Pembangkit Semangat Jiwa

Kobarkan Semangatmu Menyongsong Hari Depan Yang Lebih Indah

Potensi Diri

Ditulis oleh nooraflah di/pada Februari 8, 2010

Potensi Diri

Pada zaman dulu, banyak sekali kelompok pemuda di kampung-kampung yang sehari-harinya hanya berkumpul dan bergerombol. Main bareng, makan bareng, tidur pun tidak mau berpisah. Padahal, pemuda tersebut bukan tidak pernah mengenyam pendidikan, hampir seluruhnya berpendidikan. Bahkan separuh di antaranya lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Kecerdasan yang mereka miliki juga di atas rata-rata. Namun setiap kali di antara mereka ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, orang tua mereka selalu melarang dan berkata. “Apa yang kalian pelajari di bangku SMA sudah cukup. Kalian tidak perlu kuliah. Dan sebaiknya membantu menggembala kerbau dan kambing bapakmu ini.”

Kondisi di atas sangat disayangkan. Apalagi dilihat dari potensi yang dimiliki sebagian pemuda tadi punya peluang untuk dikembangkan. Bakat-bakat terpendam dalam diri pemuda bisa menjadi mati jika hanya dibatasi dengan menggembala kambing. Lebih mengkhawatirkan lagi, bila dari tahun ke tahun pemuda itu hanya berteman dengan kambing dan tidak jauh dari rutinitas mencari rumput, maka bagaimana dengan nasib mereka ke depannya nanti. Apalagi mereka harus melewati jenjang dewasa dan harus berkeluarga. Apakah dia akan tetap menggantungkan nasibnya dengan menggembala kambing? Lebih berbahaya lagi jika mereka pun akan menyikapi model pendidikan anak-anaknya kelak sebagaimana sikap bapaknya dahulu. Dan bila hal ini terjadi, adalah tidak mustahil bila akhirnya sebuah keluarga akan menciptakan keturunan yang memberangkus potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki dalam keluarga tersebut.

Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dibekali potensi diri, bakat, kemampuan dan keahlian yang bermacam-macam. Mereka bisa melakukan apa saja dari semua itu dan kelak bisa meraih sukses seperti yang dicita-citakan. Tentu dengan syarat mau belajar dengan tekun, mau mempraktekkan berbagai keahlian yang dibutuhkan, konsisten dan tidak kenal putus asa.

Banyak contoh orang yang sukses yang mengajak kita untuk terus meniru, mencari dan mempelajari berbagai kecakapan diri hingga kita menemukan sebuah potensi besar yang ada dalam diri kita. Potensi terpendam itu jika secara terus menerus kita gali dan kita asah, maka akan semakin banyak pula keahlian-keahlian dan kehebatan-kehebatan yang tanpa kita sadari bahwa potensi itu ternyata ada pada diri kita.

Ada kalanya potensi, bakat, keahlian dan kecakapan yang dimiliki memang sudah disadari sendiri keberadannya oleh si pemilik. Akan tetapi, terkadang seseorang baru mengetahui kemampuan-kemampuan itu setelah orang lain, bisa jadi gurunya, temannya, atau saudara kita, orang dekat kita mengungkapkannya. Tapi yang lebih penting daripada itu adalah jangan sampai lelah menggali potensi dan kemampuan yang ada pada diri kita. Teruslah diasah, diolah dan dikembangkan.

Sederet bidang masih terpendam secara misterius dalam diri kita. Ada potensi menjadi juru dakwah, pebisnis, arsitek, dokter, politikus, ahli manajemen, desainer, pendidik, penulis dan ahli-ahli lainnya.

Ibarat sebuah bumi, Allah menciptakan manusia dengan segala potensi pertambangan yang ada di dalamya. Ada tambang emas, batu bara, minyak, biji besi, timah, tembaga dan sebagainya. Seperti pepatah Arab yang menyebutkan ‘Manusia itu Ibarat Tambang’.

