Tag

, ,

Cerita Bulusan Saat Kupatan

Membaca tulisan di Kompas Rabu 7/12 tentang ‘Kisah Bulus Sunan Muria..’ saya tertarik untuk menulis ulang di blog saya ini. Sebab tulisan bagus yang tidak terdokumentasikan dan tidak dibaca ulang pasti akan lupa bahkan hilang begitu saja. Tentunya sayang, dong. Apalagi tulisan itu memuat kisah menarik yang terjadi di sekitar kota tempat kelahiran saya, Kudus. Hmm.. pasti suatu saat berguna untuk bahan cerita anak cucu saya dan siapa saja yang ingin mengetahuinya.

Ya, cerita tentang tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Sebuah tradisi keramaian di musim kupatan (lebaran Idul Fitri ke-8) yang sudah turun temurun dari dulu hingga sekarang.

Mungkin tak banyak orang yang tahu bagaimana sejarah dan asal-usul tradisi Bulusan.  Sedikit sekali bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengisahkan ulang bagaimana sejarah Bulusan. Padahal setiap musim kupatan tiba, ribuan orang berkunjung ke tempat tersebut. Termasuk saya dan keluarga beberapa tahun yang lalu.

Bagaimana asal-usul tradisi Bulusan? Cerita Bulusan mengisahkan tentang Mbah Dudo, seorang alim ulama penyebar agama Islam di Kudus. Dia mempunyai murid bernama Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam, Mbah Dudo berniat mendirikan pesantren di kaki Pegunungan Muria.

Pada Bulan Ramadhan, tepatnya pada waktu malam Nuzulul Quran, Sunan Muria datang untuk bersilaturrahim dan membaca Al Quran bersama Mbah Dudo, sahabatnya. Dalam perjalanannya, Sunan Muria melihat Umara dan Umari sedang ndaut atau mengambil (dengan cara mencabuti) bibit padi di sawah pada malam hari.

Sunan Muria berhenti sejenak dan berkata kepada mereka berdua, “Lho, malam Nuzulul Quran kok tidak baca Al Quran, malah di sawah berendam di air seperti bulus saja!”. Akibat perkataan itu, Umara dan Umari seketika menjadi bulus (kura-kura air tawar).

Tak lama kemudian, Mbah Dudo datang meminta maaf atas kesalahan kedua santrinya kepada Sunan Muria. Namun nasi sudah menjadi bubur, Umara dan Umari sudah menjadi bulus dan tidak mungkin dapat kembali lagi berubah menjadi manusia.

Akhirnya, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluar mata air atau sumber, sehingga diberilah nama tempat itu dengan nama Dukuh Sumber. Kemudian tongkatnya berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon tombo ati (obat hati).

Sambil meninggalkan tempat itu, Sunan Muria berkata, “Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap seminggu setelah hari raya bulan Syawal. Tepatnya pada saat Bodo Kupat, alias Kupatan.

Hmm..sebuah cerita yang, mungkin saja benar atau mungkin tidak semuanya benar. Namun yang pasti sampai sekarang, setiap musim kupatan tiba, keramaian di Dukuh Sumber tak pernah berhenti.

Membaca tulisan di Kompas itu, saya kemudian penasaran. Berencana untuk berkunjung ke sana kali kedua. Sembari mencari tahu lebih jauh lagi cerita ini kepada orang-orang yang bisa dipercaya di sekitar Dukuh Sumber. Terutama mencari tahu di mana pohon tombo ati itu berada. Apakah masih ada atau hanya sekedar cerita. Jika masih ada, akan saya ceritakan kepada Indonesia, agar mereka bisa mendapati pohon itu sebagai obat. Obat bagi seluruh hati masyarakat Indonesia yang kini (kata orang) ‘sedang sakit’.