini menyapa penumpang dengan salam pembuka. Sementara peminta sumbangan yang berdiri di bagian depan, kaget dan terbelalak ketika mendengar salam pembuka dari pengamen yang cukup melengking dari arah tengah bus. Sorot mata peminta sumbangan menatap tajam si anak. Sepertinya memberi isyarat agar lagunya dipercepat sehingga dia juga mendapat giliran menyalami penumpang. Tetapi karena pandangan si anak tertuju ke luar bus menjadikan dia tidak tahu bahwa di bagian depan ada sorot mata tajam yang sepertinya meminta untuk mempercepat aksinya.</p>
<p>Lagu pertama cukup enak dinikmati. Diiringi kecrek tutup botol ditangannya menambah sedikit berbeda daripada hanya vokal saja. Saya sendiri yang berdiri tepat di hadapan si anak merasa senang mendengar lagu yang dinyanyikan itu. Suaranya merdu dan liriknya juga hafal. Dalam benak saya berfikir, wah&#8230;jangan-jangan si anak ini terobsesi oleh Aries pemenang Indonesian Idol 2008. Kepiawaian Aries mampu menyihir Titi DJ saat audisi pertama melalui lagu yang dibawakan Aries (saya lupa judul dan penyanyi aslinya. Karena meskipun saya suka lagu tapi tidak minat untuk menghafal siapa penyanyi dan judulnya, pokoknya reff-nya begini&#8230;dapatkah aku memeluknya, jadikan bintang di surga&#8230;). Lima kali menjadi juri di Indonesian Idol, Areis-lah satu-satunya orang yang mampu membuat Titi DJ merinding dan menangis saat menyeleksi para audisi. Dan akhirnya melalui lagu yang dibawakan itu, Aries, sang pengamen jalalan, menjadi pemenang Indonesia Idol 2008. Dalam benak saya, mungkin si anak ini punya obsesi seperti Aries. Menjadi orang hebat yang dirintis dari jalanan. Sehingga ia memilih lagu itu sebagai lagu pilihan utama ketika berada di dalam bus kota.</p>
<p>Lagu pertama selesai saya sudah siap-siap dengan recehan yang tersedia di kantong tas saya. Ternyata, pengamen ini meneruskan lagu keduanya. Sambil kembali menyapa penumpang dia membawakan lagu keduanya dengan lirik yang juga terkenal. (tapi lagi-lagi saya tidak tahu penyanyi dan judulnya. Yang pasti saya suka lagu itu). Saat pengamen ini menoleh ke arah depan dia baru sadar kalau di depan ada dua mata yang menyorot tajam ke arahnya. Tapi dia malah cuek. Sementara si peminta sumbangan justru semakin geram dengan lagu kedua yang dibawakan si anak ini. Seakan-akan peminta sumbangan ini mau berbuat sesuatu untuk segera menyudahi nyanyian si anak. Saya mengamati gerak geriknya dengan serius.</p>
<p>Secara bahasa tubuh, jelas-jelas ia ingin bertindak secara fisik. Karena dari tadi saya amati kotak amal yang ada ditangannya mulai dipukul-pukulkan ke arah paha dia. Wajahnya juga tegang memerah. Dan dia tidak mau turun dari bus meskipun di dalamnya sudah ada teman seprofesinya. Padahal lazimnya, jika di dalam bus sudah ada teman seprofesinya, biasanya salah satunya mengalah dan turun mencari bus lain yang tidak ada temannya.</p>
<p>Sementara pengamen cilik tadi menikmati lagu yang dia nyanyikan sendiri. Sepertinya, meskipun secara fisik anak ini jauh lebih kecil dibandingkan peminta sumbangan tadi, tapi mental jalanannya tak mau kalah. Semakin dia diplototi oleh peminta sumbangan justru membuat keberanian dia semakin kuat. Si anak melanjutkan lagu ketiganya. Saya sendiri juga terhenyak. Lho! Berani amat ini anak.</p>
<p>Begitu si peminta sumbangan mendengar si anak melanjutkan aksinya, tak lama kemudian dia mulai beringsut ke tengah. Prediksi saya mulai terbukti. Kalau pun dia mau turun, kenapa tidak melalui pintu depan saja. Toh lebih dekat. Kenapa ia memilih lewat belakang. Wah, pasti ada yang tidak beres ini, begitu gerutu saya..</p>
<p>Setelah dia berhasil melewati penumpang berdiri yang berjejal-jejal, akhirnya sampailah ia dekat dengan si anak. Sedangkan si anak tampak cuek tak menghiraukannya. Tiba-tiba tanpa sepatah katapun kotak amal yang dipegang tadi melayang ke arah tubuh si anak. <em><strong>Prak..!!..</strong></em></p>
<p>Ha&#8230;!! saya tercengang. Si anak tak mengaduh. Dia hanya membalas dengan ejekan. Wue..!! Si pembawa kotak amal membalas lagi dengan mengacungkan kotak amalnya, tapi kali kedua ini tidak sampai dipukulkan si anak. Lagu ketiga yang dinyanyikan sempat terhenti. Para penumpangpun tak ada yang berbuat banyak atas kejadian itu. Pukulan ini justru membuat iba penumpang, di samping suaranya memang layak untuk diberi apresiasi. Akhirnya, begitu selesai lagu ketiga, mulailah senjata bungkus permen dikeluarkan. Dia menyusur dari satu kursi ke kursi lain. Begitu sampai di depan saya, saya melihat uang ribuan cukup memenuhi kantong senjatanya. Meskipun saya sendiri tidak memasukan yang ribuan, tapi minimal cukuplah kalau untuk beli satu buah gorengan.</p>
<p>Ternyata bus kota yang selama ini saya tinggalkan masih menyimpan banyak pelajaran hidup bagi saya dan mungkin penumpang lain di bus kota. Termasuk pelajaran yang saya dapatkan dari kedua ’pencari rizki’ di jalanan tadi. Bahwa berebut lahan rizki untuk mencari sesuap nasi terjadi di semua tempat. Saling sikut, saling tendang kalau perlu saling bunuh, terkadang menjadi pilihan bagi mereka yang tidak menyadari hakikat kehidupan dan cara mencari rizki yang baik dan halal di mata Allah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nooraflah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nooraflah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nooraflah.wordpress.com&amp;blog=3997823&amp;post=44&amp;subd=nooraflah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nooraflah.wordpress.com/2011/08/16/pengamen-cilik-vs-peminta-sumbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/29ece5ecf5c225bbfd1fc291ad09a872?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nooraflah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