Oleh karena itu, sedini mungkin, sedari awal jangan lelah dalam mengolah dan menggali tambang terpendam dan kemampuan yang ada pada jiwa kita. Teruslah mempelajari keahlian-keahlian tertentu, lalu terapkan dan praktekkan. Insya Allah kita akan meraih puncak kesuksesan. naflah

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Jujur

Ditulis oleh nooraflah di/pada Februari 8, 2010

Jujur

Suatu siang, sepulang anak saya dari sekolah, saya dihampiri oleh Faidun, putra pertama saya (7 tahun), sambil menunjukkan satu buah jambu air yang ujungnya sedikit bonyok. Warna jambu tersebut merah muda. Cukup menggoda anak untuk segera menyantapnya. Dengan diusap-usap bagian yang sedikit bonyok karena terkena tanah, ia menawari saya. Kata dia rasanya manis dan segar. Dia bilang sudah mencicipi satu buah sebelumnya

Melihat buah jambu yang agak asing di lingkungan kami –karena di sekeliling rumah tidak ada pohon jambu yang sedang berbuah, maka saya segera menanyakan tentang asal muasal jambu tersebut. Dengan sedikit terkejut atas pertanyaan saya, ia menjawab bahwa jambu tersebut ia dapatkan di bawah pohon jambu milik tetangga yang agak jauh dari rumah.

Kemudian saya tanya kembali apakah ia diberi atau sudah meminta izin sama yang punya. Pertanyaan kedua ini menjadikan anak saya tambah gugup dan salah tingkah. Dengan agak terpaksa akhirnya dia mengaku dan jujur bahwa anak saya memang sekadar mengambil buah jambu di bawah pohonnya dan belum minta izin sama pemiliknya.

Setiap anak, mempunyai kesempatan seperti Faidun untuk berkata jujur. Juga punya potensi untuk berbohong, jika kita membiarkan dia tanpa rasa ingin tahu untuk menanyakan asal usul jambu tersebut. Saat ia menghadapi moment kritis seperti itu, terutama di masa usia emas (golden age), 7 tahun, kita harus membimbing dan mengarahkannya agar si anak berkata jujur dan tidak berbohong, sekalipun untuk hal-hal yang remeh temeh.

Membimbing anak agar tidak berbohong memang perlu dilakukan sejak dini. Agar ia mengetahui mana perilaku yang benar dan mana prilaku yang salah. Jika seorang anak tidak diarahkan untuk berkata jujur pada setiap tindakan yang ia lakukan maka membuat anak tersebut menjadi terbiasa. Sekali dua kali ia ’selamat’ dengan ketidakjujurannya itu, maka pada kesempatan lainnya ia akan mengulangi lagi. Begitu seterusnya hingga ia tumbuh dan menjadi dewasa.

Sikap ini perlu diwaspadai sejak dini. Karena dapat mengancam keberlangsungan hidup di masa-masa yang akan datang. Sebab jika kita lihat orang-orang yang meraih kesuksesan dan keberhasilan, hampir semuanya dibangun berdasarkan atas kejujuran. Tak ada seorang pun yang bisa mengembangkan diri dan karirnya dengan bermodalkan kebohongan. Belum pernah ada cerita, seorang pengusaha sukses dibangun dengan transaksi bisnis yang penuh dusta dan sengaja menyembunyikan cacat atas barang-barang yang diperjual belikan. Hampir semua kesuksesan itu diraih dengan kejujuran. Mengatakan apa adanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Menunjukkan mana yang jelek dan mana yang baik.

Dalam diri kita ada potensi untuk berbohong dan berkata jujur. Satu dengan yang lainnya bisa saling mendominasi. Tinggal bagaimana kita dapat mengarahkan kedua potensi itu menjadi energi yang berarti. Jika potensi bohong lebih dominan menguasai maka kejujuran kita akan kalah. Kita pun menjadi lemah tak berdaya. Pintu relasi akan terkunci. Teman pun menjauhi. Tidak bisa mengembangkan diri di segala bidang. Rizki pun akan lari. Karena berbohong menjadikan kita lemah. Seperti peribahasa alkadzibu ’ajzun. naflah

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Mavia Minyak Tanah

Ditulis oleh nooraflah di/pada Desember 15, 2008

‘Mavia’ Minyak Tanah

Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang sekarang berjalan di Jakarta ternyata membuat sebagian orang menjadi ‘pintar’. Pintar memanfaatkan kesempatan untuk membisniskannya demi meraup keuntungan yang berlipat-lipat.

Apa pasal ? Pasca konversi ke gas elpiji, ternyata minyak tanah tidak serta merta menghilang dari Jakarta. Tengok saja di jalan dan gang-gang masuk perkampungan di Jakarta, pasti pernah kita temui penjual minyak tanah keliling. Mereka tidak beralih menjual gas, seperti yang ada di iklan, tapi tetap keliling menjual minyak tanah. Hanya saja jumlah penjualnya tidak sebanyak dulu.

Begitu juga pangkalan minyak tanah. Pangkalan yang dulu ramai, tidak langsung mati pasca konversi. Beberapa pangkalan yang sering saya lewati, ternyata masih menggeliat beroperasi, meskipun secara sembunyi-sembunyi.

Saat melihat satu, dua, penjual minyak keliling lalu timbul pertanyaan, ”lho kok masih ada orang jual minyak tanah keliling, katanya sudah konversi ke gas elpiji,” tanyaku dalam hati. Dulu, tetangga saya sebelum pindah ke gas, katanya harus mencari minyak ke tempat yang cukup jauh. Itupun harganya mencapai 10 ribu. Tapi, ah, masa bodoh, toh saya pribadi belum membutuhkan kedua bahan bakar itu saat ini.

Ee.. lama-lama kelamaan, di saat musim hujan tiba, muncul keinginan membeli minyak tanah untuk memasak air buat mandi usai kehujanan. Yah, maklum tidak punya kompor gas. Yang ada di kost, cuma kompor bikinan Bang Benih pengrajin asal Depok.

Iseng-iseng coba tanya ke tetangga di mana penjual minyak tanah, ee malah ditertawakan. Ealah nasib..’bukannya tidak mau membeli kompor gas, mpok.. tapi takut meleduk seperti yang di tipi itu..’ jawabku kepada mpok-mpok yang tadi menertawakan saya. Lagian kalau pakai kompor gas semua, terus siapa dong yang beli kompornya Bang Sabenih pengrajin asal Depok, itu..!?

Naluri ’pencari beritaku’ muncul. Kebetulan tiap berangkat kerja, saya sering mampir nyarap di warteg yang letaknya tak jauh dari –bekas– pangkalan minyak tanah. Di pangkalan ini, nyaris tak terlihat ada aktifitas jualan minyak. Sepi dan berubah jadi tempat mangkal tukang sayur. Tiap hari nangkring di situ juga tak pernah lihat tukang minyak keliling menata dagangannya. Drum-drum minyak sudah dibersihkan. Papan nama sudah diturunkan.

Eit..ternyata saya tertipu. ’Pak Tua’ tukang warteg langsung nyerocos cerita ketika saya tanya, kenapa pangkalan ini tidak jualan minyak lagi. Dia langsung cas cis cus membeberkan bisnis minyak terselubung di pangkalan ini.

“Lha.. piye to mas..mas..di dalam rumah pangkalan itu masih banyak minyak tanah. Ya kalau dari luar tidak kelihatan,” ungkap Pak Tua polos. Dia cerita, minyak tanah yang dijual di pangkalan itu diambil dari kampung. Tepatnya dari suatu daerah di Jawa Tengah. Seminggu tiga kali sedikitnya 300 liter habis dijual di Jakarta. Minyak ini diambil dari kampung dengan harga Rp 3500 dan dijual di Jakarta dengan harga antara Rp 9500 – 10.000. Wuih…..!!!

Untuk membungkus jejak transportasi dari kampung, minyak tersebut dibawa pakai travel. Dimasukkan jerigen bekas minyak goreng yang masih ada merknya. “Tuh..lihat saja masih ada mobil dengan plat nomor daerah yang masih parkir di situ. Lha, mobil itulah yang mengangkut minyak,” beber Pak Tua sambil menunjuk mobil APV warna hijau tua yang sedang parkir di situ.

Ck..ck…ck…
Hebat…! hebat…!
Coba dihitung, jika seminggu tiga kali jual minyak dengan keuntungan 6500/liter, keuntungan yang didapat minimal 2.5jt/minggu. Edan..po ora..! Pantesan pasokan minyak di kampung juga ikut kacau. Antre minyak terjadi di mana-mana, meski bukan daerah konversi. Lha kalau satu pangkalan seminggu sekali mengambil 300 liter minyak dari kampung dibawa ke Jakarta, kalau ada 50 pangkalan di Jakarta…lak yo habis to jatah minyak buat masyarakat di kampung. Oalah, gemblung tenan..!!

Begitu sadisnya ‘mavia minyak tanah’ mencari uang dengan cara seperti itu. Meskipun secara transaksi bisnis mencari untung adalah hak dalam jual beli, tapi jika kemudian membuat sengsara orang lain yang mestinya lebih berhak (orang kampung), saya yakin agama pasti melarang. Juga masuk kategori kriminal.

Ayo..! Siapa berani mengungkap jaringan mavia minyak tanah ini dan melaporkan polisi..!

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | Leave a Comment »

Filosofi Manggis dan Delima

Ditulis oleh nooraflah di/pada Desember 15, 2008

Filosofi Manggis dan Delima

Buah manggis dan delima tentu tidak asing bagi kita. Di antara kita pasti pernah menyantapnya. Buah manggis rasanya manis. Begitu juga buah delima. Hanya bedanya kalau buah manggis, manisnya legit sedangkan delima manis biasa. Tapi kalau belum matang betul, buah delima kadang rasanya asem banget.

Sebetulnya tidak ada hubungan apa-apa di antara kedua buah tersebut. Hanya saja kebetulan manggis dan delima dijadikan sebagai simbol pesan moral oleh sebuah kerajaan Islam di Jawa Tengah. Inilah yang mendorong saya untuk kemudian mendokumentasikan di dalam tulisan.

Kebetulan saya senang dengan makna filosofis yang terkandung di balik penciptaan sesuatu baik itu makanan, buah-buahan dan ciptaan Allah lainnya. Apalagi di balik makna filosofi itu terdapat pesan moral yang sangat agung. Wah, rasanya senang sekali saya mengulang-ulang dan memikirkannya sebagai upaya tafakkur akan ciptaan Allah. Kan, Allah menjanjikan pahala satu tahun bagi orang yang mau bertafakkur atas ciptaan-Nya selama beberapa saat. Itung-itung beribadah..

Mungkin sewaktu kuliah dulu saya terlalu banyak membaca buku-buku filsafat hingga akhirnya sampai sekarang masih terbawa. Yah, tak apalah. Yang penting tidak sampai menjadi orang yang berfilsafat an sich. Dan tidak sampai terjerumus pada ajaran darmo gandul seperti yang sering dilontarkan kakak saya setiap kali saya membaca buku filsafat. ”Awas lho, kalau kamu terlalu banyak membaca buku filsafat, bisa-bisa kamu tidak solat, tidak puasa, tidak mau menjalankan ajaran agama dan terjerumus pada ajaran darmo gandul,” ujar kakakku menakut-nakuti. ”Ah, ada-ada saja.Yang penting nilaiku A setiap mata kuliah filsafat,” jawabku sambil membela..

Terus terang kita jarang sekali mau memikirkan makna filosofi ciptaan Allah berupa buah-buahan. Begitu juga saat makan manggis atau delima. Melihat ada manggis di atas meja biasanya langsung saja disambar. Ditekan ujung atas dan bawahnya pakai jari, kemudian terbelah dan terlihat dalamnya. Srep.. masuk ke mulut.

Lucunya kadang malah menggerutu. Lho, isinya kok cuma dua biji. Sudah begitu yang satu lagi ukurannya lebih kecil. Padahal kalau sejenak sebelum kita makan mau memperhatikan sebentar saja, maka kita tidak akan menggerutu seperti itu. Kenapa ? Karena jumlah isi manggis sudah ditunjukkan dengan jumlah kulit yang nempel di bagian bawah (mirip pupil). Jika jumlahnya dua, pasti isi manggis jumlahnya juga dua. Dan tidak akan pernah selisih. Apalagi berbeda. Ini artinya pesan sebuah konsistensi. Konsisten antara tindakan dan ucapan. Isi hati dengan perbuatan tidak boleh berbeda. Itulah pesan agama.

Lain daripada itu, buah manggis adalah contoh dari pesan sebuah hadits. Bahwa Allah tidak akan melihat bentuk fisik seseorang. Tapi Allah akan melihat hati dan amal baik seseorang. Biarpun rupanya jelek, kulitnya hitam, yang penting hatinya bersih (dan tentunya manis rasanya, seperti manggis)

Delima. Siapa yang memberi nama delima ? Pasti tidak ada yang bisa menjawab. Paling-paling bilang kalau yang memberi nama delima adalah nenek moyang kita dulu. Benar. Nenek moyang kita lah yang memberi nama delima. Nenek moyang kita dulu adalah orang-orang alim dan sholeh dan pandai ilmu agama. Mereka memberi nama delima agar kita tetap mengingat akan keesaan Allah.

Lho, kenapa bisa begitu. Sebab di dalam buah delima terdapat pesan tauhid yang cukup mendalam. Delima, berasal dari kata ’dal’ (huruf hijaiyah yang ke delapan – silakan hitung barangkali saya salah) dan ’lima’. Artinya, huruf dal yang jumlahnya ada lima. Surat apa yang jumlah huruf dal-nya ada lima. Yaitu surat Al Ikhlas. Orang kampung saya sering menyebutnya surat Qul hu. Di dalam surat ini ada lima huruf dal. Coba dihitung lagi jika kurang yakin.

Semua amal ibadah yang kita jalankan sehari-hari muaranya adalah mengesakan Allah dan penghambaan kepada-Nya. Dan itu terkandung di dalam Surat ke-112 ini. Banyak sekali keutamaan Surat Ikhlas. Salah satunya adalah surat ini mampu menyamai pahala bacaan satu Alquran penuh sampai khatam. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang artinya ’membaca surat Ikhlas sebanyak tiga kali, sama seperti membaca Alquran sampai khatam’. Masing-masing huruf bernilai pahala tentunya.

Dari filosofi buah manggis dan delima ini, mendorong saya untuk terus mencari hikmah dan filosofi dari ciptakan Allah di muka bumi ini. Sembari niat beribadah.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Ingin Sehat, Kunyahlah Makanan Hingga Lembut

Ditulis oleh nooraflah di/pada November 25, 2008

Ingin Sehat, Kunyahlah Hingga Lembut..!

Perut kita ibarat waduk. Menampung semua makanan dan minuman yang masuk. Tak peduli manis, asem, asin atau bahkan pahit. Selama bisa melewati tenggorokan berarti akan ditampung di perut. Ini bisa berbahaya, karenanya harus hati-hati dengan urusan perut.

Tanpa diminta, dengan sendirinya, segala makanan yang masuk akan digiling oleh perut kita. Baik di saat tidur maupun jaga, pencernaan kita akan terus bekerja. Tahu-tahu sudah jadi energi penyuplai tenaga bagi tubuh kita.

Ibarat mesin, pencernaan akan terus bekerja. Selama nyawa masih di kandung badan, pencernaan tak pernah berhenti menggiling makanan di perut. Tak peduli yang lunak maupun yang keras, semua akan dilumat oleh pencernaan kita.

Tapi bagaimanapun juga, organ tubuh kita butuh istirahat. Butuh sejenak behenti dari ‘pekerjaan menggiling’, meskipun tidak berhenti total (karena selama masih hidup berarti masih terus menggiling). Ini dimaksudkan untuk relaksasi. Mesin saja butuh istirahat, apalagi organ tubuh kita (kecuali detak jantung, pemompa darah).

Karenanya bagi umat Islam diharuskan puasa. Ibadah puasa akan memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh kita. Oleh karenanya bagi yang bisa merasakan manfaat puasa bagi kesehatan, pasti akan semangat menjalankannya, meskipun puasa sunnah.

Bagi yang ‘males puasa’ ada tips lain yang juga bagus buat kesehatan kita. Yaitu, kunyahlah makanan Anda hingga lembut. Makanan yang dikunyah hingga lembut akan membantu proses penggilingan. Usus yang menggiling makanan akan terbantu dalam bekerja.

Rasulullah memerintahkan kita agar jangan tergesa-gesa menelan makanan. Kunyahlah terlebih dahulu hingga lembut. Paling tidak 33 kali kunyahan..(ha..). Upss..!! Jangan kaget dulu. Itu hitungan yang ideal. Kalaupun toh belum bisa sebanyak itu, minimal sudah mengunyah sampai lembut. Yang pasti setelah saya coba, kunyahan 5-10 kali itu belum lembut.

Ambil contoh begini, nasi yang kita kunyah 5-10 kunyahan, (maaf) coba kita keluarkan lagi. Tak perlu banyak-banyak. Cukup seujung lidah. Pasti buliran nasinya masih utuh. Itu artinya belum lembut. Lalu buanglah nasi yang dikeluarkan tadi dan teruskan mengunyah makanan yang ada di mulut hingga (terasa) lembut.

Ulangilah kebiasaan ini setiap Anda makan. Apa saja jenis makanannya. Terutama saat makan nasi. Rasakanlah manfaatnya bagi kesehatan perut. Perut Anda akan terasa ringan. Tidak ada rasa mengganjal di lambung mekipun saat kenyang. Bagi perut buncit (seperti saya) akan terasa biasa. Bahkan jika diniatkan untuk menjalankan sunnah rasul maka Anda dapat pahala. Bahkan dua pahala. Pahala makan untuk beribadah dan mengunyah makanan hingga lembut.

Selamat mencoba dan mendapatkan manfaatnya..! Waspada, ‘Perut adalah Sumber Segala Penyakit’, sabda Nabi

Ditulis dalam Kesehatan | Bertanda: | 3 Komentar »

Telanjur Mengeluarkan Zakat

Ditulis oleh nooraflah di/pada Juni 17, 2008

Lebih Baik Telanjur Mengeluarkan Zakat
daripada Telanjur Memakan Zakat

Beberapa tahun silam, seorang karyawati pegawai negeri golongan dua datang kepada seorang ustadzah. Ia menyampaikan maksud tujuannya untuk mengeluarkan zakat dari gaji yang diterima setiap bulan. Karena dalam keyakinannya dengan mengeluarkan zakat ia dapat menjalani hidup dengan jujur dan hati yang nyaman, tenteram, tanpa penyesalan dan tanpa kegelisahan.

“Apakah gaji wajib dikeluarkan zakatnya?” tanya dia kepada ustadzah itu. “Kenapa?” Jawab ustadzah kembali bertanya. “Apakah Anda akan mengeluarkan zakat atas gaji Anda?”. Dalam hati ustadzah bertanya, berapakah gaji pegawai golongan dua yang hanya tamat sekolah menengah ? Apa gerangan yang menyebabkannya ingin mengeluarkan zakat gajinya yang kecil itu ? Sedangkan, menurut pengakuannya, ia tidak memiliki penghasilan lain.

“Setiap menerima gaji terbanyang oleh saya orang tua saya yang hidup di kampung sebagai petani. Setiap kali panen, beliau selalu mengeluarkan zakatnya. Padahal orang tua saya tidak kaya. Sawahnya hanya beberapa petak saja. Hasilnya tidak cukup untuk dimakan sekeluarga sampai panen berikutnya. Tetapi itu dapat dicukupi dengan hasil palawija yang ditanam di antara musim panen satu dengan musim panen lainnya,” ungkap karyawan itu menceritakan keadaan keluarganya di kampung halaman.

“Berapa gajimu?” sang ustadzah kembali bertanya. “Gaji saya kurang dari lima ratus ribu (waktu itu). Akan tetapi bila gaji saya dibelikan padi, barangkali dalam waktu dua atau tiga bulan gaji telah dapat senishab. Padahal orang tua saya mulai dari turun ke sawah sampai panen, yang memakan waktu enam bulan barulah memperoleh senishab padi itu. Itulah yang menyebabkan saya merasa takut punya hutang jika tidak mengeluarkan zakat atas gaji yang saya terima tiap bulan,” ujarnya.

Ia berpendapat, lebih baik telanjur menunaikan zakat, daripada telanjur memakan zakat. Bila telanjur memakan atau tidak mengeluarkan zakat, bila kelak ternyata tergolong orang yang sudah wajib mengeluarkan zakat, tentu yang tidak dikeluarkan selama ini menjadi hutang. Jika terus menerus tidak dikeluarkan maka jumlahnya akan terus menumpuk. Bila akhirnya sanggup membayar, tentunya bersyukur. Tapi bila akhirnya tidak sanggup, ia berkeyakinan hutang tersebut akan ditagih Allah SWT di akhirat kelak.

”Kalau begitu, bila mau mengeluarkan zakat gaji, lakukanlah,” jawab ustadzah. ”Tidak perlu menunggu keputusan ulama tentang wajib atau tidaknya. Yang penting hatimu tenang. Dan mudah-mudahan Allah memberikan rezeki lebih banyak lagi,” ujar ustadzah sembari mendoakan karyawati tadi.

Setelah tiga tahun berselang, karyawati itu kembali datang kepada ustadzah. Ia bercerita selama tiga tahun itu kewajiban zakat atas gajinya sudah dikeluarkan secara rutin. Di samping katanya, sisa gajinya ia tabung. Ketika mencapai jumlah tertentu, tabungan itu dibelikan emas murni. Tidak berapa lama kemudian harga emas melonjak tinggi. Hampir dua kali lipat harga semula.

”Jika emas yang saya simpan itu dijual sekarang, harganya cukup untuk biaya naik haji tahun ini,” katanya. ”Jadi kamu mau naik haji?” tanya ustadzah keheranan. ”Ya, bu” jawabnya. ”Sudah lama saya berkeinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima itu. Mula-mula saya tidak yakin keinginan itu akan terpenuhi karena gaji saya tergolong kecil. Apalagi tidak ada yang membantu saya. Rupanya Allah mendengar do’a saya dan akhirnya dikabulkan,” ujar dia.

Teman-temannya, orang tuanya dan karib kerabatnya, terheran-heran mendengar ia akan berangkat ke Tanah Suci Makkah. Menunaikan ibadah haji dengan biaya sendiri, tidak ada orang yang menyumbang atau membantunya. Hanya Allah yang memberi jalan yang baik dan halal tanpa diperhitungkan.

Dalam hati ustadzah berkata, benar-benar si karyawati yang berusaha memenuhi kewajibannya kepada Allah, akhirnya diberi karunia tanpa diketahui dan diperhitungkannya, sehingga gajinya yang sedikit itu menjadi berkah. Cukup untuk kehidupan sederhana dan dapat pula disisakan untuk ditabung. Semua itu tentu berkat zakat yang dikeluarkannya. naflah

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »